Kata Gus Kautsar Warga NU Harus Kaya, Begini Penjelasannya

0
1661
Gus Kautsar menyampaikan tauisyah

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Dai kondang asal Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur, KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar (Gus Kautsar) mengatakan, warga NU harus kaya agar tambah kemanfaatan.

Hal itu disampaikan dalam acara Khatmil Qur’an dan Ngaos Bareng Gus Kautsar di Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarakah Dukuh Tempel, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, Jumat (2/6/2023) malam lalu.

Gus Kautsar sepakat pemaknaan zuhud bukan berarti tidak punya harta, malah justru harus kaya. “Syekh Hasan Al Basri, Syekh Sufyan Ats Tsauri, dan Imam Abul Mawahib Abdul Wahab Asy Sya’roni ketika ditanya tentang zuhud adalah thalabu at-takatsur, yakni bekerja semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya dengan cara yang benar, sehingga mendapatkan hasil yang halal dan benar,” katanya.

Dia pun mengemukakan, kenapa Simbah KH Hasyim Asy’ari menjadi pimpinan pertama, Rais Akbar organisasi NU? Karena KH Hasyim Asy’ari “paket lengkap”: alim, berani, dan kaya. Maka sebagai santrinya, (kita) mesti berusaha agar meneladaninya.

Ditambahkannya, kayanya santri itu mampu memantaskan keluarganya. Setidaknya keluarganya tidak nelangsa. Misalnya mampu memasukkan anak ke pondok pesantren, umrah, dan haji itu sudah bisa dikatakan kaya. “Super kaya ketika ada keluarga tetangga yang membutuhkan kemudian mengulurkan tangan. Ada orang butuh kita bisa menolong,” ujarnya.

Dijelaskan, semua hafal dalil khairunnas anfauhum linnas, orang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat kepada yang lain. Namun manfaat yang bagaimana? Ada beberapa, menurutnya. Pertama, dengan mal (harta), cara kita bermanfaat bagi orang lain adalah dengan menyumbangkan harta.

Dikisahkan, Rasulullah itu kaya. Ketika dahulu ada Sahabat yang mempunyai hutang datang kepada Nabi, kemudian dilunasi Nabi. “Kanjeng Nabi menyiapkan keluarganya di ujung wafatnya biaya hidup setahun penuh,” terangnya.

Sekarang ini, terang Gus Kautsar, jika ada kiai yang dicurhati tetangganya tidak bisa membiayai sekolah, bagaimana jawabannya? Yaitu “hanya didoakan”. “Ini kiai umatnya siapa, Kanjeng Nabi tidak seperti itu,” tegasnya.

Dirinya melanjutkan, ketika awal masa Nabi hijrah dari Mekah ke Madinah, ekonomi Nabi belum mapan (kuat). Kalau Sahabatnya ada yang meninggal dunia, Nabi bertanya, “Sahabat ini mempunyai hutang atau tidak?” “Kalau mempunyai hutang, shalatkanlah.”

“Ketika Kanjeng Nabi secara ekonomi sudah mulai meningkat, jika ada Sahabat Nabi yang meninggal, Nabi langsung pidato, pidatonya berbeda: (Sahabat) ini jika punya utang, tanggunganku. Jika punya warisan serahkan anak-anaknya atau serahkan istrinya,” tuturnya.

Persoalannya, ungkap Gus Kautsar, kiai sekarang saat memberangkatkan jenazah berkata: Para hadirin yang bertakziah, bila jenazah memiliki tanggungan silakan hubungi keluarga. Bukannya menanggungnya. “Kanjeng Nabi tidak seperti itu, bisa dilihat di Bukhari – Muslim,” bebernya.

Dikatakan, yang membuat kita beda dengan para masyayikh, guru, dan ahli ilmu adalah walau hartanya banyak mereka tidak pernah eman, pelit. “Al ulama waratsatul anbiya,” tuturnya.

Kedua, bijahi (pangkat atau keagungan). Pesan Nabi, dengan pangkat bisa menjadikan kita lebih bermanfaat. “Saya sering dibuli, karena saya ‘memaksa’ agar ada santri yang mewakili di dewan, (jadi) bupati, walikota, gubernur, sampai presiden,” terangnya.

Para santriyah peserta khatmil qur’an

Menurutnya, setidaknya santri masih salat. “Siapa tahu dengan salatnya, bisa mengarahkan dia di momentum-momentum tertentu untuk kepentingan umat,” harapnya dalam acara yang dihadiri KH Nurrohman (pengasuh Pesantren Nurul Hidayah Al Mubarakah), jajaran pengurus PCNU Boyolali beserta Badan Otonom (Banom), wali santri dan ribuan jamaah itu. (siswanto ar/ adb, ros, rid)

Comments