Berjiwa Ala Gus Dur

0
576

(Mengenang Sewindu Kepergian Gus Dur)

Oleh: M. Faizul Kamal

M. Faizul Kamal (paling kanan) bersama dua rekannya santri TBS foto bareng budayawan Prie GS saat bersilaturahmi di kediaman sang budayawan tersebut di Semarang

Abdurrahman Addakhil, dalam perjalanannya lebih dikenal dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Addakhil, sang penakluk, sang pendobrak. Begitulah pada akhirnya, sejarah mencatat nama itu terwujud dalam perangai dan perwatakan Gus Dur. Tak perlu jari kita bersusah menghitung berapa banyak jasa-jasa Gus Dur bagi Indonesia, bahkan dunia.

Gus Dur, sosok yang banyak dikagumi. Namun banyak pula yang menggunjingnya. Sikapnya yang kontroversial, membuat dirinya sering mendapat nyinyiran dari masyarakat. Namun lepas dari hal tersebut, Gus Dur merupakan pemikir Islam genius asli Indonesia.

Perspektifnya, jauh di luar nalar banyak orang. Ada yang menganggapnya sebagai wali, pemilik ilmu laduni, dan beberapa julukan lainnya yang membuat reputasi Gus Dur kian dikenal masyarakat.

Kita mungkin pernah mendengar ungkapan Gus Dur yang sangat familiar, “gitu aja kok repot”. Banyak interpretasi orang ketika mendengar ungkapan Gus Dur tersebut. Ada yang mengartikan sebagai sebuah keputusasaan dan pemikiran paling pragmatis seorang Gus Dur.

Namun, jika kita mau menganalisa dan memaknainya lebih dalam pernyataan ‘khas’ Gus Dur tersebut, tidak menutup kemungkinan, makna dan perspektif muncul berbeda satu sama lain.

Penulis melihat, ungkapan Gus Dur itu sebagai ungkapan yang membangun sentiment seseorang, agar percaya dengan sebuah ide atau gagasan yang sedang diutarakan. Dalam hal ini, Gus Dur sebagai ‘pelakunya’. Juga bisa diartikan sebagai optimisme dalam bersikap.

Dan apabila seseorang memaknainya tanpa mencoba memahami lebih dalam makna dari ungkapan itu, bisa juga juga akan melihatnya secara sinis. Ingatkah kita dengan kritik Akbar Tanjung terhadap Gus Dur?

“Gus Dur seharusnya tidak melaksanakan cita-cita separatisme mereka. Hal ini bukanlah apa yang kita harapkan dari seorang Presiden. Ia seharusnya mendorong persatuan dan pembangunan,” kata Akbar Tanjung yang bisa kita simak dalam buku Biografi Gus Dur (2004: 447) saat mengomentari cara pandang Presiden Gus Dur terhadap krisis di Irian Jaya.

Kritikan Akbar Tanjung itu, merupakan salah satu bukti, bahwa semasa hidupnya, pemikiran Gus Dur sangat kontroversial dan terdengar tidak masuk akal. Dalam catatan sejarah, saat itu, Presiden RI ke-4 memiliki rencana untuk Irian Jaya. Seperti mengganti nama Irian Jaya yang sangat kental nuansa orde baru dengan nama Papua, sampai ucapan tentang Simbol Bintang Kejora sebagai lambang kultural dan bukan ancaman.

Beragam kritikan yang dilayangkan kepadanya, Gus Dur menanggapinya dengan ‘santai’. Gitu aja kok repot. Ungkapan tersebut biasa diutarakan di akhir pembicaraan.

Pemikiran dan sifat Gus Dur, terbentuk oleh dunia akademis panjang, utamanya pendidikan pesantren dan melalui buku-buku yang dibacanya. Beragam literatur dan pergaulannya yang sangat luas, mengantarkannya sebagai sosok yang religius sekaligus genius, lengkap dengan sikap kemanusiaannya yang demikian kental melekat dalam dirinya.

Ia seorang kiai, kolumnis, politisi, aktivis, dan pemikir dunia Islam. Seseorang bisa melihatnya sebagai cucu kiai besar pendiri NU: KH. Hasyim Asy’ari. Ia bisa dipandang sebagai aktivis HAM, juga bisa dilihat sebagai pejuang demokrasi.

Tetapi yang pasti, Gus Dur adalah manusia ‘langka’ yang pernah dimiliki bangsa ini. Ungkapan gitu aja kok repot yang senantiasa dilontarkannya, seakan masih terus terngiang sampai kini.

Dan sebagai orang yang ‘mengaku’ gandrung (cinta) dengan Gus Dur, sudah sepatutnya kita berjiwa ala Gus Dur, dengan mengambil nilai-nilai positif dan teladan dari pemikiran-pemikiran dan sikapnya.

Akhirnya, benar apa yang pernah disampaikan KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) pada peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur. Bahwa penerus Gus Dur (mesti) dapat meniru Gus Dur dari sudut pandang yang dipahaminya. Gus Dur dapat diteladani dari kesederhanaannya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinnya yang sangat tinggi dalam menegakkan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur, semampunya. Alfatihah!

Faizul Kamal,

Penulis adalah santri pada Madrasah Aliyah (MA) Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus

Comments