Lima Ulama Masyhur yang Baru Mencari Ilmu Saat Dewasa

0
158
Ilustrasi/ Sumber: aladabia.net

Pepatah mengatakan, ‘’Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat’’. Ada juga pepatah lain, “Mencari ilmu di waktu kecil bagai mengukir di batu dan di usia tua bagai mengukir di atas air”.

Demikian dua peribahasa yang sangat populer dan sering kita dengar, untuk mengungkapkan betapa pentingnya aktivitas belajar atau menuntut ilmu, itu harus dimulai sedari dini. Sebab dengan ilmulah, bisa dilihat sukses atau tidaknya seseorang di masa dewasanya.

Ulama besar dengan kedalaman ilmunya, rata-rata telah menonjol pada usia dini. Al-Quran telah mereka hapal sejak kecil, dan mereka mendapatkan bimbingan dari guru-guru yang menonjol pula.

Namun tak sedikit ulama agung yang baru belajar ilmu sungguh-sungguh, saat usia muda. Dengan kesungguhan dan kecintaan terhadap ilmu, faktor umur tidak menjadi penghalang untuk mendapatkan keluasan ilmu.

Maka tidak mengherankan, beberapa Sahabat Nabi yang baru masuk Islam saat mereka sudah berumah tangga dan memiliki anak, namun keluasan pengetahuan mereka tidak kalah dengan Sahabat Nabi lain yang masuk Islam di usia muda.

Imam Bukhori menyebutkan sebuah hadis dalam Shahihnya (تفقهوا قبل أن تسودوا), belajarlah sebelum kau dijadikan pemimpin. Imam Bukhori menyatakan, belajar harus dilanjutkan setelah menjadi pemimpin, karena Sahabat Nabi masih belajar di usia yang tidak lagi muda.

Beberapa ulama besar yang baru belajar di usia muda, di antaranya:

  1. Ibn Hazm. Adalah guru besar fikih Dzahiri. Ibn Hazm menghasilkan karya-karya yang sangat fenomenal. Ia mampu mengalahkan lawan debat, memiliki pemikiran yang cemerlang, menguasai berbagai disiplin ilmu, hapalannya kuat, dan sangat produktif menulis. Maka pantas ia menjadi mujtahid dalam mazhab Dzahiri dan mengarang kitab dengan nama al-Muhalla. Ibn Hazm mengisahkan, ia mulai belajar fikih di usia menginjak 26 tahun. Ia menghadiri shalat jenazah di masjid dan langsung duduk tanpa melakukan shalat tahiyat masjid. Ada seseorang yang menegurnya, agar ia menjalankan tahiyat masjid terlebih dahulu. Akhirnya Ibn Hazm berdiri dan menjalankan tahiyat masjid. Sepulangnya mengantar jenazah, ia kembali lagi ke masjid. Kebetulan jamaah Ashar telah usai. Ia kemudian berdiri dan akan menjalankan tahiyat masjid. Seseorang menegurnya dan menyuruh ia duduk saja, karena secara fikih, tidak diperbolehkan shalat tahiyat masjid setelah salat Ashar. Ia pulang dan bersedih atas kejadian yang dialami. Ia kemudian bertekad menguasi fikih kepada Abu Abdillah bin Dahun. Gurunya itu pertama kali mengenalkan kitab imam Malik, al-Muwatho’. (Muhammad Adz-Dzahabi, Sair A’lam an-Nubala).
  2. Imam Al-Qoffal. Ia adalah tokoh mazhab Syafi’iyah. Qoffal artinya pembuat kunci. Dirinya memang sejak muda ahli membuat kunci, maka ia dijuluki al-Qoffal. Menginjak usia 30 tahun, ia mulai mendalami ilmu fikih. (Muhammad Adz-Dzahabi, Sair A’lam an-Nubala).
  3. Zakariya Al-Anshari. Seorang ahli fikih yang karyanya menjadi rujukan banyak ulama. Namun siapa sangka, ternyata ia baru belajar fikih saat menginjak usia 26 tahun. Suatu ketika ia berjalan-jalan di pasar dan melihat jubah yang menarik hatinya. Dipakailah jubah tersebut. Tetapi tiba-tiba sang pemilik kios memarahinya. “Copot anak muda,” teriak pemilik kos. “Jubah itu khusus dikenakan oleh syaikh Islam.” Setelah kejadian itu, Syekh Zakariya Al-Anshari bertekad menjadi syekh Islam.
  4. Imam Kisai. Ulama besar ahli nahwu dan qiroah. Ia baru belajar di usia 40 tahun. Ia menghapal lima permasalahan tiap hari.
  5. Izzuddin bin Abdissalam. Ia dijuluki dengan sulthanul ulama (rajanya ulama). Sejak kecil hidup dalam kesulitan ekonomi. Saat keluarga ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi, Izzudin malah memilih menimba ilmu daripada bekerja. Ia tinggal di tempat pengajian. Izzuddin ditugasi menata dan mempersiapkan kesiapan majelis ilmu. Dengan itulah, ia berhak mengikuti pengajian tersebut. Dia juga baru belajar sungguh-sungguh pada usia dewasa. (As-Subuki: At-Thobaqot as-Syafi’iyyah)

Demikian lima ulama masyhur yang menuntut ilmu di usia dewasa. Namun mereka telah  membuktikan, bahwa jika ada kemauan belajar, maka tidak ada yang tidak mungkin. Man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh, dia akan menuai hasil. (Kholilurrohman)

Comments