Kudus sebagai Simbol Ukhuwah

0
28

Oleh: Muhammad Labib Lizam

(Santri Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kota, Kudus) 

Ramadan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam, untuk mempererat ukhuwah (persaudaraan) serta memperbanyak amal kebaikan.

Di tengah tradisi saling berkunjung dan berbagi hantaran, masyarakat Kudus memiliki satu penganan (jajanan) khas yang sarat makna, yaitu Jenang Kudus.

Namun, Jenang Kudus lbih dari sekadar makanan manis. Lebih dari itu, jenang menjadi simbol doa, harapan, dan pengikat tali silaturahmi.

Sejarah dan Identitas Budaya

Kudus, sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah, dikenal sebagai Kota Kretek sekaligus kota santri. Identitas religius ini tidak lepas dari pengaruh dakwah Kanjeng Sunan Kudus, salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya.

Dalam konteks inilah jenang hadir sebagai bagian dari kearifan lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam.

Jenang Kudus terbuat dari campuran tepung beras ketan, santan, dan gula yang dimasak dalam waktu lama hingga menghasilkan tekstur kenyal dan rasa manis legit. Proses pembuatannya yang memerlukan kesabaran dan ketelatenan mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya: tekun, sabar, dan penuh ketulusan.

Makna Filosofis  

Pada saat Ramadan, jenang sering dijadikan sebagai hantaran (oleh-oleh) ketika bersilaturahmi ke rumah keluarga, tetangga, maupun guru.

Menilik dari hal itu, maka bisa dianalisa, bahwa ada beberapa makna filosofis yang terkandung di dalamnya:

  1. Simbol Kemanisan Hubungan

Rasa manis pada jenang melambangkan harapan agar hubungan antar sesama senantiasa harmonis dan penuh kasih saying.Memberikan jenang berarti menyampaikan doa agar silaturahmi terasa “manis” dan membawa kebahagiaan.

  1. Lambang Ketulusan dan Kesabaran

Proses memasak jenang yang lama dan membutuhkan pengadukan terus-menerus menggambarkan pentingnya kesabaran dalam menjaga hubungan. Silaturahmi tidak cukup sekali waktu,tetapi harus di rawat dengan hati.

  1. Simbol Persatuan

Bahan-bahan yang berbeda menjadi satu adonan utuh.Hal ini melambangkan keberagaman Masyarakat dalam kehormatan,kepedulian terhadap sesama,serta menjunjung tinggi dalam kebersamaan.

  1. Sedekah dan Rada Kepedulian

Dalam Islam kita diajarkan bahwa sedekah merupakan amalan yang sangat Istimewa,terutama saat kita menjalani saat di bulan Ramadan yang penuh dengan keberkahan ini.Dengan memberikan jenang kita akan memperkuat hubungan persaudaraan dan lain sebagainya.

Media Dakwah Kultural

Tradisi berbagi jenang tidak hanya bermakna sosial, tetapi juga religius. Sejak masa Wali Songo, pendekatan budaya menjadi sarana efektif dalam menyampaikan nilai-nilai Islam.

Melalui makanan khas seperti jenang, pesan tentang kebersamaan, syukur, dan ukhuwah tersampaikan secara halus dan membumi.

Di era modern seperti sekarang, ketika tradisi mulai tergeser oleh gaya hidup praktis, mempertahankan kebiasaan membawa jenang saat silaturahmi Ramadan menjadi bentuk pelestarian identitas budaya sekaligus penguatan nilai spiritual.

Ya. Jenang Kudus tidak sekadar penganan khas daerah, melainkan simbol kemanisan iman dan kehangatan persaudaraan. Dalam setiap potong jenang yang dibagikan saat Ramadan, terselip doa agar hubungan tetap terjaga, hati tetap lembut, dan kebersamaan terus dirawat.

Dengan demikian, filosofi jenang mengajarkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi jembatan antara budaya dan agama; menghadirkan makna mendalam pada momentum silaturahmi di saat Ramadan. Wallahu a’lam. (*)

 

Comments