Mengenal Rumah Belajar Wilis Bersaudara di Welahan

0
175
Anak – anak bermain wayang rotan.

JEPARA, Suaranahdliyin.com – Rumah Belajar Wilis Bersaudara (WB) di RT. 15 RW. II Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan, Jepara lokasinya terbilang unik dan menyenangkan, karena berhadapan langsung dengan area persawahan.

Di depan rumah belajar ini, ada sebuah gazebo disertai dengan kursi, yang cocok untuk membaca maupun diskusi. Di dalamnya, rumah belajar yang menyatu dengan kediaman Wikha Setiawan (33), itu terdapat beberapa rak buku. Ada kursi, meja, dan buku – buku tak kurang dari 1000 judul.

Rumah belajar WB dikelola secara mandiri oleh Wikha Setiawan sudah sekitar dua tahun terakhir. Pada mulanya, 2016 lalu, rumah belajar ini buku-bukunya adalah koleksinya sendiri. Lambat laun, banyak sahabat karibnya yang menyumbang buku.

Setiap akhir pekan, rumah bacanya semakin ramai. Tetapi lama kelamaan, pembaca juga dihinggapi rasa jenuh. Akhirnya, ia membuat inovasi untuk mengisi rumah belajar yang drintisnya, sehingga ‘’lahirlah’’ wayang rotan.

Salah satu apresiasi seni – budaya yang pernah digelar Rumah Belajar Wilis Bersaudara.

Wayang berbahan dasar rotan tersebut, mendapat apresiasi dari Komunitas Pojok Kidul. Beberapa warga desa di Kecamatan Welahan, diajari membuat wayang rotan. Produk wayang rotan juga dipentaskan dalam berbagai pertunjukan.

‘’Akhirnya berbagai kegiatan lain pun digelar, antara lain Guyub Setu Wengi, bermain layang-layang dan membuat film. Guyub Setu Wengi merupakan kegiatan budaya, yang di antaranya diisi dengan pagelaran musik, teater, dan suguhan budaya lainnya,” terang Wikha.

Pengunjung Rumah Belajar Wilis Bersaudara asyik membaca buku.

Untuk bermain layang-layang, jelasnya, tidak seperti biasa. Kegiatan yang diikuti oleh 40-an anak dan remaja itu, pada layang-layangnya dibubuhkan cita-cita, baru kemudian diterbangkan. ‘’Sementara tiga berdurasi 15 menit yang pernah diluncurkan, adalah Ayo Dolanan, Slanker Jatuh Cinta, dan Dukun Sakti,’’ lanjut alumnus IAIN Walisongo Semarang itu, menambahkan.

Kini, Wikha yang pernah nyantri di Pesantren Syafiiyah Salafiyah Situbondo, itu bercita-cita membuat rumah belajar peduli yatim piatu, janda, dan anak yang tak mampu. “Semoga banyak donatur, relawan, maupun aghniya yang peduli,’’ harapnya. (ip, ros/ adb)

Comments