MBS, Sang Pengagum Alexander the Great

0
272

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Saudi Arabia di bawah kekuasaan de facto Muhammad Bin Salman (MBS), terjadi reformasi total minus politik Negara monarchi. Artinya, APBN dan kebijakan Negara tetap tidak dipertanggungjawabkan kepada rakyat (QS.9: 105).

Visi religi MBS, kembali kepada “Islam murni”. Islam yang menghormati semua agama dan budaya (Wawancara Majalah Atlantik, @spagov, Jumat (4/3/2022) lalu. MBS mau bebas dari pengaruh siapapun, termasuk Syaikh Muhammad Bin Abdulwahab.

Keterikatan kepadanya ia pandang sebagai kultus individu. Wahabi diekspor ke seluruh dunia paling gencar di masa raja Khalid. Bantuan madrasah, masjid dan ribuan mahasiswa sangat besar. Kemudian mereka bebas mendakwahkan Wahabi ke seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, sekarang ada perubahan arah. Wahabi mungkin akan surut. Wawancara terbaru dari MBS yang ringkasnya menyatakan: 1). Hilangnya peradaban asli Arab akibat fatwa wahabi; 2). Geopolitik internasional yang tidak membutuhkan wahabi; 3). Modernisasi dan internet yang mengubah cara pandang rakyat Saudi (You Tube ZIK; KILAT TV dan Kilat.com.opini 06/04/2022.11.12 WIB).

Putra sulung raja Salman (37 tahun) ini sejak kecil sudah ingin menjadi The next Alexander the Great dari Macedonia. Langkah-langkah politiknya nampak tegas, berani dan ambisius.

Dengan visi ekonomi Saudi Arabia 2030, pada 2022 ini, ia dapat menurunkan defisit APBN dari 15% menjadi 4%. Dia sendiri dapat mengumpulkan kekayaan pribadi sebanyak 13 milyar pound atau senilai Rp 251 Triliun. Ia ketat kepada para pangeran nganggur yang jumlahnya 2.000 orang (yang asetnya besar) dari 15.000 orang yang selama ini didanai dari minyak dan bisnis pemerintah Saudi (Tommy P. Sorongan, CNBC Indonesia, 13/03/2021.08.07; 26/04/2022.10.05 WIB).

Sebagai pengagum Akexander the Great, ia berani menyampakkan AS dan Barat, yang sejak berdirinya Kerajaan Saudi telah menjadi induk semangnya. Ia merapat ke Putin dan Xi Jinping setelah kasus suntik mutilasi Jamal Kashogi dipersoalkan Negeri Paman Sam. Ia juga berani membocorkan kelakuan AS yang mendorong Saudi Arabia menyebarkan Wahabisme ke seluruh dunia (Wawancara 75 menit dengan Washington Post, 22/03/2018, 11.43, KHAZANAH), sewaktu MBS masih akrab dengan menantu Donald Trump, Jared Kushner.

Siapakah Alexander idola MBS? Ia adalah orang yang menguasai dunia Barat dan dunia Timur. Ia mirip Zulqarnain versi al-Quran yang ingin mempertemukan Barat yang rasionalis dengan Timur yang spiritualis . Dan bahkan ada ulama yang memandang bahwa Zulqarnain adalah Alexander itu sendiri. Al-Quran mengisahkan Zulqarnain sebagai orang yang mendapat bimbingan Allah (QS.18:82-99). Ada juga ulama yang menyebut Zulqarnain sebagai Nabi (Prof. Wahbah Zukhaili, Al-Wajiz, Surah 18: 83).

Jadi jika MBS mengidolakan Alexander, mungkin bukan soal agama. Karena sampai hari ini, kebanyakan orang masih menganggap bahwa Alexander sebagai orang Helenistik yang memercayai trinity seperti di Mesir ada dewa Ra’, Isis dan Osiris. Romawi ada Zeus, Horus dan Zagreus. Arab ada Latta, Uzza dan Manata. India ada Brahma, Wisnu dan Syiwa, dll.

Kekaguman MBS terhadap Alexander the Great mungkin berkisar: 1). Ia memiliki keberanian yang luar biasa; 2). Menguasai dunia pada usia sangat muda; 3). Memiliki kebijakan teknologis yang menawan.

Kalau MBS menafsirkan Alexander dengan Zulqarnain, itu sebuah ketergesaan. Pakar tafsir Indonesia, Prof Quraih Shihab menyatakan kesulitannya untuk mengidentifikasi sosok yang dituju (Al-Mishbah, Volume 8. hlm. 112-115).

Kalau ditujukan Zulqarnain itu Alexander the Great, soal religi akan menjadi pertanyaan. Kalau dia itu kaesar Cina (Qin Syi Huang) seperti yang dikatakan ulama besar Ibnu ‘Asyur dan sebagai pemrakarsa tembok Cina, ganjalannya, kaesar ini tidak memiliki prestasi baik di mata rakyat seperti halnya Zulqarnain. Zulqarnain adalah sosok teladan dalam hal tauhid, politik dan peradaban. Wallaahu a’lam. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments