Saat Mbah Liem ‘’Bangunkan Mbah Hasyim’’ agar Membantu Gus Dur

0
285

Muktamar NU ke -29 pada 1 – 5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat bisa dibilang Muktamar paling menegangkan dan terpanas dalam sejarah Muktamar NU. Muktamar tersebut merupakan puncak kezaliman rezim orde baru terhadap NU.

NU dan juga KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dipandang sebagai ancaman nyata rezim tersebut. Maka berbagai cara dan daya upaya untuk menjegal Gus Dur agar tidak kembali menjadi Ketua Umum PBNU, dilakukan.

Di puncak muktamar, sewaktu penghitungan suara, perolehan suara Gus Dur tertinggal oleh perolehan suara Abu Hasan. Para kiai pendukung Gus Dur mulai gundah dan pasrah. Wajah mereka nampak sangat sedih.

Pada saat itulah, ada sekelompok pemuda menghampiri KH Moeslim Rifa’i Imampuro (Mbah Liem) yang tetap setia berada di arena muktamar. “Mbah, pripun niki, Gus Dur mau kalah,” kata mereka.

“Wis ora usah kakehan polah. Ayo ndungo bareng, nangekke Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari-red),’’ jawab Mbah Liem, yang kemudian segera mengajak para pemuda itu berdoa: membaca basmalah, syahadat dan salawat bersama, dan doa lain mengikuti Mbah Liem.

“Mbah Hasyim. Mbah Hasyim. Yen kowe ora lilo kuburanmu diuyuhi uwong, tangio. Tangio. Ewangono putumu ben menang. Alfaaatekhah,’’ kata Mbah Liem.

Subhanallah. Allahu Akbar. Setelah Mbah Liem berdoa, perolehan suara Gus Dur langsung mengejar perolehan suara Abu Hasan, dan akhirnya Gus Dur pun unggul, mengalahkan rivalnya yang notabene ‘’boneka’’ rezim orde baru, waktu itu.

Gus Zuhri menambahkan cerita lain. Sekitar tahun 1983, Gus Dur, ditemani Mbah Liem, ziarah ke Makam Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang. Saat itu Mbah Liem membawa 10 map, yang di dalamnya terdapat tulisan Mbah Liem.

Sesampainya di makam Mbah Hasyim, Mbah Liem berkata kepada Gus Dur (yang merupakan isi tulisan yg ada di dalam MAP). “Gus. Kowe ojo ngaku putune Mbah Hasyim yen ora iso ngatur negoro iki,’’ tuturnya. Selanjutnya sembilan map lain diberikan kepada Gus Dur, sedang satu map ‘’disimpan’’ Mbah Liem.

Wallahu a’lam. Setahun kemudian, tepatnya pada 1984, di Muktamar ke – 27 di Situbondo, Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dengan khittah NU-nya. Gus Dur diminta Mbah Liem memimpin NU hingga tiga periode untuk mengawal Khittah NU agar semakin jelas.

Menurut Gus Zuhri, Mbah Liem selalu berada di belakang untuk membela Gus Dur, namun juga tak segan – segan mengingatkan Gus Dur bila dipandang salah (keliru).

Ali Mahbub,

Penulis adalah Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah Bidang Koordinator Wilayah Soloraya

Comments