“Muhammad Pasti Pakai Mikroskup”

0
364

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Prof. Dr. Keith L.  Moore, adalah presiden American Association of Clinical Anatomi pada 1989-1901 di AS. Dia bersama dengan profesor Arthur F. Dalley II, menulis buku “Clinical Oriented Anatomi”.

Ketika sekelompok mahasiswa memperlihatkan referensi dari al-Quran tentang “Penciptaan Manusia”, dan setelah ia membacanya, lalu berkomentar: “Muhammad Pasti Pakai Mikroskup”.

Begitu seloroh ilmiah seorang profesor dengan puluhan brifet keilmuan kaliber internasional. Hal itu menjelaskan, bahwa ia memustahilkan sains abad ke-7 Masehi bisa memilih diksi saintifik  dengan ungkapan “lintah bergelantung yang menghisap darah/ makanan”.

Diksi tersebut cukup untuk merepreresentasikan bentuk dan sifat janin dengan kata “al-‘Alaq”. Dan diksi seperti itu mustahil (hadir) jika tidak ada intervensi wahyu kepada Nabi Muhamnad.

‘Ain, Lam dan Qaf memang dapat membentuk kata ‘alaq=gumpalan; ‘alaqah=lintah; dan bila ditasydid menjadi ‘allaqa, yu’alliqu. Ta’liq=gantungan; mu’allaq=bergantung, dan seterusnya. Semua itu menggambarkan penciptaan manusia sejak dari “nuthfah” bibit yang berupa satu spermatozoa dari duaratus limapuluhan juta bibit sperma dalam sekali keluar lebih kurang tiga cc itu.

Step-stepnya sangat tepat dengan fakta ilmiah. Dari nuthfah-‘alaqah-mudghah-‘izham-lalu dibungkus dengan lahmaa (daging).

Begitulah kekaguman saintis non muslim terhadap al-Quran yang kemudian menjadikan dirinya muallaf. Ini baru soal embrio dari sekian banyak isyarah ilmiah dalam al-Quran dan Sunnah. Maha Benar Allah dengan firman-Nya;

سنريهم اياتنا في الافاق وفي انفسهم حتى يتبين لهم انه الحق… Artinya: Akan Kami perlihatkan kepada mereka (orang kafir) pada ufuq-ufuq atau diri mereka sendiri sehingga jelas sesungguhnya al-Quran adalah benar adanya. (QS. 41: 53)

Dalam tafsir Al-Wajiz, profesor Wahbah Zuhaili mengartikan dhamir “Him” pada pangkal ayat dengan merujuk “orang-orang kafir”. Meskipun begitu, dhamir tersebut bisa saja kepada orang ketiga jamak (plural) yang terinspair. Ayat itu sepertinya mengonfirmasi keadaan saat ini, pada banyaknya saintis Barat yang menjadi muallaf.

Kalau melihat ayat ini, rasanya betul juga kata ulama yang menakwil hadis sahih yang menyatakan, bahwa matahari akan terbit dari Barat. Artinya, pencerahan Islam akan datang dari Barat. Karena ia menyajikan fakta betapa banyaknya saintis non muslim yang menjadi muallaf berkah dari sains yang mereka kuasai.

Zaman old, zaman berpengaruhnya teologi Asy’ariyah-Al-Ma’turidiyah (Aswaja), penemuan sains sangat mengagumkan. Di sana ada keseimbangan dalil Naqli dan dalil Aqli. Waktu itu umat Islam benar-benar dapat menjadikan al-Quran sebagai tuntunan komprehensif dunia akhirat. Al-Quran -meminjam istilah Prof. Ziaduddin Sardar- menjadikan umatnya polymus dan problem oriented.

Polymus artinya seseorang yang mampu menguasai secara mendalam berbagai cabang ilmu. Seperti Ibnu Sina (hafal al-Quran, ahli bidang kedokteran, filsafat dan tasawuf). Ibnu Rusydi (hafal al-Quran, ahli hukum, sains, filsafat). Atau Al-Ghazali (hafal al-Quran, ahli kalam, sains, filsafat dan berujung tasawuf).

Konon, keadaan ini berkah dari tema al-Quran yang loncat-loncat dari satu ayat ke ayat yang lain. Subhaanallah! Sedang problem oriented, artinya ayat-ayatnya mengajak pembacanya mencari pemecahan masalah.

Sayangnya, mizan naqli-aqli ini sekarang masih pudar. Mizan ini belum bersinar kembali. Terutama setelah lahirnya teologi yang mensahihkan hadis bahwa Tuhan itu berwujud seorang pemuda Amrad seperti yang diekspos oleh orang yang over mendaku benar sendiri. Dalil naqli-aqli yang proporsional dan bermizan disalahkan.

Memang dalil aqli itu terbatas  dan tidak akan menjangkau Dzat Tuhan yang tak terbatas. Akan tetapi, pengenyampingan akal juga akan menumpulkan diri, yang berdampak terjerumus dalam ketertinggalan, khususnya di bidang sainstek. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments