Wagus Taj Yasin dalam acara silaturahmi alumni Madrasah Ghazaliyah Syafiiyah (MGS) Sarang, Rembang, dalam agenda Ngaji Pahingan Liwamagaza di rumah dinasnya Jumat (2/10/2026

SEMARANG,Suaranahdliyin.com– Rumah dinas Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen tak hanya menjadi tempat tinggal pejabat. Ruang di Jalan Rinjani, Kota Semarang, juga dibuka untuk berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari silaturahmi hingga kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Hal itu kembali terlihat saat rumah dinas tersebut menjadi tempat silaturahmi alumni Madrasah Ghazaliyah Syafiiyah (MGS) Sarang, Rembang, dalam agenda Ngaji Pahingan Liwamagaza, Jumat (2/10/2026).

Taj Yasin yang merupakan alumni MGS Sarang angkatan 2001 menerima rekan-rekan satu almamaternya dalam kegiatan yang rutin menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi para alumni.

Menurut Taj Yasin, rumah dinas yang ditempatinya bukan sekadar fasilitas bagi pejabat, melainkan bagian dari ruang bersama masyarakat Jawa Tengah.

“Ini bukan rumah saya. Ini rumahnya masyarakat Jawa Tengah,” kata Taj Yasin.

Bagi Taj Yasin, keterbukaan rumah dinas tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kedekatan antara pejabat pemerintah dengan masyarakat. Ia ingin rumah yang secara administratif menjadi fasilitas jabatan itu tetap memiliki fungsi sosial dan menjadi ruang perjumpaan.

Dalam pertemuan dengan Liwamagaza 01 kali ini, ruang tersebut digunakan untuk menjaga hubungan antarsesama alumni sekaligus melanjutkan tradisi belajar yang telah mereka jalani sejak di MGS Sarang.

Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah menjadi bahan kajian dalam Ngaji Pahingan tersebut. Kitab karya Habib Ali bin Hasan Baharun itu berisi kumpulan nasihat, faidah, dan hikmah dari Habib Zain bin Ibrahim bin Smith.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu mengatakan, hubungan yang terbangun selama menjadi santri tidak semestinya berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan. Silaturahmi dan komunikasi dengan guru maupun sesama alumni, menurutnya, tetap penting untuk dijaga.

Ia mencontohkan perjalanan Imam Syafi’i dan Imam Bukhari yang mendapat arahan dari guru dalam menentukan bidang keilmuan yang mereka dalami.

“Banyak ulama kita yang semuanya diarahkan oleh guru-gurunya, bukan memilih sendiri,” ujarnya.

Taj Yasin juga mengaitkan hal tersebut dengan perjalanan hidupnya. Ia mengaku, sebelum terjun ke dunia politik, dirinya justru lebih tertarik pada dunia usaha.

“Dulu saya tidak membayangkan masuk politik. Pikiran saya waktu itu ingin berdagang, saya senang bisnis,” tuturnya.

Menurutnya, perjalanan hidup seseorang dapat berkembang jauh dari rencana awal. Karena itu, ia menilai penting untuk tetap menjaga hubungan dengan lingkungan yang memberikan ruang belajar, bertukar pengalaman, dan memperluas silaturahmi.

“Ngaji yang tidak ada apa-apanya sekarang justru luar biasa berharga,” katanya.

Melalui berbagai kegiatan yang berlangsung di rumah dinas, Taj Yasin berharap tempat tersebut dapat terus menjadi ruang yang terbuka bagi masyarakat untuk bertemu, berdiskusi, bersilaturahmi, maupun menggelar kegiatan yang memberi manfaat.(lis/adb)

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here