KH. Imam Taufiq: Teroris Tidak Mungkin ‘’Lahir dari Agama’’

0
1939
Haflah akhirussanah Pesantren Darul Falah Besongo Semarang

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Tugas profetik yang diemban ulama sesuai dengan hadits populer: “Al-ulama waratsatu al-anbiya”, sungguh berat untuk dilaksanakan. Tak sembarang orang mampu mengerjakannya. Namun tugas mulia itu menjadi tanggung jawab ulama.

Salah satu tugas berat yang diemban adalah menjaga perdamaian. Inilah yang menjadi inspirasi Pesantren Darul Falah Besongo mengusung tema “Meneruskan Estafet Perjuangan Ulama dengan Perdamaian” pada haflah dan akhirussanah di musala Raudlatul Jannah, Sabtu (12/5/2018).

Di depan 34 santri putri yang diwisuda, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Besongo, KH. Imam Taufiq, menyampaikan, ritual tahunan seperti ini memang menjadi kekhasan pesantren di Indonesia.

‘’Pesantren Besongo merespons situasi sosial dengan kekinian diwujudkan melalui tema haflah yang diangkat, untuk menampilkan wajah santri yang mampu menghadirkan kedamaian, kenyamanan, keamanan, keselamatan, serta adem ayem (tenang dan tentram) di bumi ini. Ini visi pesantren, yaitu mendidik generasi berakhlak mulia, memiliki kompetensi keagamaan dan kecakapan hidup yang andal,” katanya.

Imam Taufiq mengemukakan, bahwa teroris sejatinya adalah tidak mungkin lahir dari agama apapun, melainkan lahir dari pikiran yang rusak, hati yang keras dan jiwa yang ingin menang sendiri.

‘’Al-Irhabu la yumkinu an yakuna walid al-adyan wainamaa huwa walidun aqliyyatun fasidatun waqulubun qasiyah wanufusun mutakabbirah. Tesis ini penting untuk menggarisbawahi, bahwa terorisme bukan bagian dari agama yang mengajarkan keramahan dan kesantunan,’’ tegasnya.

Nawawi at-Tamjani yang didaulat menyampaikan tausiyah, mengutarakan, bahwa seorang muslim perlu memiliki ‘’3 ras’’. Ras pertama adalah waras. Kewarasan akal dan badan menjadi penting untuk dijaga agar mampu berkelakuan dengan kesehatan logika. Ras kedua yaitu mampu mencari beras. Ras ketiga adalah semangat bekerja keras.

Mubaligh Jawa, tuturnya, seringkali menggunakan kata-kata yang pas untuk diambil hikmahnya. Dan hal itu merupakan landasan penting dalam mengambil inti sari dari ayat al-Mujadilah ayat 11.

‘’Terdapat proses panjang untuk meraih derajat yang tinggi. Prosesnya beriman dan memiliki ilmu. Keduanya harus dijalankan terlebih dahulu. Maka, dalam teksnya, kata ‘darajat’ ditaruh di akhir. Ini menunjukkan, derajat yang kita dapatkan dalam akhir proses,’’ terangnya. (zulfa/ adb, ros)

Comments