Sisi Lain KH. Wahab Hasbullah dan Tiga Matra Bernegara ala Nahdlatul Ulama

0
394
  • Belajar Bersikap dari Mbah Wahab (2)
Mbah Wahab bersama KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Bisri Syansuri.

KENDATI terkenal sebagai panglimanya para kiai, KH. Wahab Hasbullah tidak lantas terbebas dari berbagai tuduhan dan fitnah. Sebagian masyarakat bahkan pernah sampai menuduh Mbah Wahab sebagai ulama yang pro dengan paham komunis. Tidak hanya itu, beliau juga sempat dituduh sebagai penjilat karena mendukung beberapa kebijakan Presiden Soekarno pada saat itu.

Meski begitu, Mbah Wahab tetap santai saja menanggapi berbagai tuduhan itu. Ini lah sisi lain ulama asal Tambakberas, Jombang tersebut. Sebagai ulama yang sudah terbiasa menyusun strategi berlapis Mbah Wahab memiliki pertimbangan dan cara lain untuk menjawab tuduhan-tuduhan tersebut. Ketika disampaikan kepadanya suatu tuduhan macam-macam ia pun hanya tersenyum dan berkata :

“Kalau saya anggota biasa Nahdlatul Ulama tentu tidak akan jadi sasaran kritik dan cacian. Tetapi saya ini termasuk pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. Biasa, pohon tinggi juga jadi sasaran tiupan angin. Kalaulah saya hanya sekadar ‘rumput’ tentu tidak akan jadi sasaran badai,” kata Mbah Wahab sebagaimana dicatat oleh Kiai Saifuddin Zuhri dalam bukunya Guruku Orang-Orang Pesantren (2001).

Dalam praktiknya, sikap Mbah Wahab ini membuat beliau selalu tegas dan berani mengambil risiko kepemimpinan. Beliau menjadikan Nahdlatul Ulama menjadi organisasi Islam yang kokoh dan disegani. Nalar politik kebangsaan dipegang teguh untuk menjaga negeri ini agar tetap pada jalan menuju peradaban yang dicita-citakan para ulama pendahulu.

Keseimbangan menjadi pertimbangan utama Mbah Wahab dalam mengawal terwujudnya cita-cita tersebut. Tampak dari rekam jejaknya, Mbah Wahab telah mengajarkan kepada umat agar memiliki tiga matra utama dalam bernegara. Tiga matra tersebut juga merupakan tunas pergerakan Nahdlatul Ulama yang ia rintis bersama KH. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya.

Pertama, mengokohkan simpul kebangsaan dan cinta tanah air. Matra ini tercermin dalam organisasi Nahdlatul Wathan yang beliau dirikan pada 1916. Tujuannya tidak lain untuk menumbuhkan kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu padu saling asah, asih dan asuh menjaga harkat dan martabat bangsa agar tidak jatuh di mata bangsa lain.

Kedua, mengokohkan pemikiran dan langkah strategis untuk menyusun gerakan yang harmonis dan dinamis demi terciptanya peradaban yang unggul. Matra ini terkandung dalam tujuan organisasi Tasywirul Afkar (gerakan pemikiran) yang beliau dirikan pada 1918 bersama beberapa tokoh nasional, seperti Dr. Soetomo.

Ketiga, mengokohkan pondasi dan gerakan ekonomi/perdagangan sebagai penopang dua matra sebelumnya. Matra ini lah yang mendasari terbentuknya Nahdlatut Tujjar yang dipimpin langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 1918 dengan Kiai Wahab sebagai sekretarisnya. Matra ketiga ini menjadi basis ekonomi umat yang berfungsi sebagai energi pergerakan sosial-keagamaan. (Munawir Aziz, 2016)

Sikap dan wawasan Mbah Wahab yang demikian itu juga lah yang akhirnya diteladani oleh para murid/santri, pengurus PBNU, dan orang-orang setelahnya. Seperti halnya, KH. Idham Chalid, KH. Saifuddin Zuhri, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid dan lain sebagainya. (M. Farid)

Comments