Kirab Lentog Tanjung, Simbol Syukur dan Kerukunan Umat Beragama

0
594
Kirab Lentog Tanjung berlangsung meriah

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Dalam rangka memeringati lahir nya lentog tanjung Pemerintah Desa (Pemdes) Tanjungkarang, Kecamatan Jati Kudus, kembali menggelar Kirab Lentog Tanjung.

Perayaan digelar secara meriah selama tiga hari di Pusat Lentog Tanjung, Desa Tanjungkarang,  Kamis (29/6/2023) hingga Sabtu malam (01/07/2023).

“Tradisi ini sudah menjadi ritual budaya yang lahir di desa Tanjungkarang yang berlaku sejak tahun 2017.”terang ketua panitia kirab, Muhammad Adhilah.

Adhilah mengatakan bahwa sejarah dan ikon lentog tanjung di desa Tanjungkarang dimulai adanya petilasan Mbah Kulah, sumberan dari Mbah Sukaesi.

“Itu awal mula adanya lentog tanjung. Dan dari situ kita sebagai warga nguri-nguri adanya lentog tanjung sebagai ikon di desa Tanjung Karang”, ujarnya ketika diwawancarai usai acara.

Dia juga menyampaikan bahwa kirab lentog tanjung adalah agenda rutin setiap tahun. Diikuti dari semua elemen masyarakat, pedagang lentog sekitar maupun luar dan bekerja sama antar kepanitian, Rt Rw dan Banom NU (Badan Otonom Nahdlatul Ulama) desa Tanjungkarang.

Terkait tema yang diangkat pada perayaan kirab kali ini, pihaknya mengusung tema adalah “Kerukunan Beragama”. Kirab ini diharapkan menjadi simbol rasa syukur warga dan upaya mewujudkan masyarakat toleran, religi, mandiri dan punya jati diri.

“Dengan adanya beberapa umat beragama yang ada di desa Tanjungkarang bisa menampilkan kreativitas dengan baik dan bagus sesuai tema yang diangkat dan juga sebagai simbol toleransi”, jelasnya.

Lebih lanjut, Muhammad Adhilah berharap dari kirab ini semua mendapat kebermanfaatan.

“Agar lebih bermanfaat untuk masyarakat Tanjungkarang khususnya pedagang lentog diberi kelancaran dan keberkahan dalam berjualan”, ujarnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat, Imran Masadi yang berpartisipasi sebagai pembawa seni kirab budaya lentog tanjung juga mengaku sangat antusias meramaikan kirab. Persiapan yang dilakukan selama dua minggu terbalas lunas setelah mendapat antusiasme dari masyarakat.

“Kirab rutin setiap tahun, saya sendiri ikut sebagai pembawa seni, gabungan dari seluruh golongan warga yang mencerminkan kerukunan dan toleransi,”jelasnya. (Juwanita dan Muhammad Riska, Mahasiswa PPL Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Comments