Mahlail Syakur Sf: Jasa KH R Asnawi Sangat Besar bagi Bangsa dan Kemajuan Pendidikan Islam

0
926
H Mahlail Syakur Sf/ Foto: dokumentasi pribadi (istimewa)

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Ketua Lembaga Ta’lif wa Al-Nasyr (LTN) PWNU Jawa Tengah periode 2018 – 2023, H Mahlail Syakur Sf, menegaskan dukungannya terhadap pengusulan KH R Asnawi sebagai Pahlawan Nasional.

Akademisi Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang itu berpandanga, bahwa KR R Asnawi atau yang biasa dikenal dengan Mbah Asnawi, sangat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

“Bagi kami, pengusulan Mbah Asnawi sebagai Pahlawan Nasional sangat tepat. Pemerintah mestinya merespons dengan baik usulan ini,” tegasnya.

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa Mbah Asnawi layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. “Dalam konteks kenegaraan, kontribusi Mbah Asnawi sangat besar. Baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun jasanya dalam menjaga keutuhan NKRI,” katanya.

Pada masa penjajahan Belanda, Mbah Asnawi senantiasa mengobarkan persatuan dan kesatuan. Nilai-nilai nasionalisme ditanamkan kepada masyarakat, khsusunya santri, baik di Kudus, Jepara maupun daerah-daerah lain,” ungkapnya.

Sedang di masa pendudukan Jepang, Mbah Asnawi berjuang melalui dakwah dengan menyampaikan menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme di kalangan rakyat, sehingga pernah rumah dan pondok beliau dikepung oleh tentara Dai Nippon karena dituduh menyimpan senjata api, bahkan sampai dibawa ke Markas Kempetai di Pati dan ditahan di sana.

“Selanjutnya, di masa awal kemerdekaan, terutama menjelang Agresi I, Mbah Asnawi melakukan gerakan ruhani dengan membaca Shalawat Nariyah dan Doda surat al-Fiil, yang diikuti oleh para pemuda dari laskar-laskar bersenjata, bahkan ada yang memohon bekal ruhaniyah (hizib) kepadanya sebelum berangkat ikut mempertahankan NKRI Markas Genuk, Alas Tuwo dan lainnya,” terangnya.

Di bidang dakwah, kontribusi KH R Asnawi antara lain bisa dilihat dengan Majelis Pengajian Sanganan di Masjid Jami’ Kauman Wetan Kudus dan Pengajian Pitulasan di Masjid Agung Menara Kudus.

“Beliau juga mendirikan pondok Bendan yang masih eksis hingga saat ini. Kemudian aktif dalam Syarikat Islam (SI) di Mekah, ikut mendirikan Madrasah Qudsiyyah, dan menginisiasi perluasan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus,” lanjut H Mahlail Syakur Sf menambahkan. (adb, ros, gie, rid)

Comments