Memahami Ciri dan Sifat Ulama

0
838
  • Catatan dalam Rangka Haul ke-17 KH. Ma’mun Ahmad (Bagian 1)

Oleh: KH. Abdullah Saad

Sungguh merupakan sebuah kebahagiaan yang sangat besar bagi mereka yang mau mengabadikan kisah orang-orang saleh, orang-orang alim dan ulama. Karena dengan itu, berarti telah mengabadikan kenangan tentang orang saleh. Menceritakan manqobah mereka adalah kemuliaan luar biasa.

Hal itu sebagaimana disebutkan Imam Junaid Al-Baghdadi, jundun min junudillah (tentara dari tentara-tentara Allah), yang akan menguatkan agama ini. Bahkan Habib Umar menyebutkan, bahwa kita akan mendapatkan sir dari ulama yang akan kita tulis manaqib-nya. Setiap kita membicarakan mereka, maka pada diri kita akan ber-tamakkun sir min asrorihi.

Takaran seseorang dianggap sebagai orang ‘alim, itu tidak hanya yang bisa menjadi musohhih dalam bahsul masail di tingkat nasional maupun international. Majelis-majelis seperti itu tidak menjadi bagian bagi sebagian ulama, untuk menunjukkan keilmuan mereka, tetapi majelis-majelis itu menjadi bagian bagi ulama untuk memecahkan masalah (maudhuiyah maupun waqiiyyah).

KH. Ma’mun Ahmad, misalnya. Kiai Saya selama belajar di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, bukan sosok yang senang mengambil peran dakwah melalui bahsul masail, sehingga Kiai Ma’mun jarang mengungkapkan dalil yang dzaki’ mengenai furuiyah agama.

Namun ketika kita mau mencermati, Allah sendiri sudah memberikan sifat, yang mana sifat ini hanya dimiliki oleh seorang ulama, sehingga jika ada ulama memiliki sifat ini dialah ulama sesungguhnya, yaitu innama yahsyallaha min ibadihi al-ulama (sesungguhnya yang bisa takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama).

Ulama adalah orang yang memiliki rasa khosyyah (takut) kepada Allah. Bahkan tidak hanya ulama yang memiliki rasa khosyyah, juga para auliya; ‘ala inna auliyaallah la khoufun alaihim walahum yahzanun, alladzina ‘aamanu wakanu yattaqun (mereka yang iman dan takwa itu auliya Allah).

Dan takwa sendiri, kembalinya adalah rasa khosyyah, rasa takut, sehingga menjalankan semua perintahnya dan menjahui larangannya. Jadi sangat erat hubungan antara ulama dan auliya seperti dijelaskan dalam kitab al-intisor lilauliyail akhyar; inna aslal wilayah liman wujidat fihi sifat albatinah allati syurutuha madzkuroh indal fukoha (sesungguhnya dasar kewalian adalah orang yang pada dirinya terdapat sifat adil, dalam batin mereka terdapat mawazin ma’ani atau pertimbangan-pertimbangan rasa, sehingga dalam tingkah launya selalu adil).

KH. Arifin Fanani, pengasuh Ma’had Ulumusy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUS-YQ), berpesan kepada para muridnya, “dadiknoho saobah-obah awakmu itu ganjaran”. Itu terkandung makna mawazin ma’ani, yang, fi kulli lahdzoh min hayatihi, adalah pahala. Apakah itu gojekan, omongan apalagi dalam perilaku.

Terkait KH. Ma’mun Ahmad, Saya melihat kiai memiliki pandangan seperti ulama tasawuf, yang lebih memperhatikan gejolak-gejolak batiniyah seperti dijelaskan dalam kitab ihya ulumuddin, bahwa jidal (bantah-bantahan ilmu) itu ngatosno ati. Maka ketidakhadiran KH. Ma’mun Ahmad di forum bahsul masail, misalnya, tidak bisa menjadi penanda bahwa beliau tidak ‘alim, melainkan lantaran mengambil jalur (bidang) lain.

Jadi kalau ada takaran (parameter) ‘alim harus tasoddur fi mujalasah fi bahsul masail, itu bukan pilihan Kiai Ma’mun. Yang perlu dipahami, termasuk ilmu yang wajib dibelajar adalah ilmun  yusohhihu toatan (fikih), ilmun yusohhihu aqidatan (tauhid), wamirota qolbika fasula (tasawwuf). KH. Ma’mun Ahmad berada pada posisi yusohhihu aqidatan dan wamirotu qolbika fasula (siyasatul qolbi). (*)

KH. Abdullah Saad,

Penulis adalah santri KH. Ma’mun Ahmad dan kini mengasuh Pondok Pesantren al-Inshof, Karanganyar, Jawa Tengah.

Comments