Hidupkan Tradisi, Fatayat NU Jateng Kaji Kitab “Mambaus Sa’adah”

0
137

 

Hj Hindun Anisah mengkaji kitab Mambaus Sa’adah yang diselenggarakan PW Fatayat NU Jateng

SEMARANG,Suaranahdliyin.com – PW Fatayat NU Jawa Tengah melaksanakan kajian kitab Mambaus Sa’adah (Telaga Kebahagiaan untuk Relasi Pernikahan) karya KH. Faqihudin Abdul Kodir yang berlangsung di Kantor PWNU Jateng, Jl. Dr. Cipto No.180 Semarang, Jumat (7/12) siang.

Kegiatan Pengajian yang rencananya jadi kegiatan bulanan ini menghadirkan Hj. Hindun Anisah, Pengasuh Pesantren Hasyim Asyari Jepara. Sebagai penanda dimulainya ngaji diawali dengan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada Hj. Hindun Anisah dan KH Munif Abdullah.

Ketua PW Fatayat NU Jawa Tengah, Takziyatul Mutmainnah mengatakan acara ngaji kitab itu merupakan perwujudan dari “mimpi” yang sudah lama diwujudkan.

“Dengan kegiatan ini selain untuk mengasah intelektual di sisi yang lain juga ingin menghidupkan tradisi “ngesahi” kitab,” katanya.

Setelah melalui proses panjang akhirnya pihak pengurus memutuskan untuk membahas kitab karya Kiai Faqihuddin tersebut.

Dijelaskannya harapan dari kegiatan tersebut utamanya saat bicara agama, warga NU punya landasan yang kuat, sanad yang jelas, guru yang ahli dan tidak hanya kopas dari Mbah Google.

KH Munif Abdullah, Pengurus PWNU Jawa Tengah yang didaulat membuka kegiatan rutinan itu mengemukakan ngaji berarti mencari sesuatu yang aji agar menjadi orang yang dipuji.

Dengan ngaji bareng tandasnya adalah wasilah untuk membuka pintu surga.

“Dengan ngaji ada sesuatu yang awalnya kita tidak mengetahui akan jadi tahu, sesuatu yang belum kita kenal jadi kenal, dan sesuatu yang awalnya belum benar akan jadi benar,” tandasnya.

Di akhir kata sambutannya Kiai Munif berharap pengajian bulanan itu bisa istiqamah. Karena sambungnya al istiqamah khairun min alfi karamah.

Suasana Kajian Kitab PW Fatayat NU Jateng Jum’at kemarin

Sementara itu, Hj. Hindun Anisah dalam paparan ngajinya menyatakan dalam mukadimah kitab tersebut membahas sejarah NU dalam memberdayakan dan memandang perempuan.

“Dalam sejarahnya NU telah mengangkat hak-hak perempuan. Misalnya saat KH Bisri Syamsuri membangun pesantren khusus perempuan tahun 920. Dan pada tahun 1997 di Lombok dikeluarkan keputusan Munas Alim Ulama tentang Makanatil Mar’ah Fil Islam (posisi perempuan dalam Islam) yang intinya membahas dasar-dasar umum muamalah yang baik dengan menisbatkan perempuan sampai tercapainya keadilan dan kesetaraan,” lanjutnya.

Sehingga menurut istri KH Nuruddin Amin itu kemaslahatan umat bisa diawali dari keluarga. Kitab Mambaus Saadah sambungnya juga memberikan tema-tema yang menjadi perhatian.

Kitab tersebut lanjutnya mengajak untuk mengetahui pentingnya sehat jasmani dalam membangun keluarga, dan pentingnya meletakkan dasar dalam membangun relasi keluarga yang baik dan kuat. (ip/adb)

Comments