Museum RA Kartini, Ruang Edukasi Sejarah dan Kebudayaan bagi Masyarakat

0
227
Ruang dalam Museum RA Kartini di Jepara

JEPARA, Suaranahdliyin.com – Museum Raden Ajeng Kartini Jepara terus berperan sebagai ruang publik yang memiliki fungsi penting dalam pengenalan sejarah dan kebudayaan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Hal tersebut disampaikan oleh pengelola Museum Kartini Jepara Andiyan Cahyanegara saat dihubungi mahasiswa UIN Sunan Kudis yang magang Jurnalistuk di Suaramahdliyin.com, belum lama ini.

Menurut Andiyan, Museum Kartini yang berasa di Jl. Alun-alun No. 1, Desa Panggang, Kec. Jepara tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sarana edukasi dasar hingga lanjutan.

“Museum Kartini ini berperan penting untuk perkenalan sejarah secara basic, mulai dari masyarakat umum sampai orang-orang yang memiliki kepentingan riset terkait koleksi dan kebendaan yang dimiliki museum,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa nilai utama yang ingin ditanamkan melalui museum adalah kesadaran masyarakat terhadap sejarah yang benar dan berimbang. Museum Kartini Jepara secara berkala melakukan evaluasi, kajian, serta penyimpulan fakta sejarah berdasarkan rujukan para sejarawan.

“Tujuannya agar sejarah yang dikenalkan tidak terlalu ke kanan atau ke kiri, tetapi tetap sesuai fakta,” jelasnya.

Dalam mengenalkan sosok RA Kartini kepada generasi muda, pihak museum menggunakan pendekatan yang lebih komunikatif. Andiyan menuturkan bahwa penyampaian sejarah tidak dilakukan secara kaku, melainkan melalui diskusi mendalam atau deep talk.

“Kita kenalkan Kartini dari sisi perjuangannya. Karena adanya Kartini, perempuan bisa sekolah, bisa mengambil keputusan, dan bisa menjadi pemimpin. Dulu hal itu belum ada,” katanya.

Museum Kartini juga dimanfaatkan oleh sekolah dan lembaga pendidikan dengannberbagai program publik. Salah satunya adalah kegiatan yang tidak hanya berfokus pada sejarah, tetapi juga kebudayaan.

“Saat ini misalnya ada event KPOTI, festival permainan tradisional anak. Dari situ anak-anak bisa berkomunikasi, membangun kognitif dan hubungan emosional. Jadi yang dikenalkan bukan hanya sejarah, tapi juga budaya Jepara,”ungkapnya.

Untuk program edukasi rutin, Museum Kartini memiliki program Museum Go to School atau kunjungan museum ke sekolah-sekolah, termasuk daerah terpencil. Program ini menyasar sekolah yang belum memiliki kesempatan berkunjung langsung ke museum.

“Sejarah dan kebudayaan kita bawa langsung ke sekolah-sekolah, seperti di Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan wilayah kecamatan yang aksesnya jauh dari kota,” jelas Andiyan.

Museum RA Kartini Jepara

Terkait koleksi, Andiyan menilai seluruh koleksi museum memiliki nilai sejarah yang penting. Namun, minat pengunjung berbeda-beda sesuai segmen usia.

“Anak-anak TK dan SD biasanya tertarik dengan fosil ikan Joko Tuwo. Sementara peneliti lebih banyak melihat prasasti abad ke-13 dan koleksi keramik era maritim Jepara,” tuturnya.

Respons pelajar terhadap kunjungan edukasi dinilai sangat positif. “Mereka sangat senang dan gembira. Selain mendapatkan ilmu, mereka juga pulang dengan perasaan bahagia,” katanya.

Dalam pengelolaan museum, tantangan utama justru datang dari sisi internal akibat tingginya jumlah pengunjung. “Dengan keterbatasan SDM dan lonjakan kunjungan, kami harus benar-benar menjaga kondisi fisik dan kesehatan,” ujarnya.

Museum Kartini Jepara juga mulai melakukan digitalisasi, salah satunya melalui registrasi koleksi. Lebih dari 500 koleksi yang ada, sekitar 400 koleksi telah berhasil diregistrasi secara digital.
Ke depan, Andiyan berharap Museum Kartini semakin dikenal luas oleh masyarakat, salah satunya melalui media sosial.

“Karena masyarakat sekarang banyak menghabiskan waktu di media sosial, museum harus aktif di sana agar masyarakat yang belum sempat berkunjung setidaknya sudah mengenal Museum Kartini,”

(Megah Permata Dewi – Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, UIN Sunan Kudus)

Comments