Jejak Ulama
KH Abdullah Zaini Nadzirun, Dai yang Santun dan Hormat kepada Tamu

0
885

Sebuah foto dipasang dalam pigura berukuran 100 x 80 cm. Nampak sosok Kiai yang gagah berpidato diatas mimbar kayu dengan berukiran khasn jawa. Berpakain putih dan berjas menambah kewibawaan beliau dalam berpidato. Sebuah nama tertera di foto itu; KH. Abdullah Zaini Nadzirun.

KH Abdullah Zaini Nadzirun dilahirkan oleh Nyai Anifah, istri Kiai Nadhirun. Nyai Anifah adalah putri dari Kiai Noor Hadi Sunggingan, sedang Kiai Nadhirun adalah santri lulusan Tebuireng Jombang yang diasuh KH. Hasyim Asy’ari. Kiai Nadhirun putra dari Kiai Mustofa asal Kauman Wetan, Kudus.

Semasa muda, Abdulah Zaini menimba ilmu di Madrasah dan Ponpes Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus. Setelah lulus dari Madrasah TBS, Abdulah Zaini melanjutkan belajar di pondok pesantren di Cilacap.

Dai Panggung
Dalam perjalanannya usai rihlah ilmiah, Abdulah Zaini mengabdikan dirinya untuk berdakwah, di sela – sela kesibukannya mengajar di MTs TBS (sebelum tahun 1973), MI NU Purwosari, MTs dan MA Hasyim Asy’ari 1 (Sunggingan) dan juga mengasuh pondok pesantren.

Kiai Abdulah Zaini mengisi dari pengajian ke pengajian yang diselenggarakan masyarakat. Di luar itu, Kiai Abdulah Zaini rutin menggelar kajian di masjid-masjid, musala dan majlis taklim. Tak kurang sebanyak 35 majelis taklim yang hadirinya setiap bulan.

Sedang materi dakwahnya diambil dari kitab-kitab salaf seperti Irsyadul Ibad, Durrotun Nasihin, Ushfuriyah, Qomi’ al-Tughyan, Uqud al-Lujain dan Fathul Qarib.

Ia juga aktif di NU (saat meninggal masih menjabat sebagai Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Kota), aktif membina mualaf yang tergabung dalam Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), serta khidmah di Yayasan Hasyim Asy’ari Kudus dan KBIH An-Nur.

Hormati Tamu
Salah satu sisi menarik Kiai Abdullah Zaini di luar khidmahnya kepada umat melalui lembaga pendidikan dan dakwah keliling, ia adalah sosok yang sangat santun dan senang menghormati tamu, tanpa memandang latar belakangnya. Dalam kondisi dan waktu apapun, kiai selalu membukakan pintu untuk tamu yang mau bersilaturahim.

Dikisahkan, saat ramai-ramainya judi togel, ada seseorang yang suka masang togel datang ke kediamannya untuk minta nomer togel. Tentu saja kiai tidak menjawab pertanyaan itu. Karena togel termasuk judi yang dilarang dalam agama.

Namun untuk tetap menghormati tamunya dan sebagai obat kecewa, kiai memberikan amplop berisi uang (karena pada saat itu tamu yang datang memliki ekonomi yang kurang). Setelah tamu pulang, uang yang diberikan bukan digunakan untuk hal yang bermanfaat, namun justru digunakan untuk membeli togel, dengan memilih dua nomor seri terakhir dari uang yang diberikan Kiai Abdullah Zaini. Tak disangka, nomor yang dipasang tembus.

Di lain kesempatan, tamu tersebut kembali sowan ke kediaman Kiai Abdullah Zaini. Sang tamu meceritakan apa yang telah dilakukan dengan uang pemberian kiai. Dan Kiai Abdullah Zaini hanya menanggapinya dengan tertawa.

Selain penghormatannya terhadap tamu, Kiai Abdullah Zaini adalah orang yang tidak suka menceritakan kejelekan orang lain (ghibah). Maka jika ada seseorang yang menjelakkan orang lain, kiai akan mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat.

Meninggal Saat Wukuf
Bagai air di tengah padang pasir, dakwah yang disampaikan Kiai Abdullah Zaini selalu memberi kesejukan kepada siapa saja yang mendengarnya. Ibarat bunga, ia sedang mekar menawan. Dan ibarat pohon, ia sedang berbuah lebat.

Saat itulah Kiai Abdullah Zaini dipanggil Allah Azza Wajalla saat wukuf di Padang Arafah bersama 246 jamaah KBIH An-Nur yang dibimbingnya pada 1426 H/ 2006 M, sesaat setelah menyampaikan tausiyah dan memimpin doa. Tetiba Kiai Abdullah Zaini jatuh sakit, dan di hari itu juga, 9 Zulhijjah, ia mengembuskan napas terakhirnya.

Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un. Kiai Abdullah Zaini meninggal dunia di tempat yang mulia, dihari yang mulia, saat tengah menjalankan ibadah yang mulia, dan dimakamkan di kompleks makam “Saroya” di tanah haram yang mulia. (Muhammad Najihul Marom, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Islam IAIN Kudus)

Comments