Kuliah Umum, Ma’had Aly TBS Kupas Tradisi Kritik dan Kritis di Dunia Akademik

0
199
Kuliah Umum Ma’had Aly TBS

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) menggelar kuliah umum (jalsah ula) tahun akademik 1440 H / 1441 H. Jalsah ula dilangsungkan di Aula Pondok Ath – Thullab, Rabu (10/7/2019).

Mudir Ma’had Aly TBS, KH. Dr. Ahmad Faiz Lc. MA., dalam sambutannya, menyampaikan, kuliah umum ini sebagai penanda dimulainya perkualiahan tahun akademik baru.

‘’Ini adalah tahun kedua Ma’had Aly TBS menyelenggarakan kuliah umum, setelah mendapatkan izin operasional (SK) pendirian Ma’had Aly,’’ katanya di depan para mahasantri.

Dr. Moh. Fauzi M.Ag yang didaulat menjadi narasumber kuliah umum pada kesempatan itu mengupas materi berjudul ‘’Membumikan Tradisi Keilmuan As-Salaf Ash-Shalih di Dunia Akademik’’.

‘’Kritik dan berpikir kritis, menunjukkan terjadinya perbedaan pendapat antara satu orang dengan orang lain, yang disertai argumentasi (dalil) yang menguatkan masing-masing pendapatnya,’’ jelasnya.

Dalam catatan sejarah, ungkapnya, budaya kritik sudah dicontohkan oleh as-salaf ash-shalih (generasi terdahulu yang baik). As-Salaf Ash-Shalih di sini merujuk pada generasi Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in.

‘’Sejarah mencatat, para Sahabat telah memberikan masukan yang substansinya merupakan ‘kritik’ terhadap kebijakan yang diambil Rasulullah. Salah satu contohnya, Umar bin Khattab mengritik beberapa Pasal dalam Perjanjian Hudaybiyyah yang menurutnya merugikan kepentingan umat Islam. Mulanya Umar menyampaikan pendapatnya kepada Abu Bakar. Lantaran tidak puas, Umar pun mengritik isi Perjanjian Hudaybiyyah di hadapan Rasulullah,’’ terang Moh. Fauzi.

Dikemukakan oleh sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo itu, bahwa kritik dan perbedaan pendapat juga terjadi di dunia ushul fikih.

Contoh yang popular, adalah kritik Imam Syafi’i terhadap penggunaan metode istihsan yang diagung-agungkan kelompok ulama’ Hanafiah. Kritik itu diungkapkan dengan statement ‘’innama al-istihsan taladzdzudz”.

Demikian pula dengan Imam Ghazali, yang mengritik penggunaan istihsan dengan menisbatkan perkataan Imam Syafi’i: “man istahsana faqad syara’a” (orang yang menggunakan istihsan itu berarti telah membuat syari’at baru).

‘’Belajar dari tradisi kritik dan berbeda pendapat yang dipraktikkan as-salaf ash-shalih¸ maka sivitas akademika Ma’had ‘Aly seyogiyanya membumikan tradisi tersebut di dunia akademik. Sebab, santri Ma’had ‘Aly adalah mahasiswa plus, yakni santri sekaligus mahasiswa,’’ tuturnya. (mail, gie, rid, luh, lam/ adb, ros)

Comments