Logika Kemandirian Santri

0
697

Oleh: Rosidi

‘’ … Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan’’ (QS. Al-Mujadalah Ayat: 11).

Baru-baru ini, tepatnya 22 Oktober lalu, umat Islam Indonesia, khususnya kaum santri, memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2017. Ada yang menarik dalam HSN kali ini, yakni terkait tema besar yang diangkat: Santri Mandiri NKRI Hebat!

Ada hal yang menarik untuk dicermati dari tema HSN 2017 ini. Pertama, Santri Mandiri. Ini menjadi cita-cita besar kalangan santri, khususnya kalangan nahdliyin, agar kemandirian –khususnya di bidang ekonomi- ini tidak menjadi sesuatu yang selesai di meja diskusi, namun harus diwujudkan.

Mewujudkan Santri Mandiri, dilihat dari tema HSN, nampaknya telah menjadi kesadaran, bahwa kemandirian menjadi salah satu kata kunci dalam membangun Nahdlatul Ulama (NU) dan bangsa. Tanpa kemandirian, ketergantunganlah yang akan terjadi.

Kedua, NKRI Hebat! Dalam konteks ke-Indonesia-an, apabila santri, khususnya dari warga NU -yang notabene NU adalah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia- sudah mandiri, maka dampak positif yang akan muncul, yaitu tampilnya negara ini menjadi negara yang kuat, negara yang Hebat!

Logika Kemandirian
Kemandirian, sebenarnya menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan dalam ajaran Islam. Logika kemandirian ini pun secara tegas dinyatakan, baik dalam al-Quran maupun hadits.

QS. Al-Mujadalah Ayat: 11 menegaskan, ‘’ … Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan’.

Ayat di atas jika dihayati secara mendalam, sangat terkait dengan logika kemandirian dalam Islam, dan santri, tentunya. Kata ‘’derajat’’ ini jika dirunut secara luas, maka bisa dikaitkan dengan kemandirian.

Namun ayat ini juga menggarisbawahi, bahwa kemandirian itu tidak bisa didapat dengan mudah, melainkan dengan belajar dan kerja keras. Maka penegasan di dalam ayat itu, yang akan diangkat derajatnya adalah orang-orang yang berilmu.

Ilmu kemudian mesti disadari sebagai kata kunci yang tidak bisa diabaikan, untuk mewujudkan kemandirian yang dikehendaki. Kita tentu ingat salah satu hadits Nabi SAW. ‘’Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia, maka dengan ilmu. Barang siapa menghendaki kebahagiaan di akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka harus dengan ilmu.’’ (HR. Thabrani)

Jadi jelas, bahwa kemandirian ini sangat penting dan demikian diperhatikan dalam Islam, sehingga jika kemudian HSN 2017 ini mengusung tema besar ‘’Santri Mandiri, NKRI Hebat!’’, maka pada dasarnya menjadi pengingat kepada kita semua akan pentingnya sebuah kemandirian.

KH. M. Hasyim Asy’ari, sebagaimana dikutip tebuireng.online, juga mengingatkan pentingnya ilmu yang akan berkorelasi terhadap kemandirian. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari berpesan, agar kita senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh nan tekun.

Caranya, yaitu dengan mengembangkan kesadaran untuk maju dan maju terus, dan (memupuk) kemampuan mendobrak kegagalan. Bagi Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, kegagalan adalah benih kemajuan, keuletan adalah daya tahan ketekunan, tidak pernah mundur karena kegagalan dan kesulitan, maju tanpa putus asa dan pantang henti, serta didukung kemauan yang kuat.

Sedikit penjelasan di atas, nampak jelas betapa kemandirian dalam Islam, sudah ditegaskan. Maka kemandirian umat itulah yang mesti senantiasa didorong dari waktu ke waktu, sehingga tema besar HSN 2017 ‘’Santri Mandiri NKRI Hebat!’’, ini ke depan tidak lagi akan menjadi cita-cita semata, namun telah diwujudkan dalam kehidupan nyata. Wallahu a’lam. (*)

Rosidi,
Penulis adalah alumnus madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS), staf Humas Universitas Muria Kudus (UMK), pemimpin redaksi Buletin Suara Nahdliyin dan Suaranahdliyin.com

Comments