Tour Performance
Seni Tutur Tsumakala Bawakan Folklor Lokal Sendang Kamulyan

0
480
Tour Performance Seni Tutur Tsumakala KBPW

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Seni Tutur Tsumakala Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus mengadakan tour performance ke empat lokasi yang ada di Kudus, Rabu (12/4/2023). Tour bertujuan melakukan diseminasi dakwah sekaligus program pemajuan kebudayaan desa.

Tour performance dengan membawakan cerita-cerita dan folklor lokal lereng muria melalui penyampaian yang unik dan menarik anak-anak muda. Selama empat hari, sampai  Seni Tutur Tsumakala akan menampilkan seni pertunjukan bertajuk “Sendang Kamulyan”.

Penulis naskah folklor, Jessy Segitiga, mengatakan, cerita yang dibawakan oleh tim Seni Tutur Tsumakala ini berangkat dari salah satu situs folklor lokal asli dukuh Pranak Desa Lau, Dawe Kudus. Situs tersebut merupakan belik atau sendang kamulyan.

Melalui tour performance ini, Seni Tutur Tsumakala ingin mengajak anak-anak dan generasi muda di Kudus untuk mulai menyelami cerita dan budaya yang ada di sekitarnya. Tentunya, dengan kemasan yang unik dan tidak membosankan.

“Kami sampaikan cerita sendang kamulyan dari berbagai versi, tujuannya supaya anak-anak muda mulai paham mengenai nilai-nilai dari folklor setempat. Misalnya air di sendang yang dulunya menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat,” terang Jessy, ditemui usai tour performance di RA-MI Miftahul Huda Pranak, Dawe Kudus, Rabu (12/4/2023).

Dalam tour kali ini, anak-anak akan dihibur sekaligus diedukasi dengan cerita lokal yang dipadukan dengan nilai-nilai islami yang mudah diterima. Mereka memadukan antara shalawat, cerita lokal, nilai-nilai islami, folklor menjadi seni pertunjukan berdurasi sekitar dua jam.

Heri Dono, selaku pendongeng dan aktor Seni Tutur Tsumakala, menjelaskan tour performance ini juga bertujuan untuk membangkitkan ghiroh bersholawat bagi anak-anak. Terlebih, lanjutnya, Ramadan ini menjadi momentum tepat untuk membangkitkan kebiasaan dan semangat anak-anak dalam bersholawat.

“Dalam cerita-cerita itu, kami selipkan shalawat yang mudah dikenal anak, misalnya ya lal waton atau sholawat lainnya,” ujarnya.

Dirinya menilai, di era sekarang, metode dakwah berbasis pertunjukan ini sudah saatnya untuk diaktivasi dan disebarluaskan ke sekolah-sekolah. Dakwah berbasis seni sangat relevan dan disukai oleh anak-anak.

“Kami sengaja menyasar anak-anak dan remaja, sebab di usia itu imajinasinya masih tinggi. Mereka sangat suka dongeng dan cerita, makanya sekalian kami sisipkan nilai-nilai lokal dan dakwah di dalamnya,” ungkapnya.

Sementara itu, tour performance selanjutnya, yakni pada Kamis (13/4) Seni Tutur Tsumakala akan pentas di MTs Al Munawaroh, Lau Krajan; Sabtu (15/4) di SMP 1 Dawe; Dan Senin (17/4) di Panggung Ngepringan KBPW. (hasyim/ umi, rid, adb)

Comments