Dialog Interaktif Ansor Jekulo Bersama Kapolres dan RMI Kudus

0
420
Dialog interaktif dalam rangka pelantikan Ansor Jekulo, Sabtu (05/01/19)

KUDUS, Suaranahdliyin.com – GP Ansor diharapkan bisa memperkuat organisasinya dengan kerjasama dan inovasi di setiap lini. Kendati begitu GP Ansor tetap harus jeli melihat potensi agar segala persoalan bisa teratasi. Hal itu mengemuka dalam Dialog Interaktif dalam rangka pelantikan pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Jekulo di Gedung JHK Jekulo, Sabtu (05/01/19).

Hadir sebagai pemateri diskusi Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Kudus, KH. Muhammad Afif dan Kapolres Kudus yang diwakili oleh Ipda Subhan, S.H.. Tampak hadir pula Muspika Kecamatan Jekulo, Kapolsek Jekulo, Kepala Desa se-Kecamatan Jekulo, PC GP Ansor Kabupaten Kudus, MWC NU Kecamatan Jekulo dan seluruh Banom NU se-Kecamatan Jekulo.

Ketua GP. Ansor Kecamatan Jekulo, Abu Hasan, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya penguatan internal pengurus Ansor selama satu periode kepengurusan. Menurutnya hal itu penting untuk mengaktifkan gerakan roda organisasi. “Dengan pengurus organisasi yang kuat, diharapkan gerakan-gerakan sosial yang dilakukan dapat terwujud lebih berkelanjutan,” katanya.

Selain itu, lanjut Hasan, GP. Ansor ke depan perlu meningkatkan kerja sama, baik itu dengan NU dan Banomnya maupun dengan Instansi dan organisasi lain. “Kerjasama itu utamanya pada kemandirian ekonomi sebagai salah satu solusi untuk kemajuan organisasi,” imbuh Abu Hasan.

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Kudus, KH. Muhammad Afif menyampaikan GP Ansor memiliki tiga potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk menata kehidupan sosial dan masyarakat, khususnya di Jekulo dan sekitarnya. “Kehidupan umat yang heterogen ini harus dirawat dengan baik dengan potensi yang ada,” tuturnya.

Kiai Afif melanjutkan, tiga potensi itu diantaranya, pertama, potensi basis massa. Potensi ini dapat dilihat dari kuantitas warga nahdliyin sehingga menjadi organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia. Kedua, potensi basis kiai muda. Rijalul Ansor merupakan wadah bagi para kiai muda NU yang bisa menjadi senjata istimewa dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Ketiga, potensi basis tradisi. Menurutnya, nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para ulama’ perihal ibadah dan muamalah juga merupakan potensi yang jangan sampai dilupakan.

“Dengan itu GP Ansor bisa menjadi benteng dalam menghadapi degradasi aqidah dan degradasi  akhlaq. GP Ansor harus bisa jadi organisasi yang tidak hanya besar secara kuantitas, tapi juga besar secara kualitas,” pesannya.

Sementara, Kapolres Kudus yang diwakili oleh Ipda Subhan, SH menuturkan GP Ansor harus bisa menjadi bagian dari umat yang terpilih sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an. Menurutnya umat terpilih adalah umat yang dilahirkan untuk menyerukan amar ma’ruf bil ma’ruf dan nahi munkar bil ma’ruf.

“Dengan seperti itu besar harapannya agar syi’ar Islam dapat berjalan secara maksimal yang dibarengi dengan suatu pengaruh kebaikan di lingkungannya,” terangnya.

GP Ansor, lanjut Ipda Subhan, perlu menambah peran di masyarakat dengan melihat gejala-gejala sosial yang ada lalu mengatasinya dengan cara-cara yang ma’ruf. Inovasi GP Ansor perlu dilakukan melalui penerapan budaya santri dalam lingkungan kerja di instansi masing-masing. “Budaya santri yang dimiliki harus dilaksanakan dimana saja, termasuk pada saat kerja,” paparnya.

Dalam dialog interaktif yang dimoderatori oleh Muhtadhor itu, Ipda Subhan meminta agar GP Ansor tetap istiqomah dan konsisten dalam menjalankan amanah organisasi. Ia juga meminta agar GP Ansor bisa memperbanyak kegiatan  sosial yang beraneka ragam di masyarakat serta mengadakan kajian Aswaja yang mengawal isu aktual untuk kemudian disebarluaskan. (gie/adb, rid)

Comments