Buletin Suara Nahdliyin Edisi Ke 6

0
423

Download Buletin Suara Nahdliyin Edisi Ke 6


“Ampun bosen, nggeh.” Demikian pesan salah satu kiai asal Kabupaten Pati berpesan kepada awak redaksi Suara Nahdliyin. Sebuah pesan yang disampaikannya, lantaran merasakan betul bagaimana beratnya melakukan aktvitas menulis dan menjaga konsistensi dalam menerbitkan Suara Nahdliyin.

Pesan itu pun senantasa diingat oleh para punggawa Suara Nahdliyin, yang memang telah berkomitmen untuk ‘khidmah’ kepada Nahdlatul Ulama (NU), bangsa dan masyarakat luas melalui dunia literasi.

Dan apa yang disampaikan pesan sang kiai itu, memang benar adanya. Betapa menjaga konsistensi itu memang sebuah perjuangan yang teramat berat. Namun api komitmen itu senantasa dijaga oleh Suara Nahdliyin, agar nyalanya tak pernah padam.

Kendati dengan tertatih karena dua awak redaksi sibuk dengan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) di luar kota, dan lainnya juga memiliki kesibukan masing-masing yang luar biasa. Sehingga kemoloran terbitnya Suara Nahdliyin tak dapat dihindari.

Awak redaksi Suara Nahdliyin mohon maaf kepada pembaca atas keterlambatan itu, dan sejak edisi depan, akan berusaha mengembalikan ritme penerbitan sesuai biasanya; bulanan, bukan terbit dua bulan sekali.

Salah satu tantangan media cetak, terlebih media komunitas, adalah menjaga ritme penerbitan itu sendiri. Sebabnya, media cetak itu sangat dibatasi dengan waktu. Dan itu sangat disadari oleh Suara Nahdliyin.

Selanjutnya adalah persoalan iklan. Ada beberapa pembaca yang merasa ‘kurang nyaman’ kepada Suara Nahdliyin lantaran memuat iklan politik. Perlu kami sampaikan kepada pembaca -yang mungkin saja lupa- bahwa konten dari sebuah media bukanlah berita saja.

Ada konten-konten lain diluar berita, seperti opini (artikel), kolom publik seperti tanya jawab, dan juga iklan. Bagi sebuah media, menerima iklan bukan sebuah kesalahan, asal ‘tidak menyalahi aturan’.

Akhirnya, berbagai hal di atas bukanlah sebuah upaya membangun sebuah argumentasi terkait mengapa Suara Nahdliyin terbit terlambat, dan mengapa Suara Nahdliyin mau menerima iklan politik. Melainkan agar masing-masing saling memahami.

Maturnuwun disampaikan kepada semua pihak atas dukungannya selama ini. Semoga Allah SWT. meridloi aktvitas dan niat baik kita semua, dan memberikan pertolongan untuk meraih yang terbaik dalam segala hal. Wallahu a’lam. (*)

Comments