Surat dari Regol Ngabul
Ramadan, Era Virtual dan Kesalehan Bermedsos

0
545
H. Hisyam Zamroni, wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara

Oleh: H. Hisyam Zamroni

Ingar bingar media sosial (medsos) nampaknya menjadi “realitas baru’’ dan ‘’era baru”, yang, di dalamnya menyajikan bangga menjadi citraan (being image), menjadi representasi (being representation), menjadi bukan diri sendiri (fals self), dan menjadi simulakra (being simulacrum). Sebab “ada” di medsos, pada kenyataannya bukan merupakan refleksi (mirror image) dari yang ada di dalam realitas.

“Ada”  di medsos adalah “ada” dalam wujud simulakra, yaitu mengklaim dirinya sebagai salinan sempurna (copy and icon) dari realitas, padahal mereka adalah salinan yang telah  terkontaminasi dan terdeviasi.

Dari sana, nampak bahwa yang “ada” di medsos adalah “ada” dalam wujud citra, yang mungkin bisa disebut “ontologi citraan” yaitu aku “ada” di dalam medsos, karenanya atau maka aku “ada”. Sehingga dirinya akan terasing dari dirinya sendiri yang “otentik”, hanyut di dalam dunia harian, dan menjadi hidup semu.

Realitas semu di atas, jika tidak diikuti oleh akal sehat (reason), pengendalian diri (self-control) dan kesalahen (care) di dalam dunia medsos, maka akan terjadi “kekekerasan virtual” yang memengaruhi  dunia yang riil.

Olehnya, medsos yang sudah mempunyai “dunianya sendiri”, harus memiliki kesalehan medsosnya sendiri, dalam rangka menghindari sifat-sifat agresivitas yang over dan destruktif nan membahayakan “interaksi virtual”.

Selama ini kita melihat, bagaimana kekerasan di dalam medsos dengan “sengaja” dipertontonkan, baik atas nama pribadi, sosial, budaya bahkan agama. Agama dan  beragama di dalam medsos menjadi simulakra yang semu dan cuek terhadap realitas, sehingga agama tidak lagi menjadi “tuntunan”, melainkan menjadi “tontonan”.

Hal ini tidak terasa pemeluk agama menjadi “tidak otentik” karena yang diajarkan hanyalah menjadi “citraan” dan menjadi simulakra, yaitu agama “ada” di dalam medsos, karenanya atau maka agama menjadi “ada”, sehingga  menciptakan “ontologi agama citra”.

Sekali lagi, kesalahen medsos harus “diciptakan”, agar tidak terjadi “penggerusan otentisitas agama” yang sudah menjadi narasi besar di masyarakat. Dan lebih dari itu, kesalehan medsos adalah menghindari “kekerasan” atas nama agama, di mana melalui medsos, seseorang bisa sesuka hati menghakimi serta mencaci maki orang lain, dan merasa paling benar sendiri.

Kita yakin, Ramadhan ini, dengan maraknya kajian online, akan menciptakan “kesalehan bermedsos”, karena agama disuarakan dan disampaikan  oleh para ahlinya; di era virtual ini, potret agama, bila dipahami hakikatnya, tidak berarti sebuah potret dari agama, melainkan agama yang dipahami dan dilihat sebagai potret. (*)

H. Hisyam Zamroni,

Penulis adalah wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara

Comments