Mengenal Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Sa’id bin Abdullah Ba’athiyah Ad-Dau’ani

0
172
Syeikh Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Sa’id Ad-Dau’ani

YAMAN, Suaranahdliyin.com – Nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Sa’id bin Abdullah Ba’athiyah Ad-Dau’ani. Berasal dari marga Ba’athiyah yang merupakan Anak Suku dari Suku Kindah yang terkenal di Yaman.

Lahir pada Bulan Rabiul Awal 1380 H / 1960 M di Desa Qorn Bahakim, salah satu pedesaan Lembah Dau’an bagian kanan, Hadhramaut – Yaman. Ayahnya berasal dari Khudaisy, salah satu desa di Lembah Dau’an bagian kanan juga. Kemudian Ayahnya pindah ke Qorn Bahakim bersama Ibunya (nenek dari Sayyidi Syeikh) yang mana nenek beliau berasal dari Suku Ali Baghlaf dari Desa Khosufar. Nenek beliau menikah lagi setelah berpisah dengan sang kakek yang hijrah ke Jawa, Indonesia.

Sebulan sebelum Sayyidi Syeikh dilahirkan, ada sekelompok orang yang mengetuk pintu rumahnya dari kalangan orang-orang sholeh seraya berkata: “Selamat atas kelahiran Muhammad”.

“Isteriku belum melahirkan,” jawab ayahnya.

Orang-orang itu hanya tersenyum kemudian pergi.

Kejadian itu yang membuat Ayah Sayyidi Syeikh memberikannya nama “Muhammad”, karena bisyaroh (kambar gembira) dari orang-orang sholeh tersebut.

Masa Menuntut Ilmu

Ia tumbuh dan berkembang jauh dari teman-teman sebayanya. Ketika usianya sudah memasuki usia tamyiz, ayahnya pergi keluar sehingga ibundanya lah yang lebih banyak mendidiknya.

Ketika usianya enam tahun, Muhammad dibawa oleh ibunya ke sekolah di Desa Qorn. Ia belajar baca – tulis Al-Qur’an di sana. Sejak usia dini, Sayyidi Syeikh sudah mempunyai hubungan yang erat dengan Ahlul Bait (cucu Rasulullah Saw). Sebab pada masa beliau di Qorn terdapat seorang Wali Quthub, Habib Sholih bin Abdullah Al-‘Athos dan kedua saudaranya Habib Muhammad dan Habib Agil.

Sejak itulah Sayyidi Syeikh selalu menemui Habib Sholih untuk mendapatkan berkah dan do’a beliau. Di sisi lain, Habib Sholih sangat mencintai Sayyidi Syeikh dan suka bercanda, bersendaugurau dengannya, sehingga kian tertanam kecintaannya terhadap ahlul bait pada dirinya sejak usia dini.

Sejak kecil, Sayyidi Syeikh merupakan seseorang yang mempunyai ikatan kuat dengan tempat-tempat ibadah, sehingga sejak usia 7 – 8 tahun, ia selalu berdiam diri di masjid. Kemudian ia masuk ke madrasah Bashodiq Al-Jufri di Khuroibah. Ini lantaran adanya Habib Hamid bin Abdul Hadi Al-Jailani yang merupakan seorang faqih (ahli ilmu fiqih) di Lembah Dau’an.

Selama satu tahun lamanya, Sayyidi Syeikh belajar di madrasah ini, kemudian pindah ke sekolah umum. Pada 1390 H, memasuki usia ke-10, bersama ayah dan segenap keluarga Sayyidi Syeikh hijrah ke Hijaz pada akhir Dzul Qo’dah ke Kota Jeddah.

Di kota inilah Sayyidi Syeikh semasa kecil melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di sana hingga jenjang kuliah. Dan pada 1438 H / 2017 M., ia meraih gelar Doktor dalam bidang Tafsir dari Universitas Al-Khurtum, Sudan.

Guru-guru Sayyidi Syeikh

Sayyidi Syeikh telah menimba ilmu dari banyak para Masyayikh (Guru Besar) pada masa itu, antara lain:

  1. Habib Sholih Bin Abdullah Al-‘Athos.
  2. Habib Abdullah Ash-Shodiq Al-Habsyi, yang merupakan guru pertama sewaktu di Jeddah. Kepada gurunya ini, Sayyidi Syeikh mempelajari Kitab Safinatun Najaa, Kifayatul Akhyar dan Al-Kawakib Ad-Durriyah serta menghadiri pengajian Kitab Al-Idhoh karya Imam An-Nawawi yang diadakan Sang Habib di masjid.
  3. Syeikh Karomah Suhail. Kepada gurunya ini, Sayyidi Syeikh mempelajari Kitab Safinatun Najaa beserta Syarahnya, Nailur Rojaa, sampai khatam tiga kali. Ketika itu Syeikh Karomah berkata kepadanya: “Kami membacakanmu kitab-kitab ini (Safinah & Nailur Rojaa) tapi kami akan memberikan penjelasan dari Syarah-syarah Kitab Minhaj Ath-Tholibin”. Setelah itu Sayyidi Syeikh mempelajari bagian awal Kitab Minhaj, kemudian Kitab Umdatus Saalik.
  4. Syeikh Muhammad bin Umar Bakhubairoh yang merupakan pecinta ahlul bait. Syeikh Bakhubairoh juga sangat mencintai Sayyidi Syeikh. Kepada gurunya ini, Sayyidi Syeikh mempelajari Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghozali beserta Ijazah dengan sanad yang tersambung sampai Rasulullah Saw.
  5. Al-Habib Al-‘Arif Billah Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaff yang terkenal sangat tawadhu’. Sayyidi Syeikh mengaji Kitab Dou’ul Mishbah Syarah Zaitunatul Ilqoh serta sebagian dari Kitab Minhaj dan Kitab Sullamut Taisir. Habib Abdurrahman sangat mencintainya dan selalu mengabarkannya tentang hal ini.
  6. Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Athos Al-Habsyi. (antara lain mempelajari Kitab Riyadus Sholihin).
  7. Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi. (Belajar fikih dan nahwu, sebagaimana Sayyidi Syeikh mengaji kepada Al-Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri.
  8. Kepada As-Sayyid Al-Qodhi Muhammad Rosyad Al-Baiti Sayyidi Syeikh belajar Kitab Fathul Mu’in (Fiqih), Hasyiyah Al-Kafrowi (Nahwu), Majmu’atul Qodho’ karya Al-Habib Muhsin Bunmi, ‘Imadur Ridho, Al-Mizan Al-Kubro karya Imam Asy-Sya’roni, Zaitunatul Ilqoh beserta Syarahnya dan Kitab Jawahirul ‘Aqdain.
  9. Al-Habib Al-Quthb Abdul Qodir bin Ahmad As-Seggaf. (Belajar Kitab Ihyaul Mayyit Fi Fadhoil Ahlil Bait).
  10. Syeikh Muhammad Al-‘Abiri Al-Hanbali, seorang ‘alim dalam Madzhab Hanbali. Antara lain belajar Kitab Zadul Mustaqni’ dan Kitab ‘Uddatul Bahits.
  11. Syeikh Abdul Mun’im Tu’ailib, pakar Madzhab Syafi’i. Padanya Sayyidi Syeikh mempelajari sebagian besar dari Kitab Minhaj, juga Tafsir.

Selain guru-guru di atas, Sayyidi Syeikh juga berbagai bidang ilmu, yang meliputi Ilmu Ushuluddin, Tafsir, Tajwid, Hadits, Ushul Fiqih, Nahwu, Ilmu ‘Arudh, Qowafi dan lain sebagainya.

Tidak hanya di Yaman dan Hijaz Sayyidi Syeikh beliau belajar, melainkan hingga Syam, Lebanon, Turki, Mesir, Sudan dan India.

Langkah Dakwah

Sayyidi Syeih adalah seorang Murobbi yang tulus dan semangat dalam dalam mengajar dan berdakwah, sebagaimana ketulusannya saat menuntut ilmu. Ia sudah mulai mengajar dan berdakwah di masjid-masjid sebelum usia 20 tahun dalam berbagai fan keilmuan, seperti Tajwid, Hadits, Fiqih, Faroidh, Nahwu dan Tauhid.

Hingga kini Sayyidi Syeikh masih terus mengajar dan berdakwah. Ratusan penghafal Al-Qu’an dan pakar Ilmu Syari’ah ‘’lahir’’ di bawah bimbingannya. Sayyidi Syeikh sempat mengajar di Madrasah Al-Falah dan sekolah lain selama 20 tahun, sebagaimana dakwah di beberapa wilayah di Yaman dan Lembah Hadhramaut.

Setelah itu Sayyidi Syeikh mendirikan Ribath (Pesantren) Imam Syafi’i di Kota Mukalla pada 1431 H. Di mana kegiatan belajar-mengajar berlangsung di Ribath tersebut serta Dauroh Ilmiyah tahunan yang berlangsung selama sebulan.

Pada 1433 H, Sayyidi Syeikh mendirikan Fakultas Syari’ah yang merupakan manifestasi dari Ribath Imam Syafi’i yaitu Imam Shafie College dengan memberikan beasiswa S1 Fakultas Syari’ah. Pada 1432 H, Sayyidi Syeikh mendirikan Yayasan Imam Nawawi di Mukalla sebagai pengayom Ribath dan kuliah serta berkonsentrasi untuk mencetak ulama serta pengembangan karya ilmiah Syari’ah.

Selain itu, Yayasan Imam Nawawi juga berkosentrasi dalam pembangunan dan perbaikan Masjid, tunjangan anak yatim, bantuan untuk fakir-miskin, memberikan layanan utama kepada masyarakat, serta mendukung penuh segala bentuk upaya untuk menyejahterakan masyarakat.

Kepribadian dan Karyanya

Salah satu sifat yang paling menonjol pada Sayyidi Syeikh adalah sikap tawadhu’ yang sangat besar. Sayyidi Syeikh tidak melihat seseorang karena pangkat, kedudukan (derajat) ataupun jasa, meskipun banyak dari para gurunya yang memuji secara berulang-ulang.

Sifat lain yang menonjol juga adalah kecintaannya kepada ahlul bait yang sudah tumbuh sejak usia dini, tanpa membedakan ahlul bait baik yang masih anak-anak maupun yang sudah dewasa, baik yang alim maupun yang biasa.

Sayyidi Syeikh merupakan pribadi bersahaja yang senantiasa berwajah cerah, murah senyum, berpenampilan rapi, dan berakhlak mulia. Sayyidi Syeikh juga sangat tulus dalam mendidik para murid beliau serta menjadi panutan untuk mereka dalam segala perkataan dan perilakunya.

Selain itu, Sayyidi Syeikh juga memiliki karya-karya intelektual (ilmiah) yang sangat banyak, khususnya dalam bidang Syari’ah, di antaranya:

  1. Ad-Durroh Al-Yatimah Syarh As-Subhah Ast-Tsaminah. Sebuah Nadzom Kitab Safinah karangan Habib Ahmad Masyhur Al-Haddad, sesuai isyarat dari Habib Ahmad Masyhur beliau diminta untuk mensyarahi Nadzom tersebut serta menyempurnakannya dengan Bab Haji. Kemudian Sayyidi Syeikh melaksanakan itu semua, dan kini Kitab Ad-Durroh Al-Yatimah telah dicetak dan dijadikan pedoman oleh berbagai ulama dan santri.
  2. Ghoyat Al-Muna Syarah Safinat An-Najah. Kitab ini memiliki keistimewaan dengan ungkapan yang mudah dipahami dilengkapi dengan banyak Dhowabith dan Masail dalam Ilmu Aqidah dan Rub’ul Ibadat. Syarah ini termasuk Syarah terlengkap dan paling tebal dari kitab Safinatun Naja.
  3. Zaad Al-Labib Syarah Matn Al-Ghoyah Wat Taqrib, sebuah Syarah yang begitu luas dan mencakup banyak Dhowabith dalam bab-bab Fiqih dengan menyertakan masalah khilaf antara Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli dll. Kitab ini masih dalam masa revisi ulang untuk dicetak.
  4. Mujaz Al-Kalam Syarah Aqidat Al-‘Awam. Kitab ini sudah dicetak dan tersebar di banyak tempat.
  5. As-Suluk Al-Asasiyah Fi Ma Yajibu ‘Ala Abna’ Al-Ummah Al-Islamiyah, sebuah kitab tentang pendidikan akhlaq dan rohani. Dan kitab ini sudah dicetak.
  6. Al-I’tizaz Wa At-Tasyarruf Bil Intisab Ila Ahl At-Tashawwuf, sebuah kitab tentang sejarah, asal-usul dan dasar-dasar Ilmu Tasawwuf. Kitab ini masih dalam proses cetak.
  7. Ghoits As-Sahabah Al-Mathiroh Syarah Al-Hadiqoh Al-Nadhiroh Mandzumah As-Siroh Al-‘Athiroh, sebuah kitab yang merupakan Syarah atas Nadzom tentang Siroh Nabawiyah karya Habib Abu Bakar Al-‘Adni bin Ali Al-Masyhur. Dan kitab ini sudah dicetak.
  8. Fawaid Qur’aniyah Fi Jalsat Romadhoniyah, sebuah kitab dalam Ilmu Tafsir. (masih dalam bentuk manuskrip).
  9. Mudzakkir Ath-Thullab Bima Yajibu Ma’rifatuhu Min Ahkam Tajwid Al-Kitab, sebuah kitab dalam Ilmu Tajwid. (masih dalam bentuk manuskrip).
  10. Kumpulan Khutbah Jum’at.

Selain kitab-kitab tersebut, ada beberapa risalah yang telah ditulis Sayyidi Syeikh, antara lain:

  1. Al-Qoul Al-Mubin Fi Anna ‘Alamat As-Sa’ah Min Umur Ad-Din, Risalah tentang Hari Kiyamat.
  2. At-Ta’lim Al-Abawi Fi Dzilli Hadhir Wa Madhi Al-Ummah Al-Islamiyah Wa Mawqif Al-Isti’mar Minhu, sebuah Risalah tentang pendidikan Umat Islam dari masa ke masa dan campur tangan kolonialisme untuk merusaknya.
  3. Birrul Walidain.
  4. Permasalahan Bid’ah.
  5. Al-‘Amaliyah Al-Islamiyah Fi Ta’lim Al-Ummah Al-Islamiyah. Sebagian dari Risalah-risalah ini dicetak di Majala Al-Jadzwah (Aden-Yaman) dan sebagiannya lagi dalam proses cetak.

Selain aktif menulis kitab dan risalah, Sayyidi Syeikh juga aktif menulis di situs www.mabaatiyah.com, di mana website beliau memuat fatwa, kalimat, faidah, dan lainnya.

Semoga Allah memanjangkan umur Sayyidi Syeikh senantiasa diberi kesehatan, senantiasa dianugerahi berkat dan rahmat-Nya serta memberikan manfaat dari ilmu dan amal Sayyidi Syeikh untuk ummat. (rls/ adb, ros, gie, luh, rid, lam, mail)

Comments