Perpindahan Kiblat dan Menara Kudus

0
309
Dok: Ilustrasi

Oleh: Kholilurrohman MH

Menara Kudus adalah salah satu simbol Islam Nusantara. Islam yang didakwahkan bukan dengan kekerasan, kekuasaan dan intimidasi, namun dengan cara asimilasi, sinkretisasi dan akulturasi budaya.

Desain Menara Kudus dan letak gerbang menggunakan aturan seperti Pura persembahyangan Agama Hindu khas Sunda, Jawa dan Bali. Terdapat gerbang depan, kemudian gerbang terbang tengah dengan gapura Padureksan. Arsitektural ini sampai kini masih diwariskan oleh umat Hindu, sampai sekarang. Hal ini karena Sunan Kudus menghormati masyarakat yang mayoritas Hindu.

Model fikih dakwah ala Sunan Kudus memiliki corak khas. Jika dakwah ala Sunan Kudus diterapkan zaman sekarang, mungkin banyak yang mengkritik model dakwah seperti itu. Dilihat dari khazanah fiqh, tindakan Sunan Kudus dianggap tasyabbuh (meniru-niru) orang non muslim. Wayang, gamelan, beduk, selametan dll, juga meniru.

Akhirnya, Islam menjadi tercampur dengan adat istiadat. Mereka yang mengatakan bidah terhadap praktik seperti ini akhirnya mengutip dawuh seorang sunan (entah valid atau tidak) yang menyatakan bahwa nanti ada generasi yang akan memberantas tradisi ini.

Pertanyaannya, apakah dakwah yang dilakukan Walisongo ini ada ibarotnya (kata orang NU) atau ada legalitas dari alquran dan alhadis (kata orang yang alergi dengan kitab kuning)?

Sunan Kudus dikenal dengan kedalaman ilmu, sehingga ia dijadikan sebagai qadli Kerajaaan Demak. Tindakan Sunan Kudus tentu bukan didasarkan atas logika atau nafsu semata. Kanjeng Ja’far Shodiq meniru model dakwah Nabi kepada Yahudi Madinah.

Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, karena dakwah di Makkah dihalang-halangi. Kehadiran Nabi di Madinah sangat ditunggu-tunggu, untuk menjadi juru damai dua kaum Madinah yang terus menerus berseteru, yaitu Aus dan Khazraj.

Yahudi adalah salah satu kaum yang menunggu-nunggu janji datangnya Nabi akhir zaman. Mereka kecewa berat karena nabi terakhir, Nabi Muhammad, tidak berasal dari Bani Israel. Yahudi memiliki cukup banyak pengikut di Madinah dan memiliki peran besar dalam perekonomian. Ahli kitab seperti Nasrani, tidak memiliki jumlah pengikut di Madinah sebanyak Yahudi. Karena itulah, Alquran dan Hadis lebih sering menyebut Yahudi dari pada Nasrani.

Obyek dakwah Nabi masa awal di Madinah salah satunya adalah ahli kitab Yahudi. Mereka memiliki konsep yang hampir mirip dengan Islam, sehingga mereka tidak asing dengan konsep agama Islam dan mudah luluh. Islam dan Yahudi memiliki ritual larangan dan perintah yang hampir sama, seperti khitan, menyembelih binatang dengan cara halal, larangan makan babi, riba, dan lainnya.

Pada masa awal hijrah ke Madinah, Nabi menganjurkan umatnya berpuasa Asyuro (10 Muharram), karena Yahudi memperingati selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun. Rasulullah dahulu menyisir rambut beliau ke arah depan hingga kening meniru ahli kitab, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambutnya ke bagian kiri-kanan kepala mereka.

Kiblat yang awalnya menghadap ke Makkah, Allah menyuruh Nabi berpaling ke Masjid Al-Aqsha, Palestina. Pengalihan kiblat dalam konteks ini, untuk menguji ketaatan umat Nabi Muhammad, sekaligus menarik simpati dan meluluhkan hati Yahudi yang juga beribadah menghadap Masjid Al-Aqsha.

Namun bukan bersimpati yang didapat. Mereka malah mengolok-olok, bahwa Nabi sudah putus asa dan berubah pikiran untuk mengikuti agama nenek moyang mereka. Yahudi Madinah semakin congkak dan merendahkan Nabi.

Pada akhirnya, Nabi melarang keras umatnya meniru-niru sesuatu yang menjadi ciri khas orang Yahudi. Islam perlu mengukuhkan identitasnya. Nabi menganjurkan umatnya shalat memakai sandal agar tidak meniru Yahudi yang beribadah lepas sandal, Nabi melarang umatnya menyemir rambut dengan warna hitam, dan praktik-praktik lainnya.

Meniru agama lain, bukannya dilarang sama sekali. Tentu ada konteks dan sejarah yang melingkupinya. Meniru gaya atau tanda agama lain, baru terlarang jika ia berniat meniru simbol yang menjadi ciri khas suatu agama, tanpa ada tujuan lain yang dibenarkan syariat, seperti berpakaian ala sinterklas pada saat Natal.

Jangan katakan bahwa dakwah Nabi gagal, sedangkan dakwah Walisongo sukses. Dilihat dari sejarah, Yahudi dari dahulu merupakan kaum yang sering mendustakan dan membangkang Nabi mereka, sekalipun diperlihatkan secara jelas mukjizat. Setelah Yahudi diperlihatkan laut merah yang dibelah oleh Nabi Musa, diberikan manna dan salwa, dan anugerah lainnya, mereka malah menyembah sapi.

Saya membuat judul dengan menghubungkan antara kiblat dan Menara Kudus, karena Kota Kudus sendiri merupakan ‘’miniatur’’ dari Palestina. Nama Kudus berasal dari Bahasa Arab yang sama dengan nama kota di Palestina, al-Quds atau nama lain dari Yerussalem.

Muria, gunung tempat disemayamkannya Kanjeng Sunan Muria, juga sama dengan nama Moria, nama gunung yang berada di wilayah Yerussalam. Masjid Menara dinamai juga dengan Al-Masjid Al-Aqsha, yang sama dengan nama masjid di Palestina. Wallahu a’lam. (*)

Kholilurrohman MH,

Menyelesaikan studi untuk jenjang S1 dan S2 pada Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur. Ini menjadi muhadlir (dosen) pada Ma’had Aly TBS Kudus, Jawa Tengah.

Comments