Peserta Kemah Kebangsaan Ma’arif NU Jateng Diberi Penyuluhan Antiradikalisme

0
156
  • Hadirkan Juru Bicara BIN
Pembukaan Kemah Kebangsaan Sako Pramuka Ma’arif Jateng di Semarang.

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Dalam Kemah Kebangsaan Satuan Komunitas Ma’arif NU Jateng, pengamat intelijen dan terorisme Dr. Wawan Hari Purwanto menyampaikan banyak hal tentang radikalisme dan bahayanya.

“Gerakan radikal bermetamorfosis dengan merekrut generasi muda. Mereka mengganti sistem yang ada, Pancasila mau diganti, dan meski gelut akan dilakukan. Kan, ini merusak, namanya,” tegas juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) itu, Jumat (8/11/2019) malam lalu.

Dia menyampaikan, kelompok radikal mengatakan sistem yang ada di Indonesia salah. “Maka mereka ingin mengganti dengan system, yang mereka yakini paling benar dan menilai yang lain salah,” jelasnya.

Perbedaan keyakinan, katanya, menjadi alat mereka untuk merusak tatanan kehidupan yang sudah damai. “Beda keyakinan ya sudah, tidak perlu diperdebatkan. Saya contohkan, saya dulu putus sama pacar karena beda keyakinan. Saya yakin saya ganteng, tapi pacar saya yakin saya tidak ganteng, maka akhirnya putus,” candanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, karakteristik radikalisme salah satunya membuat kondisi negara dengan status quo, dan mengganti dengan gerakan revolusioner. “Mereka ingin melakukan perubahan cepat, dengan cara-cara kekerasan, violence hearing. Keras, bahkan ekstrem, mereka melancarkan kehendak kendati dengan cara-cara kekerasan,” ujarnya.

Dalam acara yang juga dihadiri KH. M. Muzamil (Ketua PWNU Jateng), R. Andi Irawan (Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng), H. Shobirin (Ketua Sakoma NU Jateng), dan H. Muslih (Pencipta Senam Islam Nusantara) itu ia berpesan, supaya para pelajar berhati-hati menggunakan media sosial.

“Jangan salah pilih organisasi. Jangan salah bergaul, karena kurikulum di sekolah tidak pernah mengajarkan radikalisme,” kata peraih gelar Doktor dari Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut. (ibda/ ros, adb, rid)

Comments