Pendidik PAUD dan Masa Depan Anak

0
190
Doc.Achmad Fakhrudin

Pendidikan, secara umum diartikan sebagai suatu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok, dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Secara wathaniyah, pendidikan memberikan dampak yang positif bagi kemajuan suatu negara. Diharapkan dengan adanya pendidikan yang baik, nantinya akan tercipta sosok penerus bangsa yang memberi kontribusi penuh bagi kelangsungan negara.

Selama ini, dalam kurun waktu yang cukup lama, sebenarnya pemerintah telah melewati banyak fase terkait masalah pendidikan, baik pembelajaran, metode maupun kurikulum yang silih berganti, untuk meningkatkan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pendidikan PAUD

Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 butir 14, menyatakan,  PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun, yang dilakukan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan belajar dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pada usia anak 0 – 6 Tahun, sering disebut sebagai usia emas (golden age), yaitu masa di mana mereka harus dididik melalui kebiasaan-kebiasaan. Tentunya kebiasaan-kebiasaan yang bisa menjadi teladan bagi anak – anak.

Hal ini tertera dalam metode pembelajaran PAUD. Beberapa aspek yang mesti diperhatikan dalam proses pembelajaran, antara lain aspek nilai agama dan moral, fisik – motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.

Setiap kegiatan pembelajaran oleh guru harus memberi stimulasi dari aspek-aspek tersebut. Tujuanya tak lain adalah untuk menghasilkan pendidikan PAUD yang baik dan membentuk karakter anak.

Kesantunan Guru PAUD

Memperhatikan ‘ al ummu madrasatul’ ula’, bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Dengan demikian, ibu memiliki peran penuh dalam proses pembelajaran anak, bahkan sejak anak belum lahir.

Namun secara luas, perlu dipahami pula, bahwa makna ‘ummu tidaklah ibu kandung saja, melainkan siapa saja yang mengasuh dan merawatnya. Jadi al-ummu di sini maknanya adalah makna yang diperluas.

Anak di masa golden age, dalam pandangan Islam adalah anak usia mumayyiz, di mana perkembangan fisik maupun motoriknya belum terlampau sempurna dan belum bisa dibebani oleh syari’at karena masih kategori mukallaf.

Di situlah peran ibu menjadi sebuah mesin penggerak. Kendati tak dapat dimungkiri, sosok ayah adalah penanggung jawab perihal nafkah, ayah adalah kendali, yang cukup dominan menentukan pendidikan agama ataupun sutradara, hakim, pemimpin dari keseluruhan hal yang berhubungan dengan rumah tangga.

Catatannya, mendidik anak usia dini tak bisa sembarangan. Melainkan harus dengan sepenuh hati mendidikanya. Terlebih, masih banyak pula masyarakat yang berpandangan, PAUD tak lebih sebagai lembaga untuk menitipkan anak.

Jelas, persepsi seperti itu tidak tepat, sebab, guru PAUD ikut menentukan pembentukan karakter anak di masa mendatang. Dan itu merupakan salah satu tantangan bagi pendidik PAUD, yang mensyaratkan pula untuk ‘’bersinergi’’ dengan orang tua anak yang dididiknya.

Pendidik PAUD adalah ibarat murabbi yang mesti bekerja dengan hati nurani, bukan hanya dengan logika semata. Dan pendidik PAUD, harus mengedepankan nilai – nilai kebaikan, kesalehan, kejujuran, dan akhlak baik, karena ia menjadi teladan bagi anak – anak didiknya. Wallahu a’lam. (*)

Achmad Fakhrudin,

Penulis adalah Pendidik KB Al – Azhar Jekulo dan pegiat Gubug Literasi Tansaro, Kudus.

Comments