”Riuh” dalam ”Senyap”

0
406

Oleh: Rosidi

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kudus, pada Maret mendatang akan menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab), yang salah satu agenda pentingnya adalah memilih ”nahkoda baru”.

Namun hingga sekitar satu bulan menjelang gelaran Konfercab, suasana nampak masih adem ayem saja. Konfercab seakan tak ada greget. Siapa – siapa kader terbaik NU Kota Kretek yang bakal tampil mencalonkan diri sebagai calon ketua PCNU, juga belum ada yang disebut – sebut secara santer. Hanya ”desas – desus” saja yang ada.

”Senyap” nampak seakan masih menggelayut, menatap Konfercab. Namun apakah benar – benar Konfercab benar –  benar senyap?

Bisa jadi, ‘’senyap’’ yang nampak menjelang Konfercab PCNU Kudus, itu hanya luarnya saja. Karena mungkin saja, ‘’riuh’’ adalah suasana sebenarnya yang ada, kendati masih sebatas di pendukung – pendukung para calon yang masih ‘’menyimpan’’ strategi agar kader terbaik yang didukungnya, bisa terpilih dalam pemilihan ketua PCNU pada Konfercab.

‘’Riuh’’ dalam ‘’senyap’’. Ya, itulah yang mungkin sebenarnya terjadi. Dan itu bisa dimaklumi, karena dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), yang dikedepankan adalah kesantunan dan saling menghormati antartokoh, sehingga ‘’malu’’ untuk memunculkan dirinya sendiri.

Kendati nampaknya ‘’senyap’’ suasana jelang Konfercab, namun warga Nahdliyin di Kabupaten Kudus, ini tak perlu khawatir, lantaran banyak tokoh – tokoh atau kader NU Kota Kretek yang memiliki kemampuan untuk memimpin organisasi itu.

Banyak nama – nama yang cukup populer dan memiliki kemampuan untuk memimpin NU Kudus, di antaranya Drs. H. Shodiqun M.Ag, Drs. H. Sanusi Emha M.Ag, Dr. H. Ihsan, Drs. H. Fajar Nugroho, H. Asyrofi, Drs. H. Noor Badi MM. Sedang di kalangan kader muda, ada nama – nama seperti H. Sarmanto Hasyim, Dr. H. Kisbiyanto dan H. Nur Said MA.

Tidak hanya itu. Masih banyak tokoh dan kader lain yang mumpuni, yakni tokoh – tokoh (kader) NU yang kini memimpin Pondok – pondok Pesantren dan juga para ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) di sembilan kecamatan yang ada di Kudus.

Lepas dari ‘’suasana’’ yang ada saat ini, ‘’riuh’’ maupun ‘’senyap’’, para warga Nahdliyin di Kudus ini tentu menaruh harapan besar, bahwa siapa pun yang terpilih untuk menahkodai NU Kudus ke depan, adalah tokoh yang tidak sekadar memiliki kualitas (mumpuni), tetapi juga ‘’kober ngopeni’’ organisasi dan warga Nahdliyin.

Dan untuk memeroleh ‘’nahkoda baru’’ yang mumpuni dan ‘’kober ngopeni’’, ini menuntut mereka yang memiliki hak pilih dalam Konfercab, bisa memilih dengan pertimbangan yang matang. Semoga ‘’nahkoda baru’’ NU Kudus yang akan terpilih, benar – benar menjadi pemimpin yang bisa membawa NU Kudus menjadi lebih baik. Amin. (*)

Rosidi,

Pemimpin Redaksi Suaranahdliyin.com dan staf pengajar MA. NU. Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus.

Comments