Memahami Persoalan Udlhiyyah  

0
443

Oleh: KH. Amin Yasin

  1. Pengertian

Udlhiyyah atau kurban ialah hewan unta, lembu kerbau atau kambing yang disembelih sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha hingga akhir hari Tasyriq (10 – 13 Dzulhijjah).

2. Landasan

Landasan hukum kurban atau udlhiyyah  adalah:

a. Firman Allah SWT

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka lakukanlah  salat (Iedul Adha)  karena Tuhanmu dan berkurbanlah (menyembelih hewan kurban).

b. Hadits Nabi SAW :

Artinya: Riwayat dari Anas ra., bahwa “ Nabi  SAW berkurban dengan dua ekor kambing yang dominan warna putihnya serta panjang tanduknya, Beliau menyembelihnya dengan tangan Beliau sendiri yang mulia, seraya membaca basmalah, bertakbir dan meletakkan kaki Beliau pada bagian bawah leher kambing.” (HR. Bukhori : 5132, Muslim : 3635)

3. Hukum

a. Hukum asal

Hukum asal kurban adalah Sunnah ‘Ain yang sangat dianjurkan bagi setiap individu (sunnah ‘ain muakkadah), dan Sunnah Kifayah yang sangat dianjurkan bagi setiap keluarga (sunnah kifayah muakkadah), jika salah satu anggota keluarga tersebut telah berkurban maka anggota keluarga yang lain tidak terkena hukum makruh karena tidak berkurban. Hukum tersebut berubah menjadi wajib ketika di-nadzari.

b. Hukum berkurban untuk orang yang sudah meninggal

Jika orang yang sudah meninggal tersebut telah berwasiat untuk dikurbani, maka hukum kurban tersebut adalah sah. Namun jika orang yang telah meninggal tersebut tidak berwasiat untuk dikurbani, maka terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama’, ada yang berpendapat tidak sah dan ada yang berpendapat sah.

Diantara ulama’ yang berpendapat sah adalah Imam Rofi’I dengan alasan bahwa kurban adalah termasuk bagian dari sedekah, sedangkan sedekah yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal adalah sampai kepadanya berdasarkan ijma’ ulama.

4. Kriteria Hewan Kurban

=> Jenis Hewan Kuban

a. Unta dengan segala macam jenisnya.

b. Lembu dengan segala macam jenisnya, termasuk di antaranya adalah kerbau.

c. Kambing dengan segala macam jenisnya.

Ketiga jenis hewan tersebut boleh dijadikan hewan kurban, baik jantan maupun betina. Lembu, kerbau dan unta bisa untuk 7 orang, sedangkan jenis kambing hanya untuk satu orang.

Adapun hadis nabi yang mengatakan bahwa nabi pernah berkurban dua kambing, satu untuk beliau dan keluarganya dan yang satu lagi untuk umatnya, itu adalah tasyrik fi al-tsawab (mengikut sertakan keluarga dan umatmya dalam hal pahala kurban), bukan berarti kambing satu mencukupi untuk lebih dari satu orang.

Urutan keutamaan kurban ialah unta, lembu/ kerbau, biri-biri (domba) lalu kambing biasa. Tujuh ekor kambing lebih utama daripada seekor unta, lembu atau kerbau. Dan satu ekor kambing lebih utama daripada 1/7 unta / sapi / kerbau.

Untuk kambing diutamakan yang berwarna putih, kekuning kuningan, putih yang tidak cerah putihnya, kemerah merahan, belang (hitam putih) lalu hitam.

5. Syarat Hewan Kurban

=> Umur

a. Unta, harus berumur minimal lima tahun.

b. Lembu, harus berumur minimal dua tahun.

=> Kambing.

  • Kambing biasa, kambing kacangan harus berumur minimal dua tahun,
  • Kambing domba, harus berumur minimal 1 tahun atau sudah poel sebelum satu tahun.

=> Tidak terdapat cacat yang berupa:

a. Pece apalagi buta.

b. Pincang yang tampak jelas pincangnya.

c. Sakit yang tampak sekali sakitnya.

d. Kurus kering.

Keempat cacat tersebut menyebabkan tidak sahnya kurban karena pada umumnya hewan yang terkena cacat tersebut berkurang dagingnya.

Kalau sekedar sipit mata, kabur pandangan di malam hari atau patah tanduknya masih tetap sah untuk kurban. Demikian juga sobek telinga atau tanpa ekor sejak lahir. Namun bila berlubang daun telinganya atau tanpa ekor yang bukan sejak lahir, maka tidak sah untuk kurban.

Adapun kurban dengan hewan yang bunting tidak sah hukumnya menurut pendapat yang mu’tamad.

6. WAKTU PENYEMBELIHAN

Waktu penyembelihan kurban dimulai setelah terbitnya matahari, ditambah waktu yang sekiranya cukup digunakan sholat dua roka’at dan dua khutbah yang ringan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan berakhir ketika terbenamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Semua Waktu yang disebutkan di atas boleh digunakan untuk penyembelihan kurban, baik siang maupum malam hari, hanya saja penyembelihan kurban yang dilakukan pada malam hari hukumnya makruh.

Selain waktu tersebut tidak sah untuk penyembelihan kurban, namun untuk kurban nadzar yang tidak sempat dilakukan pada waktunya, maka tetap wajib disembelih meskipun waktunya sudah habis, dan dianggap sebagai Qodlo’.

7. TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN

=> Rukun penyembelihan:

a. Menyembelih. Dalam penyembelihan diharuskan memotong saluran keluar masuknya nafas (hulqum) dan saluran masuknya makanan dan minuman (mari’).

b. Penyembelih. Orang yang menyembelih diharuskan beragama Islam.

c. Hewan yang disembelih. Hewan yang disembelih adalah hewan yang halal dikonsumsi, dan dalam keadaan hidup. Jika hewan tersebut hampir mati yang disebabkan oleh suatu hal, seperti tertabrak atau tertembak, maka disyaratkan adanya hayat mustaqirroh (keadaan masih adanya ruh dalam jasad yang disertai kemampuan melihat, bersuara dan bergerak sesuai kehendak).

=> Alat penyembelih

Diharuskan menggunakan alat yang tajam dengan ketajaman yang minimal mampu merobek daging. Seperti alat tajam yang terbuat dari besi, batu maupun kayu. Dan tidak boleh menggunakan kuku, gigi dan tulang meskipun sangat tajam.

=> Kesunnahan dalam menyembelih

a. Menajamkan pisau.

b. Menekan pisau dengan kuat.

c. Orang yang menyembelih menghadap kiblat, begitu juga leher hewan yang disembelih dihadapkan ke kiblat, dengan posisi kepalanya di selatan.

d. Membaca basmalah.

e. Menyembelih unta dengan cara nahru (menyembelih pada leher bagian bawah), untuk selain unta menyembelih dengan cara dzabhu (menyembelih pada leher bagian atas).

f. Menyembelih unta dalam keadaan berdiri dan menyembelih sapi, kerbau dan kambing dalam keadaan dibaringkan.

g. Tidak menambah luka setelah sempurnanya penyembelihan dan sebelum hewan tersebut benar-benar sudah mati.

h. Memotong kedua otot leher (قطع الودجين).

=> Kemakruhan dalam menyembelih

a. Tidak membaca basmalah.

b. Tidak menghadap kiblat.

c. Menambah luka setelah sempurnanya penyembelihan dan sebelum hewan tersebut benar-benar mati.

d. Mengasah pisau dihadapan hewan yang akan disembelih.

e. Menyembelih hewan dihadapan hewan lain.

Adapun cara paling utama penyembelihan hewan kurban adalah sebagai berikut:

Bagi laki-laki yang berkurban, disunnahkan untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri, sedangkan bagi perempuan disunnahkan untuk mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya. Dan apabila penyembelihan diwakilkan kepada orang lain, maka sunnah bagi yang berkurban untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya.

Tata cara paling utama penyembelihan hewan kurban:

a. Penyembelih dan hewan menghadap qiblat (leher hewan dihadapkan qiblat dengan posisi kepala hewan di sebelah selatan)

b. Membaca bismilah بسم الله الرّحمن الرّحيم

c. Membaca salawat اللّهم صل و سلم على سيد نا محمّد وعلى ال سيد نا محمّد

d. Membaca takbir اللّه أكبر اللّه أكبر اللّه أكبر وللّه الحمد

e. Membaca doa     اللّهم هذه منك وإليك فتقبلها مني \ منه \ منهم يا كريم

f. Niat saat berlangsungnya penyembelihan atau menjelang penyembelihan.

  • Contoh niat Kurban sunnah bagi penyembelih sebagai wakil dari orang yang berkurban:

نويت الأ ضحية المسنو نة عن مو كلي ……………….. لله تعا لى

  • Contoh niat Kurban Nadzar bagi penyembelih sebagai wakil dari orang yang berkurban:

نويت الأ ضحية المنذورة عن مو كلي ………… لله تعا لى

Bagi yang berkurban untuk diri sendiri dan menyembelih hewan kurbannya sendiri, kata” عن مو كلى” diganti ” عن نفسي” , jika untuk istrinya diganti ” عن زوجتي ” dan jika untuk anak perempuannya diganti ” عن ابنتي ”

7. PEMBAGIAN KURBAN

  • Orang yang berkurban nadzar atau berkurban untuk orang mati yang telah berwasiat untuk dikurbani, wajib membagikan seluruh daging termasuk kulitnya kepada fakir miskin. Dia dan seluruh anggota keluarga yang wajib ia nafkahi tidak diperbolehkan memakan sepotong dagingpun dari kurbannya. Dan jika terlanjur memakannya, maka wajib menggantinya sesuai kadar daging yang dimakan.
  • Untuk Kurban sunnah, Mudlohhi dianjurkan mencicipi sepotong daging, utamanya adalah bagian hati, dan sebaiknya tidak melebihi 1/3 dari kurbannya. Dan selebihnya harus dibagikan kepada fakir miskin atau sebagian diantaranya dihadiahkan kepada non fakir miskin, asal tidak kepada non muslim.
  • Penerima Kurban adalah perorangan yang muslim, bukan lembaga atau badan hukum. Dengan demikian tidak diperbolehkan memberikan kurban untuk biaya pembangunan masjid, madrasah atau lembaga lain.
  • Penerima kurban yang fakir atau miskin berhak memiliki secara penuh, dalam arti berhak memanfaatkannya untuk keperluan sendiri atau menjualnya. Sedang penerima yang non fakir miskin hanya berhak memanfaatkannya saja, tidak berhak menjualnya.
  • Sebagian Kurban harus dibagikan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah, malah sebaiknya dibagikan mentah semua .
  • Kulit atau daging Kurban tidak boleh diberikan kepada si penyembelih sebagai ongkos menyembelih. Ongkos harus diperhitungkan tersendiri, tidak boleh dikaitkan dengan pemberian kulit atau daging.

8. PANITIA KURBAN

  • Panitia Kurban (dalam hal ini ketua panitia, panitia harian atau panitia lengkap, sesuai kesepakatan) berstatus sebagai wakil Mudlohhi dalam pelaksanaan penyembelihan dan pembagian kurban. Jadi panitia tidak diperbolehkan memakan daging kurban tersebut tanpa seijin Mudlohhi, dan biaya pelaksanaan tetap menjadi tanggung jawab Mudlohhi.
  • Panitia Kurban seyogyanya meneliti cacat tidaknya hewan Kurban yang diterimanya. Dan apa bila terdapat cacat diberitahukan kepada Mudlohhi untuk diganti yang memenuhi persyaratan atau tetap dilangsungkan sebagai sedekah biasa.
  • Panitia kurban berkewajiban memelihara, merawat dan tanggung jawab sepenuhnya atas hewan kurban yang telah diterimanya.
  • Panitia Kurban bila menerima dari Mudlohhi berupa uang harus melalui prosedur wakalah dalam hal pembelian hewan dan Pelaksanaan kurban. 

KH. Amin Yasin,

Penulis adalah pengurus cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Kudus

 

Comments