Niat Khidmah kepada Mudir Ma’had Aly se-Indonesia

0
493
  • Mengenal KH. Dr. Abdul Djalal M.Ag. (Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia/ AMALI)
KH. Dr. Abdul Djalal M.Ag

Ramah, suka bercanda dan murah senyum. Sesekali, guyonan ‘ala santri juga akan telontar, jika Anda berbincang dengan KH. Dr. Abdul Djalal M.Ag., Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia/ AMALI).

Paling tidak, itulah yang Suaranahdliyin.com rasakan, saat berkesempatan berbincang dengan di sela-sela waktu istirahat Kiai Djalal –sapaan akrab sang kiai- sewaktu menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) AMALI di Pondok Pesantren Al-Mubarok, Manggisan, Wonoso, Jawa Tengah baru-baru ini.

‘’Menjadi ketua AMALI itu lebih banyak dukanya ketimbang sukanya,’’ ujar Kiai Djalal sembari tersenyum. ‘’Namanya juga baru membangun. Tetapi Saya niati khidmah kepada Mudir Ma’had Aly se-Indonesia,’’ lanjutnya.

Dia mengatakan, karena Ma’had Aly itu sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis pesantren yang belum lama mendapat pengakuan pemerintah, sehingga baru membangun, termasuk mengonsep aturan sendiri. ‘’Ini juga duka lagi menjadi Ketua AMALI, tetapi asyik,’’ ucapnya sembari bercanda.

Kendati mengaku banyak dukanya menjadi Ketua AMALI, namun di waktu-waktu tertentu, juga dirasakan sangat membahagiakan. ‘’Bahagianya, kalau ada pertemuan (kumpul-kumpul), semua yang diundang hadir. Jadi tertutupi dukanya,’’ katanya.

Yang membuat Kiai Djalal masih merasa prihatin, kendati Ma’had Aly sudah diakui pemerintah, namun masih banyak pihak juga yang masih memandang rendah keberadaannya. ‘’Isih akeh sing moyoki, ijazahe ora payu. (Masih banyak yang meremehkan, ijazah (Ma’had Aly-Red) tidak laku),’’ tuturnya.

Kiai Djalal menyampaikan berbagai perspektifnya dalam Rakornas AMALI di Pondok Pesantren Al-Mubarok, Wonosobo.

Namun begitu, bersama jajaran pengurus AMALI yang lain, Kiai Djalal pun senantiasa berusaha meningkatkan kualitas Ma’had Aly. ‘’Alhamdulillah, perhatian pemerintah kepada Ma’had Aly melalui Kementerian Agama (Kemenag) sangat bagus. Juga di daerah-daerah, banyak pemerintah daerah yang support,’’ paparnya.

Rekam Jejak

Siapa KH. Dr. Abdul Djalal M.Ag.? Di kalangaan pesantren dan akademisi muslim di Indonesia, namanya tidaklah asing. Sebab, kiai kelahiran Demak, 20 September 1970 ini merupakan akademisi dari UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Sebab, suami dari Nyai Musyarofah dan ayahanda dari M. Razin Ayatul Hayy (Azin), M. Rabit Asraria Soma (Obit), M. Raghib Auliya’illah (Roghib), Azza Juhaida Sabela (Azza), dan Ahad Zamakhsari Jalal (Azam), ini kini dipercaya menjabat sebagai Ketua AMALI.

Di luar itu, banyak posisi penting yang dijabatnya di luar sebagai dosen di IAIN (Kini: UIN) Sunan Ampel Surabaya dan pernah menjabat pula sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy Sukorejo, Situbondo (2005 – 2009), dan menjadi staf pengajar pada Program Pascasarjana IAI Ibrahimy Sukorejo, Situbondo (2004- sekarang) dan staf pengajar Ma’had Aly fi Qism al-Fiqh di Sukorejo, Situbondo (1995 – sekarang).

Dan selain menjabat Ketua AMALI, Kiai Djalal juga tercatat sebagai Ketua Pusat Kajian Fikih Konstitusi (PusFiKON) pada 2013 – sekarang, Ketua Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia (APDI) pada 2009 – 2013, belum lagi pengalaman organisasi yang pernah dijabatnya sewaktu masih menjadi mahasiswa/ santri.

Sedang untuk pendidikannya, pada jenjang dasar hingga menengah ditempuh di SDN Rejomulyo III Semarang (1983), lalu SMP Ibrahimy Sukorejo Situbondo (1986), dan SMA Ibrahimy Sukorejo Situbondo (1989).

Jurnalis Suaranahdliyin.com, Rosidi, foto bersama dengan KH. Abdul Djalal dan beberapa pengurus Ma’had Aly TBS Kudus.

Selanjutnya, gelar Sarjana diraih dari Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) Sukorejo Situbondo (1995), gelar Magister dari Prodi Agama dan Filsafat ditempuh di Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga (1998), dan gelar Doktor diraih dari UIN Sunan Kalijaga (2016).

Selain itu, Kiai Djalal juga pernah mengikuti Short Cource Kajian Keislaman di Canal Swess Univercity, Ismailiyyah Mesir (2012), Pendidikan Kader Ulama (PKU) di Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1996 dan belajar di Ma’had Aly fi Qism al-Fiqh Situbondo (1993). (Rosidi & Kholilurrohman/ Qomarul Adib)

Comments