Syiar Ramadan dengan Media Digital 

0
980

Oleh: Fithria Kamilia

Ramadan merupakan bulan mulia, di mana semua amal dilipatgandakan, tanpa terkecuali. Maka isilah Ramadan dengan aktivitas yang bermakna dan bernilai ibadah.

Salah satu yang bisa dilakukan yaitu berdakwah. Pada momentum Ramadan, penting untuk melakukan dakwah, dalam arti mengajak kebaikan kepada orang lain.

Sebagaimana pesan Nabi dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh Iimam Bukhori dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”.

Dari hadis tersebut bisa dipahami, bahwa Nabi Muhammad memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan dakwah (mengajak kepada kebaikan) meskipun hanya satu ayat.

Dakwah sendiri memiliki artian sebagai ajakan, panggilan, mengundang dengan tujuan  mengajak kebaikan di jalan Allah.

Di era kekinian, ruang untuk berdakwah sangat beragam, tak terkecuali memanfaaatkan beberapa teknologi yang populer sebagai sarana syiar Ramadan, melalui berbagai platform media, termasuk media sosial.

Media sosial bisa menjadi sarana efektif berdakwah, melalui ragam variasi konten dakwah yang disajikan secara menarik untuk menarik minat publik.

Konten dakwah yang variatif bisa dengan live streaming ngaji Ramadan, seminar Ramadan, teks inspiratif, podcast Ramadan, maupun lainya yang di kemas dengan bahasa yang sederhana agar pesan dakwah bisa tersampaikan dengan baik.

Adanya dakwah digital, semakin memudahkan masyarakat dalam menjangkau. Sehingga tidak heran jika banyak sekali masyarakat yang menggunakan media digital, untuk dapat memperoleh informasi.

Dengan itu, masyarakat dapat menonton dakwah kapan saja dan dimana saja. Maka dari itu, penting untuk memberbayak dan memperluas cakupan konten dakwah, agar dapat mengajak publik dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Selain dapat di akses dengan mudah, dakwah melalui media digital juga dapat dijadikan sebagai tempat pendukung amaliah Ramadan dengan ceramah, tilawah al-Quran dan konten lain yang dapat memotivasi untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Wallahu a’lam. (*)

Fithria Kamilia,

Penulis adalah santriyah Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) pada IAIN Kudus.

 

 

 

Comments