Kemauan Berubah

0
1310

Oleh: M. Rikza Chamami

Ramadan memberikan peluang yang sangat besar untuk mengubah jati diri manusia. Dalam hal akhlak, jati diri manusia akan bisa lebih baik sebab Ramadan melatih nilai kejujuran.

Ibadah puasa yang sehari-hari dijalankan, memiliki potensi dalam mendarmabaktikan kejujuran pada Allah. Oleh sebab itu, nilai pahala puasa yang berlipatganda hanya menjadi otoritas Allah. Tidak ada satu pun manusia yang tahu pahalanya.

Sejenak perlu merenung hadits dari Sahabat Ibnu Mas’ud yang tertulis dalam Kitab Bulughul Maram. Rasulullah Saw bersabda:

 

عَلَيْكُم بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ، وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابً

 

“Hendaklah kalian selalu melakukan kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Jika seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicataat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Jauhkanlah diri kalian dari dusta, karena dusta akan membimbing kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan membimbing ke neraka. Jika seorang hamba selalu berdusta dan membiasakan berbuat dusta hingga Allah mencatatnya sebagai pendusta.”

 

Hakikat kejujuran adalah dari usaha manusia menyatakan kondisi apa adanya–tanpa harus berdusta. Nilai kejujuran ada pada pesan hidupnya untuk menyebutkan bahwa kondisi nyata dengan tidak mengada-ada. Sebab dusta adalah awal dari kehancuran.

Maka salah satu pesan Ibnu Hazim kepada Sulaiman yang dilukiskan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin adalah: “Datanglah dirimu kepada kitab Allah yang mempunyai pesan bahwa sesungguhnya orang-orang yang baik berada dalam kesenangan. Dan orang yang jahat berada di neraka”.

Ini menunjukkan bahwa posisi orang yang benar akan hidup tenang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, orang yang jahat dan berdusta akan terasa tidak nyaman sejak di dunia dan di akhiratnya menjadi penghuni neraka.

Wajar sekali dalam menggambarkan manusia yang baik ini, Syaikh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nashaihul Ibad mengutip hadits Nabi: “Orang yang paling aku cintai diantara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang mudah disuruh, yang jinak dan mudah dijinakkan”.

Ramadan menjadi bulan yang tepat dalam melakukan usaha merubah diri menjadi lebih baik. Kemauan positif itu akan tetap terwujud baik manakala ada usaha yang sungguh-sungguh dengan penuh keihlasan.

Sebab orang yang baik budi pekertinya dengan kejujuran akan selalu senang dan membuat rasa nyaman bagi orang sekelilingnya. Sedangkan orang yang selalu berdusta akan membuat orang di sekitarnya merasa terteror bahaya. (*)

Rikza Chamami,

Penulis adalah pengurus PW. GP. Ansor Jawa Tengah

 

Comments