Nilai Solidaritas dalam Tradisi Kepungan ala Santri/ Santriyah di Pesantren

0
669

Oleh: Riskavinaim

Banyak hal menarik dilakukan yang santri/ santriyah saat Ramadan, salah satunya di pesantren berbuka puasa dengan kepungan.

Istilah kepungan biasa digunakan oleh para santri/ santriyah untuk menunjukkan suatu kegiatan makan secara bersama-sama, dalam satu wadah besar. Biasanya wadahnya adalah berupa nampan (baki), bisa juga dengan menggunakan alas daun pisang untuk menyajikan makanan.

Kepungan biasanya menggunakan wadah yang besar biasanya satu nampan diisi sebanyak lima sampai tujuh orang, yang disajikan menu berupa masakan sederhana yaitu nasi dengan lauk pauk seperti kangkung, ayam, tempe, terong, telur, mie dan tidak kalah penting sambel yang wajib disediakan.

Di kalangan santri/ santriyah di pesantren, makan dengan cara kepungan adalah hal biasa. Tradisi kepungan ini sudah mentradisi, dan seringkali mengiringi setiap kali ada acara, mulai dari rotiban, khataman al-Quran atau khataman kitab tertentu, atau karena sekadar syukuran atas berbagai hal.

Tak ayal, kepungan ini menjadi suatu favorit santri/ santriyah, karena dapat meningkatkan solidaritas yang sangat erat.

Ya, kepungan menjadi salah satu contoh pembelajaran, agar para santri berpegang nilai solidaritas untuk melatih santri rukun, kekeluargaan dan welas asih. Hal ini juga dapat melatih para santri untuk menghindari dari sifat kikir dan bakhil.

Kepungan dengan banyak tangan dalam satu wadah besar, sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah.

Dalam sebuah hadis yang datang dari Sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan: “Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: (Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang? Rasulullah balik bertanya: Apakah kalian makan sendiri-sendiri? Mereka menjawab: Ya (kami makan sendiri-sendiri). Rasulullah pun menjawab: Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua”. (HR Abu Dawud)

Selain itu, keberkahan makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang (santri) yang ikut menikmatinya. Semakin banyak tangan, maka akan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri/ santriyah di pesantren, mentradisikan makan bersama dengan cara kepungan. (*)

Riskavinaim,

Adalah santriyah Pesantren Literasi Prisma Quranuna Kudus dan Mahasiswa Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) FKDI IAIN Kudus.

 

 

Comments