PPDI Harap Ada Sosialisasi Tatanan Kenormalan Baru

0
424
Mohamad Zulichan, ketua PPDI Kabupaten Jepara

JEPARA, Suaranahdliyin.com – Wacana pemerintah untuk memberlakukan tatanan kenormalan baru (new normal) selama pandemi Covid-19, mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Pengurus Cabang Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Jepara, Mohamad Zulichan.

Kepada Suaranahdliyin.com, Jum’at (28/5/2020) melalui siaran pers, Zulichan menjelaskan, bahwa di masa normal sebelum pandemi Covid-19 pihaknya merasa punya banyak keterbatasan, apalagi nanti pada saat diberlakukan tatanan normal baru. Tentuharus banyak melakukan penyesuaian.

“Perlu adanya sosialisasi yang menyeluruh dan akses informasi cukup untuk disabilitas tentang apa itu new normal”, ungkap Zulichan. “Apakah new normal itu semacam ucapan selamat menempuh hidup baru bagi kaum disabilitas?” lanjutnya, menambahkan.

Dia pun memaparkan, bahwa kehidupan normal dari disabilitas adalah penuh keterbatasan, perlakuan khusus dan pendampingan agar bisa lebih mandiri. Sedang di sisi lain, stigma masyarakat kepada kaum disabilitas juga belum sepenuhnya positif. Perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah desa belum optimal. Disabilitas masih tersisih, bahkan terlupakan.

Undang undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Daerah Kabupaten Jepara Nomor 7 tahun 2019 tentang Penyandang Disabilitas, memang telah diundangkan dan disahkan, namun pelaksanaannya terkesan lambat.

“Masih banyak penyandang disabilitas yang belum masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial, sehingga pada masa pandemi Covid-19 tidak memperoleh jaring pengaman sosial (JPS), baik BLT, BDT maupun KIS,” jelasnya.

Kendati begitu, ungkapnya, ada pihak-pihak yang cukup peduli dan memberikan sumbangan, seperti KH. Nuruddin Amin (Gus Nung), Hj. Hindun Anisah, Fathan Subchi. Juga sumbangan sembako dari BPBD Jawa Tengah melalui Layanan Inklusi Disabilitas (LIDi).

“Semoga ke depan organisasi penyandang disabilitas (OPDis) yang bergabung dalam PPDI, seperti Persatuan Tuna Netra Indonesia (PERTUNI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN), National Paralympic Commiittee Indonesia (NPCI), Lentera Disabilitas dan yang lain makin mendapatkan perhatian pemerintah,” harapnya.

Dan secara berkelakar Zulichan mengaku betapa sulitnya beradaptasi dalam tatanan kenormalan baru bagi tuna rungu-wicara. “Jika tuna rungu-wicara harus memakai masker, bagaimana cara berkomunikasi dengan isyarat tangan dan gerak bibir?” kata Zulichan dengan nada gurauan. (rls/ adb, ros, rid)

Comments