KH. R. Muhammad Hambali Sumardi, Rujukan Para Pemburu Ijazah

0
888
KH. Raden Muhammad Hambali Sumardi

Mbah Hambali, begitulah masyarakat akrab menyapa beliau. Beliau banyak mengabdikan kehidupannya kepada masyarakat. Berkat perjuangan dan pengabdiannya kepada masyarakat, hingga kini nama beliau selalu terkenang dalam relung hati para santri dan muhibbin-nya. Tindak lampah beliau selalu terselipkan keteladanan luhur.

Nama KH. Hambali cukup terkenal di seantero Kudus. Beliau dikenal oleh para Kiai sebagai shohibul ijazah (meminjam istilah Ust. H. Shofiyyuddin, cucu KH. Hambali) karena beliau memiliki beraneka ragam ijazah dan senantiasa menjadi rujukan oleh masyarakat.

Kelahiran dan Silsilah

KH. R. Muhammad Hambali Sumardi lahir dari pasangan suami-istri R. Sumardi dan Munifah pada tahun 1917 di Dukuh Kerjasan, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Ia adalah putra keempat dari lima bersaudara. Saudaranya (secara berurutan) adalah, Maswan, Khozi’ah, Salamah, Hambali, dan Khudrin.

Ayahnya adalah seorang guru ngaji yang mengajar anak-anak di rumah, beliau juga mempunyai toko kitab yang cukup besar dan diberi nama Muhdi, toko ini terletak di daerah Panjunan (gang 4) dan sampai sekarang masih ada.

Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Masa kecilnya dihabiskan di Desa Kerjasan, kemudian pindah ke Desa Bejen sampai akhir hayatnya. KH. R. Hambali Sumardi bukanlan orang sembarangan, silsilahnya tersambung dengan Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus).

Secara berurutan silsilahnya KH. R. Muhammad Hambali Sumardi adalah sebagai berikut:

Sayyid Abdul Muthallib – Sayyid Abdullah – Sayyidina Muhammad Rasulullah – Sayyidah Fathimah – Sayyid Husain – Sayyid Ali Zainal ‘Abidin – Sayyid Muhammad al-Baqir –Sayyid Ja’far Shodiq – Sayyid Ali al-Uraidhi – Sayyid Muhammad an-Naqib – Sayyid Isa ar-Rumi – Sayyid Ahmad al-Muhajir – Sayyid Ubaidillah – Sayyid Alwi – Sayyid Muhammad – Sayyid Alwi – Sayyid Ali Kholi’ Qasam – Sayyid Muhammad Shohibul Mirbath – Sayyid Alwi (makam di Hadhramaut) – Sayyid Abdul Malik (makam di India) – Sayyid Abdullah Khan (makam di India) – Sayyid Husain Jamaluddin/Syekh Jumadil Kubro (makam di Bugis) – Syekh Maulana Malik Ibrahim (makam di Gresik) – Raja Pendita – Sayyid Ustman Haji (Sunan Ngudung) – Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) – Sayyid Sholih (Panembahan Mekaos Honggo Kusumo; makam di Ngampel, Surabaya) –Sayyid Badrul Budur (Panembahan Kalico/Panembahan Agung; makam di Bangkalan, Madura) – Sayyid Muhammad al-Hadi (Pangeran Sedo Krapyak/Wongso Kusumo) – Pangeran Penyangkringan – Raden Tirto Wijoyo – Raden Tirto Diwongso – Raden Abdul Hadi – Raden Muhammad Sujak – Raden Sumardi – KH. R. Muhammad Hambali Sumardi

Rihlah Ilmiah

Hambali kecil mengawali rihlah ilmiahnya di Madrasah Ma’ahid Krapyak Kudus yang didirikan oleh KH. Abdul Muhith. Setamat dari sana, kira-kira umur 14/15 tahun Hambali remaja melanjutkan rihlahnya dengan mondok di Desa Bareng, Jekulo, Kudus. Kebetulan ia satu gothaan dengan Muhammadun (kelak menjadi pendiri pondok di Pondowan). Saat itu Pondok Bareng masih diasuh oleh KH. Yasin yang terkenal sebagai “Mujiz Dalailul Khairat”.

Setamat mondok di Bareng, Jekulo, Kudus, Hambali remaja pergi ke Malang mengikuti kakaknya, Maswan. Di sana ia menjadi penjaga toko milik kakaknya itu. Tapi seiring berjalannya waktu, muncul keinginan untuk memperdalam keilmuannya dan ia merasa akan lebih bermanfaat jika waktu mudanya digunakan untuk memperdalam keilmuannya. Maka dari itu ia memutuskan untuk mondok di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Tidak berhenti di situ, Hambali masih memperluas keilmuannya dengan mondok di suatu daerah yang ada di Magelang, Jawa Tengah dan Tulungagung, Jawa Timur.

Tatkala Hambali remaja masih menjalani masa-masa mondok, ia sudah terbiasa menjalani laku tirakat. Sejak awal mondok, ia tidak membawa uang saku sedikit pun. Kalau terasa lapar, maka ia akan mencari intip sisa dari temannya. Terkadang ia juga disuruh temannya untuk masak dan nantinya ia akan diberi imbalan.

Amalan rutinnya adalah puasa dalail khairat yang ia dapat ijazahnya dari KH. Yasin Bareng. Selain ilmu syariat yang ia buru, ilmu “kanuragan” juga menjadi incarannya. Ia mendapatkan ilmu kanuragan saat mondok di daerah Celuring, Banyuwangi, Jawa Timur. Jadi Hambali remaja tidak hanya menguasai ilmu syariat saja, tapi juga menguasai ilmu kanuragan untuk pembentengan diri.

Pernikahan dan Keturunan

Setelah sekian lama melakukan rihlah ilmiah, Hambali remaja pun kembali ke kampung halamannya, yaitu Desa Bejen. Kira-kira umur 23/24 tahun Hambali remaja menikah dengan Hasanah. Hasanah adalah putri dari Fadlan dan Asmirah. Ayah Hasanah adalah seorang polisi pada rezim kolonial yang pro rakyat. Konon, hidupnya harus berakhir dengan dihukum mati di depan Menara Kudus. Dari pernikahannya dengan Hasanah ini ia dikaruniai tujuh anak yang terdiri dari tiga perempuan dan empat laki-laki, yaitu (secara berurutan):

  • Hanifah (Bejen); mengajar di Madrasah NU Banat. Bersuami KH. Baihaqi; mengajar di Madrasah NU TBS.
  • Hasan Taufiq (Damaran); pengasuh Ponpes Darun Najah. Beristri Hj. Musthafiyah.
  • Halimah (Bejen); pendiri Ponpes Darur Rahman. Bersuami KH. Abdul Bashir; mengajar di Madrasah NU Banat dan Madrasah Diniyyah Kradenan.
  • Hamdan (Terboyo, Semarang).
  • Hamid Arif (Kudus); mengajar di SMA NU Al-Ma’ruf. Beristri Hj. Zulaifa; mengajar di MIQ TBS.
  • Habibullah (Kudus); pendiri Ponpes Ittihadul Falah. Beristri Rasyidah; mengajar di Pondok Tahfidz Al-Qur’an.
  • Haidaratul Millah (Gondang Manis); mengajar di MIQ Gondang Manis.

Hingga sekarang (tahun 2019), anak beliau yang masih hidup tinggal Ny. Hj. Halimah dan Hj. Haidaratul Millah. Dari ketujuh anak beliau tadi lahirlah cucu-cucu beliau yang berjumlah 25 orang yang tersebar di pelbagai daerah untuk melanjutkan perjuangan beliau.

Perjuangan dan Sumbangsih

Dengan berbekal keilmuan agama yang beliau kumpulkan sewaktu rihlah ilmiah, beliau memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantren_kira-kira pada usia 30 tahun -dengan nama Najahut Tholabah.

Kala itu santri beliau masih sedikit, yaitu sekitar 48 santri yaitu yang terdiri dari 8 perempuan dan 40 laki-laki. Itu pun beliau sendirilah yang membiayai konsumsi para santri, padahal beliau tidak mempunyai pekerjaan.Lantas uang yang beliau pakai untuk membiayai berasal dari mana? waAllahu a’lam.

Keseharian Kiai Hambali bersama para santrinya yaitu, mulai pukul 09.00 pagi beliau mengajak para santri untuk melaksanakan sholat dhuha–saat itu para santri belum ada yang bersekolah, ba’da sholat dhuha mengajar kitab sampai pukul 11.00 siang, sholat dzuhur berjama’ah dan disambung dengan mengajar kitab sampai pukul 02.00 siang, istirahat sampai waktu ashar, sholat ashar berjama’ah dan disambung dengan ngaji kitab sampai pukul 05.00 sore, istirahat sampai waktu maghrib.

Usai  sholat maghrib berjama’ah, kegiatan para santri adalah ngaji sampai waktu isya’, sholat isya’ berjama’ah, istirahat sampai pukul 02.00 dini hari, lantas sholat tahajjud dilanjutkan wiridan sampai waktu shubuh, begitu seterusnya.

Selain menekankan pentingnya belajar ilmu agama kepada para santri, Kiai Hambali juga sangat menekankan memiliki jiwa enterpreneur kepada para santrinya. Buktinya, jikalau ada waktu kosong, maka Kiai Hambali menyuruh para santrinya untuk membuat jam kotak dan kemudian disetorkan ke warung/toko agar bisa menghasilkan uang. Jadi uang tadi adalah milik para santri sendiri bukan diberikan kepada Kiai Hambali.

Santri – santri Kiai Hambali banyak yang menjadi tokoh masyarakat, antara lain H. Ali Mas’adi (mulai kecil disekolahkan KH. Hambali sampai jenjang S1), KH. Shobri (badal utama KH. Hambali. Sekarang melanjutkan perjuangan beliau dan tinggal di daerah Kendil, Pati), mayoritas masyayikh TBS, KH. Thohirin (Mayong, Jepara), KH. Mufadh Syathori, K. Musa (Bojonegoro) dan K. Amin (Lamongan).

Terekam kisah menarik dari santri bernama Shobri ini. Dulu Kiai Hambali sering mengajak santri ini ngaji ke pelbagai tempat mulai dari Kudus sampai ke Pati dan ini dilalui dengan berjalan kaki. Ketika akan diadakan sholat tahajjud, Kiai Hambali menyuruh santri Shobri untuk mem-badal-inya. Sedangkan Kiai Hambali sendiri mencari dan membangunkan para santri yang masih tertidur.

Selain mengurus pondok pesantren, beliau juga menjadi tenaga pengajar di beberapa madrasah. Dalam sepekan, tiga hari beliau mengajar di Madrasah Diniyyah (untuk setingkat mahasiswa) dan tiga hari mengajar di Madrasah TBS (dimulai pada tahun 1980). Kiai Hambali pun ikut andil dalam mendirikan Madrasah Diniyyah di TBS.

Selain konsentrasi mengajar para santri di pondoknya, beliau juga aktif dan giat mengisi pengajian di berbagai majelis dan masjid, di antaranya Majelis Pengajian Muslimat NU Ranting Kajeksan (setiap Jum’at siang), Masjid Bejen, Masjid Nganguk, Masjid Menara (setiap malam Sabtu dan malam Selasa), serta Masjid di daerah Besito (setiap malam Rabu; menuju ke sana dengan naik sepeda ontel).

Selain itu, juga mengajar di masjid di daerah Sunggingan (setiap malam Kamis), Masjid Singopadon (setiap malam Senin),Masjid di daerah Colo, Masjid di daerah Gembang (berada di Pati), dan Masjid di daerah Kendil (berada di Pati). Tiga masjid terakhir tadi ditempuh Mbah Hambali dengan jalan kaki dari Desa Bejen, Desa Colo, desa Gembang, lalu berakhir di Desa Kendil, kemudian sampai di rumah tiga hari kemudian.

KH. Hambali juga ikut merintis berdirinya Majelis Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah di desa Kwanaran bersama KH. M. Arwani Amin dan KH. Maswan (kakak KH. Hambali).

Proses pendirian majelis thariqah ini menghadapi banyak kendala dan tantangan yang berliku-liku. Ada yang menolak, bahkan sampai ada yang mencaci-maki. Namun KH. Hambali beserta koleganya tetap berusaha bersabar menghadapi itu semua.

Seiring berjalannya waktu, warga yang dulu menentang, mau menerima pendirian thariqah di desa Kwanaran, hanya tersisa sekitar satu-dua orang yang masih kukuh menentang. Dan thariqah yang dulunya hanya diikuti sekitar 12-an orang, kini jama’ahnya sudah mencapai ribuan dan berasal dari pelbagai daerah.

Mengenai kapan KH. Hambali pergi menunaikan ibadah haji, tidak ditemukan data yang jelas. Namun menurut penuturan KH. Hamid Arif Hambali, Kiai Hambali di-haji-kan/haji badal oleh H. Anas. Jadi Kiai Hambali tidak pernah ke tanah suci dikarenakan keterbatasan biaya. waAllahu a’lam.

Keteladanan KH. Hambali

Seusai mengajar dan mengisi pengajian di mana-mana, Kiai Hambali menghabiskan rasa letihnya di rumah. Rumah Kiai Hambali hanyalah sebuah rumah gedhek/gubuk kecil. Sebenarnya ada seorang dermawan yang ingin memperbaiki rumahnya, hanya saja beliau menolak. Hal ini menjadi bukti, kalau beliau memang seorang yang zuhud.

Tak hanya itu keteladanan yang beliau tampakkan, beliau senantiasa beristiqamah menjalankan puasa dalail (plus mutih); jika telah usai, beliau memulainya lagi dari awal dan begitu seterusnya. Manakala waktu berbuka tiba, beliau hanya berbuka dengan tiga suap nasi putih, itu pun menggunakan tiga jari dan ditutup dengan segelas air putih. Karakter sregep tirakat ini sudah terbangun dan tertempa sedari beliau mondok.

Membaca al-Qur’an, men-dawam-kan wudhu, sholat tasbih, sholat tahajjud, sholat dhuha pun tidak ketinggalan beliau jalankan dan serasa itu semua menjadi suatu “kewajiban”(jarang sekali ditinggal) bagi beliau. Semua amalan tadi menyebabkan tidak adanya waktu untuk bekerja bagi Kiai Hambali.

Kiai Hambali dikenal dengan “Gudangnya Ijazah” (meminjam istilah KH. Shobri, anak angkat Kiai Hambali), oleh karena banyak orang-orang yang meminta ijazah kepada beliau dan mereka berasal dari daerah/kota yang jauh-jauh. Terkadang dan bahkan anggota TNI dan Polri kerap meminta ijazah/japan-japan kepada beliau untuk macam-macam hajat yang mereka butuhkan.

Dalam setiap pangendikan beliau, paling sering didengar oleh para santri adalah bacaan “alhamdulillah”. Hal ini menunjukkan bahwa Kiai Hambali adalah pribadi yang syukur dan bersahaja.

Keistimewaan Mbah Hambali 

Kiai Hambali juga dikenal mempunyai linuwih atau keistimewaan. Antara lain, tatkala ada tamu yang meminta dalil syar’i (biasanya berkaitan masalah fiqih) kepada Kiai Hambali, maka tak menunggu lama beliau langsung mengambil sebuah kitab. Lalu membukanya, tapi di luar nalar, halaman kitab yang dituju (yang terdapat dalilnya) langsung ketemu dan kejadian ini tidak hanya sekali, melainkan selalu. Pada umumnya, orang normal pasti akan membolak-balik lembar halaman buku terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan halaman yang dituju.

Kesitimewaan lainnya, Kiai Hambali mampu berkontak batin dengan arwah. Masyarakat kerap sowan kepada beliau untuk meminta pituduh dalam kasus pusara seorang wali. Kiai Hambali mampu menguraikan sepak-terjang sang wali, dan bahkan silsilahnya sampai Rasulullah.

Kebanyakan makam-makam wali di Kelurahan Kajeksan tidak luput dari jasa Kiai Hambali, seperti Makam Mbah Sutowijoyo, Makam Mbah Beji, Makam Mbah Wanar, dll. Termasuk juga Petilasan Kaliyetno di Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kudus.

Peran di NU

KH. Hambali sewaktu masih roso/belum terlalu sepuh sering berkecimpung dan aktif dalam forum bahtsul masail, dan selalu menjadi rujukan para peserta bahtsul masail dalam memutuskan jawaban. Ketika didapati dua pihak yang sedang berbeda pendapat, maka shuluh/damainya selalu terdapat di tangan Mbah Hambali. Lantas tatkala sudah semakin sepuh, KH. Hambali ditunjuk menjadi salah satu anggota Syuriah PCNU Kudus.

Wasiat dan Pesan

Sebelum ajal menjemputnya, Mbah Hambali sempat memberikan beberapa petuah kepada santrinya_selain yang telah dipaparkan tadi, di antaranya: “Ora usah coba-cobaan seng penting slamet!” (Tidak perlu coba-coba, yang penting selamat.); “Moco kitab ojo nganggo kitab seng ono maknane.” (Membaca kitab jangan memakai kitab yang ada yang ada maknanya.); “selagine iseh urip, kethoknoho ngajimu.” (Selama masih hidup, tampakkanlah (ilmumu) ketika ngaji.).

Karya – karya

Amal setiap mukmin akan terputus, kecuali tiga perkara yang salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Begitu pula dengan Mbah Hambali. Beliau juga melahirkan karya yang sampai sekarang dikaji dan dipelajari oleh ikhwanul muslimin. Berikut karya-karya beliau beserta keterangannya,

  • Kitab Risalatul Mubarakah; menerangkan tentang seputar thariqah Naqsyabandiyyah Mujaddidiyyah Kholidiyyah dan dilengkapi dengan beberapa amalan.
  • Kitab ad-Durruts Tsamin ‘ala Hidayatil Muhibbin fi Manaqibi Syekh Baha’uddin; menguraikan biografi singkat pendiri thariqah Naqsyabandiyyah Mujaddidiyyah Kholidiyyah, Syekh Baha’uddin an-Naqsyabandiy dan dilengkapi dengan syi’ir-syi’ir.
  • Durarul Muntasyirah; sebenarnya bukan gubahan beliau, melainkan kumpulan hasil bahtsul masail Ponpes Tebuireng yang mendapat tashhih/legitimasi dari beliau.

 

Kembali ke Rahmatullah

Sebagian besar waktu KH. Hambali, beliau gunakan untuk mengabdi kepada Tuhan Pencipta Jagat dan masyarakat. Jerih parah beliau bergelut dengan tenaga dan waktu, akhirnya membuahkan hasil cemerlang. Kini nama beliau selalu terselip dalam bacaan hadlroh para muhibbin-nya. Dan atas jasa beliau kepada masyarakat, Muslimat NU Ranting Kajeksan setiap tanggal 23 Sya’ban mengadakan Haul untuk mengenang jasa-jasanya.

KH. R. Muhammad Hambali Sumardi menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa Wage tanggal 22 April 1986 M./13 Sya’ban 1406 H.(dalam sumber lain; Rabu Kliwon tanggal 23 April 1986 M./14 Sya’ban 1406 H.).

Sebelum wafat, badan beliau terasa lemas dan terbujur di ranjang hingga lima hari. Di hari kelimanya, dengan dikitari oleh putra-putri, KH. Hambali berkata, “Muga-muga anak-putuku iso nerusno perjuanganku.”(semoga anak-cucuku bisa meneruskan perjuanganku). Lantas KH. Hambali membaca “astaghfirullahal adzim” tiga kali sebelum akhirnya tertidur untuk selamanya. Mulanya putra-putri beliau menyangka kalau KH. Hambali tertidur. Namun akhirnya mereka tersadar bahwa KH. Hambali telah tiada dan berpulang ke rahmatullah.

Pusara KH. R. Muhammad Hambali Sumardi terletak di Pemakaman Sedio Luhur Krapyak, tepatnya sebelah barat pemakaman. Pusara beliau diapit oleh beberapa pusara, yaitu (dari arah utara): Asmirah, Hambali Sumardi, Hasan Taufiq, Hasanah, dan Fadlan.

Sumber Data:

  • Wawancara dengan Ny. Hj. Halimah, putri ketiga Mbah Hambali Sumardi, pada 8 Februari 2019, 10 Februari 2019, dan 3 Maret 2019 di PP. Darur Rahman.
  • Wawancara dengan KH. Shobri, anak angkat Mbah Hambali Sumardi, pada 10 Februari 2019 di Pati.
  • Wawancara dengan Ust. H. Shofiyyuddin, cucu Mbah Hambali Sumardi dari KH. Hasan Taufiq, pada 18 Februari 2019 di MI NU TBS.
  • Buku “Sejarah Ulama’ Nusantara, Menelusuri Hikmah dan Hikayat Tokoh Islam Kudus” jilid 1A karya Mc. Mifrohul Hana, Zaenal Arifin, dan Lailatus Sa’diyyah.

Ahmad Wildan Badarulcham,

Penulis adalah warga RT 2 RW II Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Saat ini penulis tercatat sebagai murid MA. NU. Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan santri Ma’had Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an (MUS-YQ).

Comments