Ulama Perpektif Gus Mus, Seperti Apakah?

0
1299
Gus Mus menyimak Sujiwo Tedjo menyampaikan perspektif-perspektifnya.

JAKARTA, Suaranahdliyin.com – Banyak hal (perpektif) yang disampaikan KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam program Mata Najwa di Trans7, Rabu (13/6/2018) malam ini. Salah satunya adalah, bagaimana ulama perspektif kiai sekaligus budayawan asal Kabupaten Rembang itu.

Kiai, ulama adalah pewaris para Nabi. Maka menurutnya, sebagai pewaris para Nabi, tentu harus memiliki (meneladani) sifat-sifat Nabi (Muhammad SAW). ‘’Nabi itu tidak kuasa melihat penderitaan umatnya. Nabi selalu melihat umat dengan mata kasih sayang (yandhuru al-naas ni nadhri al-rahma).

‘’Andai Nabi Muhammad itu kasar, tentu tidak ada yang ingin dekat dengan Rasulullah,’’ kata Gus Mus yang kemudian didaulat Najwa Shihab untuk membacakan puisi karya Gus Mus yang berjudul  ‘Aku Merindukanmu Oh Muhammadku’.

Akan tetapi, menurut Gus Mus, ulama itu ada bermacam-macam. Ada ulama yang memang memiliki kapasitas intelektual, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai kiai, sebagai ulama. Namun ada juga ulama produk produk pers, produk media massa.

‘’Ada juga ulama produk pemerintah. Ada juga kiai bikinan politisi. Lalu ada kiai yang bikinan sendiri. Modalnya, peci haji paling Rp. 5.000. Beli serban Rp. 50 Ribu, yang agak wibawa yang warna hijau. Lalu menghafalkan tiga atau empat ayat yang biasa dipakai. Hadis pakai Arbain Nawawi, pendek-pendek hadisnya,’’ katanya.

Lepas dari definisi ulama itu, yang berbahaya menurutnya adalah, kalau yang diucapkan itu sesuatu yang bertentangan dengan agama. Misalnya menghalalkan fitnah, menghalalkan ujaran kebencian dan (hal tidak baik-red) lain,’’ ujarnya. (ros, gie/ adb)

Comments