Kisah Dai di Wilayah 3T: (1)
Tantangan Berdakwah di Karimunjawa, Antara Melaut dan Menunaikan Shalat

0
464
Anak-anak Karimunjawa Jepara sedang mengaji didamping Dai 3T dari Kemenag

Kementerian Agama (Kemenag) RI mengirim 500 dai ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) untuk berdakwah selama bulan suci Ramadan 1445 hijriah. Berikut kisah para dai selama berdakwah di wilayah 3T yang mulai hari ini diturunkan secara berseri diawali dari Karimunjawa (Redaksi)

JEPARA,Suaranahdliyin.com – Karimunjawa adalah sebuah kepulauan di Laut Jawa, sekitar 80 kilometer sebelah utara Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kepulauan ini terdiri atas 27 pulau kecil, dan pulau yang terbesar disebut Karimunjawa. Karimunjawa punya pantai berpasir putih, perairan jernih, dan terumbu karang yang indah. Sebagian besar vegetasi alaminya adalah hutan tropis. Karimunjawa punya sumber daya laut yang sangat melimpah.

Sebagian besar penduduk Karimunjawa bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Masyarakat di sana hidup secara sederhana. Mereka mengandalkan pertanian lokal dan makanan laut seperti kelapa, jagung, ubi jalar, ikan, udang, dan cumi. Mayoritas penduduk Karimunjawa beragama Islam. Hampir di setiap desa ada satu masjid dan beberapa mushalla.

Salah satu dari 500 dai yang dikirim oleh Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama ke Desa Kemojan, Pulau Karimunjawa, Ustad Fiki Fatwa Khulaifi, mengatakan, salah satu persoalan yang dihadapi oleh umat Islam di Karimunjawa, terutama yang berprofesi sebagai nelayan, adalah soal pelaksanaan shalat. Mereka pergi ke laut dari pagi sampai sore atau sore hingga dini hari dan biasanya masih berada di tengah laut ketika waktu shalat fardlu sudah tiba.

Sebagian dari mereka, lanjutnya, yang meninggalkan shalat karena mereka masih melaut. Mereka kemudian menggganti (qadha’) shalatnya ketika sudah sampai di daratan. Namun sebagian yang lain, yang tidak sadar dengan kewajiban shalat, tidak melakuka qadha’ shalat. Banyak di antara mereka yang awam dengan persoalan agama dan hanya ikut-ikutan saja dalam beragama. Mereka menganggap bahwa shalat itu persoalan yang bisa diatur pengerjaannya.

“Melihat fenomena itu sungguh menggugah hati nuraniku yang terdalam. Bagaimana tidak, shalat yang merupakan pondasi agama ini masih belum secara istikamah ditegakkan,”cerita Ustad Fiki, Ahad (31/3/2024) lalu.

Ustad Fiki mengaku memahami kondisi umat Islam di Karimunjawa. Di satu sisi mereka harus mencari nafkah dengan menangkap ikan di tengah laut. Di sisi lain ada kewajiban shalat fardlu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Atas persoalan itu, ia berharap, para dai dan ulama setempat bisa menyampaikan materi dakwah yang bersifat duniawi dan juga ukhrawi.

“Kami melihat memang wilayah ini perlu ada suatu model dakwah yang bisa menyentuh masyarakatnya untuk bisa seimbang dalam dunia serta akhiratnya. Peran ulama serta dai dalam menyeru kepada masyarakat sangat besar,” terangnya.

Dai 3T tengah ramah tamah bersama warga Karimunjawa jepara

Dari Adzan hingga Imam

Ustad Fiki menceritakan, ia pernah menemukan satu mushalla di mana tugas adzan, pujian/shalawatan, iqamat, dan menjadi imam dilakukan oleh satu orang. Orang tersebut tidak hanya melakukannya di satu waktu shalat saja, tetapi di lima waktu shalat dalam sehari.

“Ternyata, ada sosok sentral di mushalla itu yang memborong semua pahalanya. Yaitu, tugas adzan, pujian, iqamat, imam itu satu orang tersebut,” kisah seorang Pengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah ini.

Umat Islam di Karimunjawa secara umum memang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah al-Nahdliyah, namun ada juga menjadi warga Persyarikatan Muhammad dan Jamaah Tabligh. Penduduk Karimunjawa terdiri atas Suku Jawa, Suku Madura, Suku Bugis, dan Suku Bajo. Suku Jawa merupakan mayoritas di Pulau Karimunjawa, Pulau Parang, Pulau Nyamuk dan Pulau Genting.

Menurut Ustad Fiki, para dai 3T Kemenag mendapatkan informasi terkait kondisi umat Islam lokal dari KUA setempat. Para dai kemudian melakukan pemetaan wilayah dakwah dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti camat, kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan lainnya, dan membuat rencana kegiatan.

“Ini penting agar pesan-pesan dakwah bisa disampaikan secara efektif,”katanya.(bersambung/rls/adb)

Comments