JUARA II LOMBA MENULIS ARTIKEL SUARA NAHDLIYIN
Literasi, AI dan Spirit Waliyul Ilmi

0
709

Literasi adalah keterampilan kunci untuk masa depan, dikarenakan kemampuan dari literasi yang baik dapat memungkinkan seseorang untuk memahami dan menganalisis informasi secara efektif. Penguasaan literasi dasar yang baik akan mampu memahami materi yang diajarkan dengan lebih mudah dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi memiliki cakupan makna yang luas, tak cukup dimaknai sebagai kemampuan baca tulis aksara semata. Namun juga kemampuan untuk memahami teori, wacana hingga praktik dari berbagai aspeknya. Maka muncullah ragam jenis literasi, seperti literasi baca tulis, literasi media, literasi sains, literasi kebudayaan, literasi keuangan dan sebagainya. Pada era digital yang terus berkembang ini, informasi dengan mudah dapat tersebar luas dan diakses melalui internet atau media sosial.

UNESCO bahkan menyebut kemampuan literasi sebagai hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat meningkatkan kualitas individu, keluarga, dan masyarakat. Kegiatan membaca misalnya, dapat membantu memperkaya kosakata dan meningkatkan pemahaman. Sedangkan kegiatan menulis dapat menyalin dan mengolah kembali apa yang kita baca tadi, sehingga dengan adanya dua kegiatan tersebut dapat menjadi proses kegiatan penganalisis suatu hal yang baru. Demikian itulah aktivitas pokok literasi.

Semakin ke sini, literasi menghadapi tantangan digitalisasi sehingga lebih kompleks dalam memengaruhi kehidupan manusia modern. Sejumlah dampak negatif dari kurangnya kemampuan literasi di era digital pun muncul. Misalnya, maraknya penyebaran berita bohong (hoaks), penipuan daring, perundungan siber hingga massifnya judi online. Melihat dampak negatif dari teknologi digital tersebut tentu perlu diwaspadai selain karena akan merugikan diri sendiri namun juga akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Masalah-masalah tersebut dilatarbelakangi oleh tingkat literasi digital di Indonesia masih dikategorikan sangat rendah. Faktor lainnya tentu saja sebab pendidikan yang tidak merata mengingat masih banyak warga negara di Indonesia yang belum pernah mendapatkan edukasi terkait teknologi. Sehingga banyak masyarakat yang kurang dalam memahami manfaat dan cara menggunakan teknologi digital.

Laporan McKinsey yang diterbitkan pada tahun 2019 bahwa pada tahun 2030 akan ada sekitar 23 juta pekerjaan yang akan tergantikan, karena literasi digital di Indonesia yang rendah maka hal ini dapat menjadi ancaman yang cukup serius. Indonesia masih belum siap dengan hal ini apabila tidak ada prakarsa untuk dapat meningkatkan dan menggalakkan kegiatan untuk meningkatkan indeks literasi digital di Indonesia.

CNCB Indonesia tech & telco outlook 2023 mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia jika dilihat literasi digitalnya baru 62%. Negara di Korea sudah 97% sedangkan rata-rata di ASEAN sudah mencapai 70%. Melihat data tersebut memang tingkatan literasi digital di Indonesia masih sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan percepatan untuk mengejar tingkat literasi digital di Indoneisa baik bagi yang masih sekolah maupun yang sudah dewasa. Hal ini diperlukan guna mendorong masyarakat terhindar dari segala jenis bentuk penipuan berbau teknologi dan bisa lebih siap menghadapi era yang serba digital kedepannya.

Kecerdasan Buatan dan Literasi Digital

Pengaruh teknologi akan terus berkembang dan memberikan dampat kebaharuan dalam berbagai bidang begitu pula dalam dunia literasi dan pendidikan. Teknologi kecerdasan buatan atau sering disebut AI tengah menjadi pembahasan banyak orang.

Kecerdasan buatan ini memang sangatlah membantu banyak pekerjaan seperti dalam dunia kesehatan, otomotif, produktifitas bisnis dan bidang-bidang lainnya. Akan tetapi terdapat dampak negatif dari teknologi AI terlebih untuk para pelajar. Contoh kecilnya adalah dengan adanya kecerdasasan buatan atau teknologi AI, para pelajar memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas-tugas dengan hanya menjiplak saja tanpa ada proses analisis dan perhatan lebih. Akibatnya pelajar akan memiliki sifat ketergantungan, malas dan kurangnya kreatifitas yang mereka miliki. Apalagi di era sekarang para pelajar sangatlah malas untuk membaca dan menulis, dengan adanya teknologi AI para pelajar menjadikannya kesempatan untuk mengunakannya.

Dampak dari kecerdasan buatan (AI) adalah teknologi yang telah mengubah wajah dunia dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. AI mengacu pada kemampuan mesin untuk meniru tugas-tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh manusia. Sebagai salah satu perkembangan paling merubah dalam dunia teknologi, AI telah menyusup ke berbagai aspek kehidupan kita, termasuk bisnis, kesehatan, pendidikan, hiburan, dan banyak lagi.

Kecanggihan AI ini patut diwaspadai dan perlu pengawasan ekstra telbeih untuk para pelajar, karena dengan adanya AI membuat pelajar yang menggunakannya menjadi lebih malas, terutama lagi dalam kegiatan membaca dan menulis dengan adanya AI. Dampak negatif lainnya dari teknologi AI adalah pengangguran. AI dapat mengambil alih pekerjaan manusia dalam beberapa sektor. Sebagai contoh, di sektor manufaktur (pengubahan bahan mentah menjadi setengah jadi atau siap jadi), mesin-mesin dengan teknologi AI dapat melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh pekerja manusia. Hal ini dapat menyebabkan banyak pekerja kehilangan pekerjaannya.

AI telah menjadi salah satu pencapaian teknologi terbesar dalam sejarah manusia dan telah memberikan dampak yang luar biasa dalam berbagai aspek kehidupan kita. Dengan terus berkembangnya teknologi, AI berpotensi untuk menghadirkan transformasi yang lebih lanjut dalam cara kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Penting bagi kita untuk mengadopsi dan mengembangkan AI dengan tanggung jawab dan etika yang tinggi, sehingga teknologi ini dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat dan membantu menciptakan dunia yang lebih maju dan berkelanjutan.

Menghadapi dampak positif dan negatif dari teknologi AI, masyarakat perlu memahami potensi dan risiko dari teknologi AI serta memperkuat literasi digital dan kemampuan adaptasi. Masyarakat juga perlu memperhatikan aspek keamanan dan privasi dalam penggunaan teknologi AI serta memperkuat keterampilan untuk menghadapi perubahan dan tantangan di masa depan.

Perspektif Bil Ilmi

Sebagai seorang santri, pemahaman terhadap literasi erat kaitannya dengan spirit yang dibawa oleh Sunan Kudus sebagai seorang waliyul ilmi. Kesadaran perihal pentingnya menuntut ilmu ditanamkan oleh Sunan Kudus kepada masyarakat agar masing-masing memiliki pendirian yang kuat dan tidak terbawa gelombang arus negatif kehidupan duniawi. Masyarakat diajarkan untuk memiliki perspektif bil ilmi supaya mampu menimbang sendiri antara yang haq dan batil.

Sama halnya dengan kita di era saat ini. Adanya AI dan kemajuan teknologi juga harus disikapi secara matang dengan perspektif bil ilmi. Dengan begitu kita tidak perlu khawatir akan terjadinya ketergantungan terhadap AI lalu mematikan kreativitas diri. Kesadaran untuk menimbang segala hal dengan landasan ilmu akan membuat seseorang menjadi lebih selektif dalam memilah fasilitas dan teknologi.

Seseorang yang memiliki perspektif bil ilmi juga akan senantiasa, dan terbiasa, mencari rujukan dari berbagai sumber sebelum menyebarluaskan berita. Termasuk dalam hal ekonomi, keuangan, sosial dan budaya. Seorang santri yang memiliki perspektif bil ilmi akan selalu memelajari risiko dari setiap tantangan yang ia hadapi secara presisi dan hati-hati.

*) Profil Penulis
Silfi Firdausya, berstatus pelajar di SMK NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus. Lahir di Kudus, 10 April 2008, beralamat di desa Gondangmanis Gang 03 RT 03 RW 01 Bae Kudus. Tahun 2014 menemouh pendidikan MI NU Miftahul Falah. Tahun 2020 menempuh pendidikan di MTS NU Miftahul Falah, dan sekarang di tahun 2023 ini menempun pendidikan SMK NU Miftahul Falah jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Saat ini aktif di ekstrakulikuler konten kreator SMK NU Miftahul Falah. Dapat dihubungi melalui nomor HP berikut, 0882007494677 dan email firdausyahsilfi10@gmail.com.

Comments