Media Digital
Masyarakat Baru Menggunakan Sebatas Mencari Informasi

0
259
Koordinator Japelidi, Novi Kurnia/ Foto: istimewa

YOGYAKARTA, Suaranahdliyin.com – Pengguna media digital di Indonesia masih terjebak sebagai konsumen konten dan informasi yang beredar di dunia maya. Meskipun demikian, kemampuan untuk menggunakan media digital secara kritis mulai nampak di berbagai lapisan masyarakat.

Demikian temuan dari hasil penelitian nasional yang dilakukan Jaringan Pegiat Literasi digital (Japelidi) selama 2019, yang dilakukan di 18 kota dan melibatkan sebanyak 2.280 responden. Penelitian bertujuan memetakan kompetensi literasi digital yang dimiliki masyarakat pengguna Internet di Indonesia.

Dalam penelitian ini, Japelidi menggunakan konsep 10 kompetensi literasi digital Japelidi, yang meliputi keterampilan mengakses informasi, menyeleksi pesan, memahami makna pesan, menganalisis informasi, memverifikasi kualitas informasi, mengevaluasi informasi yang dikumpulkan, kompetensi untuk mendistribusikan informasi, memproduksi konten, berpartisipasi dalam kegiatan di media digital dan berkolaborasi dengan pengguna lain.

Koordinator Riset Nasional Japelidi, Ni Made Ras Amanda Selasa (8/9/2020) lalu, mengatakan, riset ini merupakan upaya pemetaan sejauh mana kompetensi masyarakat Indonesia dalam bermedia digital. Pemetaan ini dinilai penting, karena saat ini penetrasi Internet di Indonesia semakin meningkat, dan perangkat digital sudah bukan lagi hal yang asing bagi masyarakat.

“Kemampuan menggunakan perangkat digital, semestinya diikuti dengan keterampilan mengelola informasi yang baik. Riset ini bertujuan untuk memetakan keterampilan mana yang sudah dikuasai masyarakat pengguna media digital, dan kompetensi mana yang perlu ditingkatkan lebih lanjut,” katanya dalam rilis yang diterima Suaranahdliyin.com, Jum’at (11/9/2020) ini.

Dalam riset ini, tim Japelidi membagi 10 kompetensi literasi digital ke dalam empat kategori, yaitu keterampilan mengonsumsi informasi secara fungsional, keterampilan mengonsumsi secara kritis, keterampilan prosuming (produksi) fungsional dan keterampilan prosuming kritis.

Dan berdasarkan data yang didapat, nilai tertinggi berada pada keterampilan mengonsumsi secara fungsional. Ini berarti, sebagian besar masyarakat baru menggunakan media digital sebatas untuk mencari informasi. Sementara skor terendah ada pada keterampilan produksi yang melibatkan keterampilan berpikir kritis.

“Meskipun lebih rendah, namun ditemukan ada sebagian masyarakat yang sudah mampu berpikir kritis, baik saat mengonsumsi informasi maupun memproduksi informasi. Menariknya, meskipun keterampilan kritis cenderung ada pada responden dengan tingkat pendidikan tinggi, namun ada sebagian responden dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah juga memiliki kompetensi kritis yang baik,” terang dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Udayana Denpasar ini.

Sementara berdasarkan tingkat usia, pengguna berusia di atas 55 tahun memiliki tingkat literasi yang lebih rendah dibandingkan usia yang lebih muda, dan pengguna berusia antara 21-36 memiliki kompetensi literasi yang paling tinggi. Dari sisi kelompok pekerjaan, pensiunan dan ibu rumah tangga memiliki tingkat literasi yang lebih rendah.

“Temuan lain yang layak dicatat, adalah tidak adanya perbedaan tingkat literasi digital antara responden laki-laki dan perempuan. Selain itu berdasarkan pengeluaran bulanan tingkat literasi digital juga terbilang tidak ada perbedaan,” lanjutnya menambahkan.

Koordinator Japelidi, Novi Kurnia, mengutarakan, riset pemetaan kompetensi literasi digital adalah riset kedua yang dilakukan Japelidi, untuk mengetahui kompetensi mana yang patut diberi perhatian untuk penyusunan program mendatang. Riset pertama dilakukan pada 2017, untuk memetakan gerakan literasi digital dilihat dari pelaku, kelompok sasaran, program maupun mitra yang menjadi landasan kerja kolaborasi Japelidi dengan pemangku kepentingan lain.

“Peluncuran hasil riset ini sengaja kami lakukan bertepatan dengan Hari Literasi Dunia. Selain literasi aksara, kami merasa literasi digital menjadi hal yang perlu mendapatkan sorotan agar masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam bermedia terutama melalui media digital dan Internet,” ujar dosen Ilmu Komunikasi UGM, Yogyakarta, ini. (rls/ adb, ros, rid)

Comments