Gus Sholah, Sosok Kiai Aktivis dan Penulis Produktif

0
577

JAKARTA, Suaranahdliyin.com – KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Adik kandung dari Presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggal dalam usia 77 tahun.

“Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu,” kata Irfan Asy’ari Sudirman atau Ipang Wahid, anak Gus Sholah, melalui akun Twitternya @ipangwahid, Minggu (2/2/2020).

Ulama kharismatik kelahiran Jombang, 11 September 1942 itu dikenal sebagai tokoh yang lengkap. Selain ulama, ia juga dikenal sebagai politisi, tokoh HAM, hingga arsitek. Gus Sholah adalah lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada 1973 ia tercatat sebagai anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Saat menjadi mahasiswa, ia juga aktif dalam berbagai organisasi, mulai dari anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB, Bendahara Dewan Mahasiswa ITB, Komisariat Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ITB, hingga Wakil Ketua PMII Cabang Bandung.

Pada tahun 1968, Cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari itu menikahi Farida kemudian dikaruniai tiga anak. Selain Ipang Wahid, dua anaknya yang lain yaitu Iqbal Billi dan Arina Saraswati. Pada tahun 1970, ia mendirikan perusahaan kontraktor bersama dua orang kawan dan kakak iparnya, Hamid Baidawi. Perusahaan itu bertahan hingga tahun 1977.

Selain itu Gus Solah juga pernah bergabung dengan Biro Konsultan PT MIRAZH, menjadi Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997), Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996), dan masih banyak yang lain. Singkatnya, sejak tahun 1970 hingga 1997, sebagian besar aktivitasnya adalah di bidang arsitektur dan konstruksi.

Gus Sholah juga pernah menduduki kursi MPR pada 1998 hingga 1999. Setelah itu ia menjabat menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hingga 2004. Pada saat yang sama, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM antara tahun 2002-2007.

Pada 2004, ia terdaftar sebagai calon wakil presiden mendampingi Wiranto. Namun, pada pemilu saat itu kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dua tahun kemudian ia resmi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng hingga sekarang.

Gus Solah juga terkenal sebagai kolumnis yang sangat produktif. Ia banyak menulis di media massa nasional dan menulis buku. Antara lain Negeri di Balik Kabut Sejarah (2001), Mendengar Suara Rakyat (2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (2004), Transformasi Pesantren Tebuireng (2011), dan Berguru Pada Realitas: Refleksi Pemikiran Menuju Indonesia Bermartabat (2011). (farid/adb, ros)

Comments