Banyak Materi Berharga untuk Diteliti di Indonesia

0
178

PATI, Suaranahdliyin.com – Jurnal Islamic Review (JIE) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati menggelar seminar “Membangun Budaya Literasi: Strategi Menulis dan Mengelola Jurnal Ilmiah” pada Jumat (10/11/2017).

Seminar yang digelar bertepatan momentum Hari Pahlawan, itu menghadirkan Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Walisongo Semarang, Syamsul Ma’arif dan Editor In Chief JIE IPMAFA dan A. Zaenurrosyid sebagai narasumber. Acara dimoderatori M. Sofyan Alnashr, dosen IPMAFA.

“Budaya literasi kampus di Indonesia masih sangat rendah, kalah jauh dari kampus-kampus Eropa, bahkan dengan negara tetangga pun tertinggal,’’ ungkapnya prihatin.

Rendahnya budaya literasi itu, menurutnya, mengakibatkan budaya menulis dan meneliti juga rendah, sehingga kualitas pendidikan tidak dapat berkembang. ‘’Mahasiswa dan dosen, kini lebih aktif menulis di sosial media ketimbang menulis ilmiah,’’ katanya.

Dia mengatakan, rendahnya budaya literasi itu harus segera diatasi. Salah satunya melalui seminar dan workshop semacam ini, untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan akademisi dan generasi bangsa secara lebih luas.

Syamsul Maarif, menyampaikan, regulasi saat ini memaksa akademisi untuk menulis di jurnal baik yang tingkat nasional maupun internasional. “Agar bisa menulis dengan baik, harus menjadi pembaca yang baik. Salah satunya dengan membaca tulisan orang-orang hebat yang relevan dengan bidangnya,” jelasnya.

Untuk membangun budaya baca, dosen UIN Walisongo itu memberikan tips, antara lain dengan mendekatkan diri pada perpustakaan. “Banyak materi di Indonesia yang sangat berharga, sehingga tidak mengherankan banyak peneliti luar negeri berebut melakukan penelitian. Sementara orang Indonesia justru mengabaikan dan kurang menyadari,’’ sesalnya.

Dia pun mengingatkan, agar tulisan yang dihasilkan memiliki nilai lebih, maka peneliti bisa mengambil titik yang berbeda. “Research position sangat penting, agar tulisan tidak sekadar mengikuti ide orang lain, tetapi memiliki nilai khas sendiri,” tuturnya. (fuaidi/ qiem, ros)

Comments