Santri Harus Cerdas dan Mandiri

0
392

SANTRI

Kaum Adam

Kaum Hawa

Mencari setitik ilmu

Hanya menginginkan ridla Sang Kiai

Siang malam tak kenal lelah

Fokus mengkaji kitab suci  

Al-Quran sang pengobat hati

Tak hanya ilmu Al-Quran

Namun banyak lagi

Mengakji kitab salaf

Nan penuh makna dan teladan kehidupan

Salat malam

Para santri tlah terbiasa

Mendoakan keluarga tercinta 

Berdoa untuk kebaikan bangsa tercinta

Alangkah beruntungnya Negeri  

Memiliki santri yang tanpa pamrih

Gigih

Berjuang mempertahankan negara ini

***

Santri Harus Cerdas dan Mandiri

Oleh: Fauziah Adawiyah

Hari santri 22 Oktober, oleh pemerintah dijadikan untuk menghargai peran serta jasan para santri dan kiai, yang telah berjuang merebut dan mempertahankan negeri ini.

Ketika itu, para kiai dimotori oleh KH. Hasyim Asy’ari resolusi jihad pada 22 Oktober. Resolusi jihad itu menjadi ‘’amunisi spiritual’’ para santri dalam menghadapi penjajah yang kembali datang ke Indonesia dengan ‘’panji’’ Netherland Indies Civil Administration (NICA)-nya.

KH. Hasyim Asy’ari menyerukan, wajib hukumnya berjihad membela tanah air dari belenggu penjajah. Seruan itulah yang kemudian dikobarkan untuk membakar semangat para santri di Surabaya, untuk menyerang markas Brigade 49 Maharatta pimpinan Brigjen Aubertin Walter Sothern Mallaby.

Pada kesempatan itu Jendral Mallaby tewas dalam pertempuran tiga hari berturut-turut, 27 – 29 Oktober 1945. Ia tewas bersama pasukannya yang kurang lebih berjumlah 2000 personel.

Hal itulah yang kemudian memancing amarah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada pecahnya peristiwa 10 November 1945, yang kelak diabadikan sebagai Hari Pahlawan.

Berpijak pada seruan jihad tersebut, Hari Santri kemudian ditetapkan pada era kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), pada 22 Oktober 2015. Penetapan itu disetujui oleh 11 Ormas di Indonesia, antara lain Nahdlatul Ulama (NU), Al-Irsyad, PUI, Al-Anwar, PERSIS, Aswaliyah, Sarikat Islam, serta Al-Ijtihadiyyah.

Peran santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tak perlu diragukan lagi. Mereka mempertaruhkan jiwa raga untuk Indonesia, membangun Indonesia, dan senantiasa di garda terdepan dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi para santri, ditetapkannya Hari Santri yang kemudian diperingati setiap tahun, menjadi momentum untuk selalu mengingat, menghargai, dan mengapresisasi peran historis para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan negara tercinta ini.

Selain itu, momentum Hari Santri juga bisa menjadi salah satu sarana muhasabah al-nafs, memperbaiki diri, dan memaksimalkan peran untuk membangun bangsa ini. (*)

Fauziah Adawiyah,

Penulis adalah pegiat ekstrakulikuler jurnalistik MTs. NU. Ibtidaul Falah, Samirejo, Dawe, Kudus.

Comments