Hadir di Konfercab XXII NU Boyolali, ini yang Disampaikan Katib Syuriyah PBNU KH Muhammad Aunullah A’la Habib  

0
920
KH Muhammad Aunullah A’la Habib (Gus Aun), Katib Syuriyah PBNU hadir dalam Konfercab XXII NU Boyolali, belum lama ini

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – KH Muhammad Aunullah A’la Habib (Gus Aun), Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), hadir dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XXII NU Boyolali bertajuk “Mendampingi Umat, Memenangi Masa Depan” pada Sabtu (9/3/2024) lalu.

Pada kesempatan itu dia mengemukakan, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) lahir dilatarbelakangi peristiwa besar di dunia internasional, yakni karena kepemimpinan umat Islam yang tadinya settle, stabil, mapan selama 1300 tahun tiba-tiba runtuh.

“Peristiwa itu seolah-olah menandai lahirnya peradaban baru yaitu kepemimpinan baru yang kita kenal dengan negara bangsa (nation state),” katanya.

Menurutnya, Turki Utsmani sebagai kepemimpinan besar dalam Islam yang berkuasa hampir 700 tahun, runtuh. “Keruntuhan ini bukan hanya keruntuhan secara administrasi, politik, dan kekuasaan, akan tetapi juga keruntuhan atas otoritas keulamaan ahlussunnah waljamaah (aswaja), karena Turki Utsmani adalah representasi ahlussunnah waljamaah,” ujarnya.

Dia menyampaikan, situasi itu yang mengharuskan NU lahir. Memang secara teretorial, Hindia Belanda (Indonesia) waktu itu bukan wilayah Turki Utsmani. Meski wilayah Turki Utsmani sangat luas mulai ujung India sampai ujung Maroko termasuk wilayah Kaukasus, Wina, sampai Balkan.

“Namun otoritas keulamaan aswaja sampai ke Indonesia, dan ulama Turki pada waktu itu menjadi maraji’ ulama Indonesia dalam menyelesaikan problem kemasyarakatan,” tuturnya.

Menjelang lahirnya NU, paparnya, KH Kholil Bangkalan yang mendapat tugas atau merasa harus bertugas, meminta petunjuk dari Allah mendapat isyarah, salah satunya Surat As Shaf Ayat 8:

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. ”

Dalam pandangan Gus Aun, ayat itu sangat relevan dan menjadi gambaran situasi saat itu, di mana Islam menderita kekalahan besar. Inilah yang menjadi embrio lahirnya NU sebagai pewaris misi kenabian dalam rangka ibadatullah dan melahirkan rahmat bagi semesta.

“Apalagi jika kita melihat Kiai Ridwan Abdullah pada waktu itu yang bertugas membuat logo NU. Beliau melakukan tirakat, riyadhah yang pada akhirnya mendapat petunjuk melalui mimpi; beliau melihat di atas langit bola dunia,” ungkapnya.

Maka tak heran, katanya, jika NU berkembang dan bergerak dalam berbagai dimensi kehidupan; menjaga – melestarikan aswaja, berjuang menuju kemerdekaan, serta memikirkan bangsa ini untuk tetap utuh bersatu dalam realitasnya sebagai bangsa yang majemuk. “Mengisi kemerdekaan, teguh, dan terus menjaga NKRI, karena bagi NU, NKRI harga mati,” tegasnya.

Sementara itu, dalam Konfercab XXII NU Boyolali yang dilangsungkan di NU Center Boyolali, ini menetapkan KH Ahmad Harir dan KH Iqbal Mulyanto sebagai Rais Syuriyah dan Ketua terpilih masa khidmat 2024 – 2029. (siswanto ar/ ros, adb, gie, rid)

Comments