Banjir dan Persaudaraan dalam Kemanusiaan

0
330
Potret salah satu titik banjir yang terjadi di Kabupaten Kudus, kemarin

Banjir. Musibah ini melanda berbagai desa di Kabupaten Kudus, lebih dari sepekan lalu. Ribuan warga terdampak. Mengungsi sementara. Hingga banjir surut, dan mereka bisa kembali lagi ke kediaman masing-masing seperti sedia kala.

Namun apakah persoalan selesai, setelah banjir surut dan warga yang mengungsi kembali lagi ke rumah?

Satu persoalan selesai sementara waktu, iya: tak lagi mengungsi. Akan tetapi, tentu belum selesai seratus persen.

Pertama, capek pikiran dan fisik sudah di depan mata, karena mereka harus membersihkan rumah dari sampah-sampah dan lainnya akibat banjir. Belum lagi jika ada kerusakan, maka harus siap anggaran untuk perbaikan.

Kedua, mencari data-data administrasi negara yang penting, jika ada yang tidak sempat diselamatkan sebelum pergi ke pengungsian.

Itu masih belum seberapa. Lantaran di beberapa desa, banjir sudah seperti langganan setiap tahun. Artinya, rasa capek karena banjir ini menjadi pengulangan-pengulangan yang tak tahu, kapan ujung – akhirnya.

Dan mungkin hanya satu yang menjadikan warga yang selalu terdampak banjir ini untuk selali bertahan: bahwa masih ada saudara-saudaranya yang selalu peduli jika mereka menghadapi musibah itu.

Kepedulian sudara-saudara sesama manusia, kendati terkadang tak seiman (meminjam istilah para cerdik – cendekia) itulah, yang menjadikan para warga yang selalu saja “bertemu banjir” hampir setiap musim penghujan, masih optimistis menatap kehidupan.

Optimisme itu, tentu harus selalu ditumbuhkan. Tetapi bahwa itu saja tidaklah cukup. Karena akar dari persoalan yang menjadikan banjir selalu melanda, itu harus dicarikan solusi, agar di masa-masa mendatang, dampaknya akan berkurang, syukur banjir itu tak lagi datang melanda. Wallahu a’lam. (Rosidi)

Comments