Sudahkah Kita Menulis Ramadan Tahun ini? 

0
617

Hari ini, adalah 10 terakhir Ramadan 1444 H/ 2023 M. 20 hari sebelumnya, tentu memiliki catatan tersendiri bagi setiap umat Islam, tentang bagaimana mereka mengisi hari-hari di bulan suci ini. Apakah diisi dengan kebaikan-kebaikan dengan upaya peningkatan dengan penuh ketakwaan, atau melewatinya berlalu tanpa makna “yang mengesankan”?

Lepas dari pertanyaan mendasar di atas, tentu kita semua –umat Islam- paham, Islam adalah bulan suci, bulan istimewa, bulan penuh rahmat, di mana kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dalamnya, akan dilipatgandakan pahalanya.

Tetapi, yang tidak boleh dilupakan adalah, bahwa pada Ramadan, ada satu yang sangat istimewa, yang selalu diperingati keberadaannya; nuzulul quran. Yakni hari di mana Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menerima wahyu pertama melalui perantara malaikat Jibril.

Surat Al-Alaq, dengan ayat pertamanya; Iqra’ (artinya: bacalah), menjadi ayat pertama yang diterima Rasulullah. Sebuah ayat yang memiliki kandungan makna luar biasa, jika umat Islam mau memaknainya secara luas.

Betapa tidak. Iqra’, ayat yang pertama kali turun ini, sangat terkait erat dengan literasi. Iqra’ adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar umat Islam “membaca”. Dan berkat membaca –yang merupakan bagian dari tradisi literasi- inilah, maka ilmu pengetahuan berkembang, sehingga berkontribusi besar dalam peradaban.

Membaca sendiri, tentu membutuhkan obyek yang mesti dibaca; karya tulis, yang pada gilirannya menjadi pendorong majunya ilmu pengetahuan. Dan di luar itu, bisa juga melakukan pembacaan sosial, yang akan berdampak pada tumbuhnya kepekaan dan kepedulian sosial.

Terkait hal itu, ada satu pertanyaan yang mesti diajukan; sudahkah kita menulis pada Ramadan kali ini?

Pertanyaan mendasar ini diajukan, untuk mengingatkan bahwa ada “kewajiban” penting yang tidak boleh dilupakan oleh umat Islam, yakni mengembangkan literasi. Ini sesuai dengan pesan yang tersirat dalam ayat al-Quran yang pertama kali turun yang kita pahami bersama.

Sudahkah kita menulis pada Ramadan kali ini? Jika masing-masing kita sudah melakukan ini, tentu bisa kembali meningkatkan produk literasinya. Namun jika belum, maka Ramadan belum lagi pergi, sehingga masih ada waktu bagi kita untuk menorehkan karya, walaupun hanya satu, mengisi Ramadan ini.

Jika banyak dari kalangan umat Islam yang sadar pentingnya berkarya, menulis, tentu akan menambah khazanah pengetahuan dan keilmuan yang sangat luar biasa; dari beragam perspektif dan beragam genre. Baik itu berupa opini, esai, puisi, cerita pendek (cerpen) maupun lainnya.

Dengan bahasa sederhana bisa dikatakan, bahwa Ramadan mestinya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran literasi umat Islam secara luas. Tidak sekadar membaca. Tetapi lebih dari itu, bagaimana agar umat Islam juga menuliskan karya-karya untuk disumbangkan kepada umat dan peradaban. Wallahu a’lam. (redaksi)

 

 

Comments