Haul Agung Raden Muhammad Syarif, KH. Mahrus Ali Ingatkan Jamaah Muhasabah Diri

0
1524
KH. Mahrus Ali menyampaikan mauidhah hasanah pada peringatan Haul Raden Muhammad Syarif Padurenan, kemarin (Foto:Panitia for SN)

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Ribuan warga Padurenan Gebog Kudus dan sekitarnya memeringati haul wali agung Raden Muhammad Syarif — cikal bakal desa setempat, Ahad (28/8/2022). Mereka mengikuti tahlil dan buka luwur makam Raden Muhammad Syarif dan pengajian umum bersama KH.Mahrus Ali dari Jepara.

Dalam mauidhah hasanahnya, KH. Mahrus Ali mengingatkan jamaah untuk muhasabah diri. “Haul itu sebagai bentuk muhasabah atau introspeksi diri, karena hidup di dunia ini cuman sebentar” ungkapnya.

Wakil rais Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Mayong ini menerangkan orang meninggal dunia itu ibarat orang pindah rumah. Kehidupan selanjutnya ada yang menjumpai Roudhoh berisi kenikmatan surgawi, ada pula yang menemui lubang yang curam berisi siksa neraka.

“Semua itu tergantung pada perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia,”jelasnya.

Ketua panitia haul, KH.Ahmad Wafiy Baq menaburkan bunga usai ganti luwur makam Raden Muhammad Syarif (Foto : Panitia for SN)

Tak hanya itu KH. Mahrus Ali juga mengingatkan dengan peribahasa Jawa “Becik Ketitik Ala Ketoro” bahwa sesuatu yang baik maupun buruk ini akan terlihat suatu saat. Dari peribahasa tersebut beliau juga menambahkan bahwa hidup didunia jangan seenaknya, gila pada dunia sehingga melupakan ibadah wajibnya (sholat).

“Dosa orang yang meninggal sholat ini lebih besar daripada zina bahkan membunuh orang sekalipun,” jelasKetua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jepara 2010-2025 ini.

KH. Mahrus Ali menjelaskan dimensi yang berbeda di alam kubur seperti halnya alam mimpi.

“Kubur beda dengan alam kubur, kubur ini untuk mengubur mayit sedangkan alam kubur memiliki dimensi yang berbeda. Di alam kubur ini tidak seperti di dunia tidak pagi, tidak juga malam,” ungkapnya.

“Orang meninggal dunia kuburannya sama dengan yang lainnya, akan tetapi amal yang dilakukan selama di dunia mempengaruhi yang dirasakan di alam kubur.”imbuh KH.Mahrus Ali.

Tahun ini, peringatan haul RM Syarif – ulama asal Madura yang melakukan dakwah hingga wafat di Desa Padurena ini berlangsung Sabtu-ahad (27-28/8/2022). Diawali rangkaian acara takhtiman al-Qur’an bil ghoib, terbang papat, tahlil,ganti luwur dan pengajian umum.

Seorang warga menikmati nasi berkah berdaun jati yang dibagikan pada haul Raden Muhammad Syarif (Foto Panitia For SN)

Pada puncak haul Ahad siang itu, panitia membagikan sekitar 4.500 nasi berkah dibungkus daun jati yang dibagikan kepada masyarakat yang hadir pada pengajian.(Hasna/adb)

Comments