
BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wonosegoro, Boyolali, menyelenggarakan mujahadah dan istigasah rutin yang dirangkai halal bihalal di masjid Al Falah Jrebeng, Wonosegoro, pada Ahad Kliwon (29/03/2026) lalu.
KH Shodiq Dimyati, Mustasyar MWCNU Wonosegoro, mengingatkan pentingnya melestarikan kegiatan yang baik seperti mujahadah dan istigasah selapan sekali tersebut.
“Untuk melestarikan kegiatan mujahadah dan istigasah dibutuhkan kader dari seluruh ranting di Kecamatan Wonosegoro,” tuturnya.
Diutarakan Kiai Shodiq, agar setiap pengurus ranting NU mengontrol dan mengajak diri dan warganya untuk menjadi kader yang rajin demi menjaga semangat berkhidmat di masyarakat.
“Butuh kaderisasi, kontrol, dan pengecekan terhadap pengurus NU sendiri dan warganya untuk memastikan setiap kegiatan tetap berjalan di masa mendatang,” ujarnya.
Dalam acara ini juga diwarnai laporan pertanggungjawaban kegiatan Ramadan 1447 Hijriyah MWCNU Wonosegoro, yakni buka bersama, tarawih keliling, dan penyerahan 91 bingkisan kepada mustahik.
“Alhamdulillah, terkumpul 91 bingkisan, per bingkisan senilai Rp 75 ribu, serta 30 mushaf Al Quran yang telah diserahkan kepada warga yang berhak di sejumlah desa di Wonosegoro,” terang Mansur Wijaya, panitia kegiatan.
Mansur menyampaikan terima kasih banyak kepada agniya atau donatur yang menyisihkan hartanya bagi sesama dan semoga menjadi amal baik serta diterima di sisi-Nya.
Rais Syuriyah MWCNU Wonosegoro, KH Zarkasi, menekankan pentingnya berbuat baik seperti bersedekah dalam kegiatan Ramadan tahun ini, yang semoga tahun depan lebih banyak.
“Seseorang belum sempurna imannya bila belum mencintai kebaikan untuk saudaranya, seperti ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri,” ujar Kiai Zarkasi mengutip hadits.
Pada momentum bulan Syawal ini Kiai Zarkasi pun mengajak untuk meningkatan keimanan, kedisiplinan, serta tambah rajin atau istikamah pada kegiatan yang baik.
“Tentunya syarat kegiatan berjalan lancar mesti didasari kerja sama dari semua pihak yang saling mengisi dan memperkuat sinergi bersama,” paparnya.
Sementara Kiai Samiin yang didaulat menyampaikan tausiyah menegaskan pentingnya memaknai hari raya idul fitri untuk kembali ke kesucian diri.
“Dalam memaknai kesucian diri bisa belajar dari filosofi ketupat atau kupat. Isi kupat putih sesuci hati yang telah menjalankan puasa dan amal baik. Kemudian kupat bisa diartikan mengaku lepat,” paparnya.
Kiai Samiin yang juga Wakil Rais Syuriyah MWCNU Wonosegoro, ini mengajak meningkatkan kebaikan dan ketakwaan.
“Sebab tindakan baik atau buruk akan kembali pada diri sendiri,” katanya. (siswanto ar/ adb, ros, rid, gie)





































