Teror Moskow dan Relasi Rusia-Dunia Islam

0
444

Oleh: Didik T Atmaja  

Belum lama ini, jagad internasional dipertontonkan oleh aksi teror berupa penembakan massal yang terjadi di Moskow, Rusia. Penembakan itu terjadi saat konser grup rock Picnic manggung di kompleks ritel dan konser di Balai Kota Crocus.

Dikutip dari detik.com, Senin (25/3/2024), sedikitnya 137 sipil termasuk 3 anak tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Usai kejadian, kelompok ISIS mengklaim sebagai dalang dari penembakan massal itu. Statemen itu diperkuat dengan pernyataan pejabat Amerika Serikat (AS), bahwa intelijen AS mengonfirmasi ISIS-K bertanggung jawab atas serangan mematikan di gedung konser dekat Moskow. (Republika, 24/3/2024)

Imbuhan huruf “K” di belakang ISIS disebut merujuk pada sebuah nama “Khorasan”, yang diambil dari nama lama wilayah yang mencakup Iran, Turkmenistan dan Afghanistan. Kelompok itu muncul di timur Afghanistan pada akhir 2014, dan dengan cepat mendapatkan reputasi karena terkenal brutal. Dalam pandangan AS, ISIS-K merupakan sebuah ancaman serius.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Michael Kurilla, dalam Kongres (2023) menyebutkan, bahwa ISIS-K dengan cepat mengembangkan kemampuan untuk menggelar “operasi eksternal” di Eropa dan Asia. Kurilla memrediksi, kelompok itu dapat menyerang kepentingan AS dan Negara-negara Barat di luar Afghanistan.

Atas aksi teror tersebut, tak sedikit pemimpin negara, tokoh publik, dan pejuang kemanusiaan mengutuk keras kasus ini. Bahkan Presiden Rusia sendiri, Vladimir Putin, bersumpah bakal mengejar dalang di balik serangan tersebut. detik.com, 25/3/2024).

Tragedi kemanusiaan

Aksi teror dan penembakan brutal sebagaimana terjadi di Moskow sesungguhnya berseberangan dengan konsep Islam. Aprillani Arsyad dalam tulisannya “Pandangan Agama Islam Mengenai Terorisme, Kekerasan dan Jihad” (hlm. 77), mengungkap bahwa Islam menganjurkan etos kemanusiaan yang sangat menekankan kemanusiaan universal.

Islam menganjurkan umatnya untuk berjuang mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan, akan tetapi, perjuangan itu tidak harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme.

Dengan kata lain, untuk mencapai suatu tujuan yang baik sekali pun, Islam tidak memperkenankan menghalalkan segala cara apalagi cara-cara kekerasan.

Pun dari sisi Kristen, yang menyebut bahwa Alkitab jauh sebelumnya telah mengajarkan hukum kasih yang tidak dapat ditawar-tawar. Agustina Pasang (Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen,  Vol. 4/No.2/2019: 131) memaparkan bahkan hingga Tuhan Yesus sendiri menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan karena kasih-Nya kepada manusia yang berdosa.

Orang Kristen dituntut bukan hanya menerima dan merasakan kasih tetapi bagaimana membagikan kasih itu kepada orang lain. Di sisi lain Tuhan Yesus menghendaki agar orang Kristen menjadi garam dan terang kapan pun dan di mana pun serta terhadap siapapun (Mat. 5:13-16).

Maka siapapun pelakukanya, sesungguhnya penembakan brutal yang terjadi di Moskow merupakan sebuah tragedi kemanusiaan. Teror serta tindakan anarkis yang keji, yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia, tak lain dimaksudkan untuk menghancurkan peradaban manusia.

Maka bisa kita sepakati, bahwa sejatinya aksi teror tak mengenal agama. Bahkan tak ada satu pun agama yang mengajarkan tindakan teror dan kekerasan.

Relasi Rusia-Islam

Oknum Islam garis keras (ISIS-K) boleh mengklaim bahwa tindakan penembakan brutal tempo hari di Moskow adalah tindakannya. Namun secara universal, aksi teror itu tak ada kaitannya dengan dunia Islam yang telah berdampingan secara harmonis.

Hal itu karena relasi Rusia dengan dunia Islam, sesungguhnya telah terbangun lama. Baik Rusia maupun Negara-negara Islam dunia tampak saling support dan berjalan mesra.

Islam di Rusia, misalnya, sejatinya telah ada sejak abad ketujuh, yakni masuk melalui wilayah Kaukasus Utara (NUOnline, 27/3/2023). Dan hingga saat ini, Rusia memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa dan menjadikannya sebagai kelompok agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks (Antara, 12/8/2022).

Ketua Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Federasi Rusia dan Eropa Utara (FREU), Amy Maulana mengungkapkan, bahwa Islam adalah agama terbesar kedua di Rusia setelah Ksristen Orthodox. Setidaknya ada sebanyak 30 juta warga Rusia beragama Islam dari populasi sebanyak 147 juta penduduk (NUOnline, 27/3/2023)

Dalam membangun relasi dengan dunia Islam, Rusia bahkan menjadikan dunia Islam sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negerinya. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov menyatakan negaranya sangat mengutamakan hubungan yang erat dengan negara-negara mayoritas muslim.

Ia menyatakan, Negeri Beruang Merah saat ini memiliki pandangan yang sama dalam membentuk tatanan dunia multipolar yang lebih adil dan demokratis, didasarkan pada prinsip Piagam PBB bersama dengan negara-negara Muslim (CNN, 27/4/2023).

Bukti dari kebijakan itu, Rusia kini berhasil menjadi mitra strategis negara-negara Muslim. Diplomasi Rusia untuk mendapatkan pengaruh di dunia Islam terlihat jelas sejak Presiden Putin menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Putrajaya Malaysia pada 2003.

Dalam pertemuan itu, selain mengeksploitasi fakta akan eksistensi populasi Muslim yang cukup besar di Rusia, Putin juga menyatakan siap menggunakan posisi strategisnya sebagai anggota tetap DK PBB untuk melayani upaya-upaya konstruktif yang sejalan dengan kepentingan negara-negara Muslim anggota OKI.

Alhasil, Rusia resmi didaulat menjadi anggota pengamat OKI sejak 2005. Rusia juga berhasil mencatatkan sejarahnya sebagai negara Eropa dengan mayoritas Kristen Ortodoks pertama yang berhasil menjadi anggota pengamat OKI.

Peran aktif Rusia dalam organisasi OKI diwujudkan lebih konkret melalui lembaga eksekutif bernama The Group of Strategic Vision “Rusia–Islamic World” yang dibentuk pada 2006. Rusia juga terlibat menginisiasi berdirinya BRICS (Brazil, Rusia, India, China, and South Africa) yang dibentuk di Yekaterinburg, Rusia, pada 16 Juni 2009 silam.

Sedang pada 2024 ini, Negeri Tirai Besi yang mendapat giliran presidensi kemudian memuat agenda penguatan organisasi dan perluasan keanggotaan. Rusia bahkan memutuskan bakal menggelar KTT BRICS di Ibukota Republik Tatarstan, Kazan, pada bulan Oktober 2024 nanti (Muhammad Qobidl ‘Ainul Arif, 25/3/2024).

Pada akhirnya, bisa disimpulkan bahwa aksi penembakan brutal oleh kelompok ISIS di Moskow merupakan tragedi kemanusiaan belaka. Pelakunya adalah oknum kelompok Islam, yang memang memiliki tujuan tertentu.

Kita semua tentu merasa sangat prihatin. Di sisi lain, kita bisa memaknai, bahwa tindakan teror itu merupakan bagian dari upaya penjegalan terhadap Rusia di tengah upayanya menjalankan misi diplomasi strategis, dalam menjalin hubungan dengan dunia Islam. (*)

Didik T Atmaja,

Penulis adalah founder Alfa Institute serta mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim Semarang. Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.  

Comments