Mengaji Bareng Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi

0
309
Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi

LEBANON, Suaranahdliyin.com – Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi, adalah salah satu ulama yang sangat dikenal memiliki kedalaman ilmu (‘alim). Semua ulama’ yang ditanya tentang sosoknya, juga mengakui kedalaman ilmunya.

Ya, wajar penilaian para ulama tentang sosok Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi sebagai orang yang memiliki kedalaman ilmu. Paling tidak, itu bisa dilihat dari banyak karya (kitab) yang telah ditulisnya. Lebih dari 60 kitab terkait berbagai cabang ilmu telah ditulisnya.

Maka menjadi sebuah kebanggaan, manakala bisa bertemu dan bersilaturahim dengannya. Dan tepat pada 21 – 23 Maret lalu, Saya dan teman – teman dari Indonesia berkesempatan untuk kali kedua mengaji ‘’talaqqi’’ bersamanya, mengkaji kitab  hadis ‘’Umdatul Ahkam’’.

Dan kami pun menyaksikan sendiri kedalaman ilmu ulama besar itu, sebagaimana kesaksian ulama – ulama lain. Ulasan, syarah, komentar, kritikan, perbandingan antarqaul mazdhab, sesekali juga mentarjih, meluncur deras dari pemaparannya laksana derasnya air hujan.

Lisannya seakan tidak mau berhenti, menghujani kami dalam mengkaji ilmu. Justru kami yang sedang mengaji ini, kuwalahan menghimpun semua keterangan dari Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi.

Awalnya kami mengira, Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi membawa syarah dari kitab  hadis ‘’Umdatul Ahkam’’ yang dikaji. Ternyata, tidak. Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi mengajar hanya bermodalkan “matan”. Dengan bermodalkan “matan” saja, Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi mampu  menberikan penjelasan yang demikian detil dan luas sekali.

Singkat cerita, usai mengaji, kami diberi waktu khusus untuk berbincang dan melakukan tanya-jawab. Dari situ, ada beberapa hal penting dari fikrah (gagasan) Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi yang kami catat.

Pertama, umat Islam harus menahan diri untuk tidak menjelek-jelekkan, jangan sampai mencaci-maki kepada Muslim lain, apalagi sampai mengafirkannya. Kedua, melarang menyebut kejelekan orang lain di hadapannya, dan ketika ada orang cerita tentang si fulan (seseorang), maka dia mengetukkan tangannya ke atas meja, sebagai tanda agar orang tersebut hanya menceritan kebaikan si fulan. ‘’Ini tradisi masyayikh kami,’’ ujarnya.

Ketiga, tarjih aqwal fuqoha’, sebagai pertimbangan dalam berfatwa dilakukan berdasarkan waktu, tempat dan keadaan yang sedang terjadi di masyarakat. ‘’Harus bijaksana ketika memberikan fatwa (hukum),’’ pesannya.

Keempat, tarjih dilakukan atas dasar dalil yang kuat dan yang paling bermanfaat untuk masyarakat. Kelima, ketika men-tarjih dan tidak mengambil pedoman tarjih yang berlaku di dalam mazdhab, bukan berarti kita meninggalkan (keluar) dari mazdhab, melainkan sekadar memilih qaul lain yang lebih bermanfa’at.

Keenam, Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi, mengingatkan, bahwa musibah- musibah yang selama ini dialami umat Islam, tak lain penyebabnya adalah karena kelalaian umat Islam itu sendiri. ‘’Maka berhati-hatilah,dan jaga diri dari (berbuat) maksiat,’’ katanya.

Pengurus dan anggota PCINU Lebanon foto bersama Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi.

Sementara itu, sumbangsih pemikirannya terhadap dunia keilmuan, utamanya di bidang ilmu fikih, sangat besar. Pertama, terkait jajdidul fiqh. Dia sukses merubah gaya bahasa kitab fikih lama yang cenderung susah dipahami ke dalam bentuk bahasa yang mudah dipahami di zaman sekarang. Itu dituangkannya dalam kitab “Manhaji” yang ditulisnya bersama Syaikh Ali As-Syarbaji dan Syaikh Mustofa Al Khon.

Kedua, istidlalul fiqih. Disaat banyak orang meremehkan (meragukan), bahkan menolak isi kebenaran kitab fiqih karena tidak disertai dengan dalil, ia beliau berhasil membuktikan bahwa hukum-hukum yang ada di kitab fikih, semua ada dalilnya. Hingga akhirnya, karyanya bisa membuat tenteram dan diterima baik dari kalangan salaf (pesantren/ NU) atau kalangan moderat (akademisi).

Sedang karya – karya Syaikh Musthofa Dib al Bugho ad Dimasyqi, antara lain At Tadzhib (Dalil-Syarah Kitab Taqrib), Tanwirul Masalik (Dalil-Syarah Umdatus Salik), Ifadatur Raghibin (dalil-dalil Minhajut Thalibin), dan Al-Hidayah Al-Mardiyah (dalil-syarah Muqaddimah Hadramiyah). (Nurul Fattah, Rois Syuriyah PCI NU Lebanon dan mahasiswa Program Magister pada Darul Fatwa Lebanon)

Comments