Antara Berzanjenan dan Jaburan

0
163
Anak-anak dan para remaja tengah mengikuti berzanjenan di ‘Masjid’ Rodudlatul Jannah Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, Rabu (13/10/2021) malam

KUMANDANG shalawat Nabi bergema di musala-musala dan masjid-masjid di kampung-kampung. Tak sedikit pula, kumandang shalawat itu digelar oleh jamiyyah-jamiyyah, baik oleh kalangan remaja maupun yang sudah dewasa.

Ya, saat Rabi’ul Awwal (penanggalan Hijriyah) yang oleh orang Jawa dikenal dengan “Mulud” yang kemudian melahirkan tradisi “Muludan”, ini memang salah satu bulan yang sangat istimewa. Bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad, sehingga umat Islam pun memperbanyak membaca shalawat pada momentum ini.

Ada dua hal yang cukup menarik dalam tradisi “Muludan” yang diisi masyarakat dengan Berzanjenan”, baik di musala-musala maupun masjid – masjid di kampung. Berzanjenan menjadi tradisi yang unik nan semarak.

Berzanjenan ini diikuti oleh tidak hanya orang dewasa, tetapi bahkan anak-anak pun ikut terlibat dalam berzanjenan yang digelar sekurang-kurangnya 12 hari. Bahkan ada musala-musala atau masjid yang menggelar berzanjenan sampai sebulan penuh.

Menarik, karena tradisi berzanjenan ini menjadi ruang mengumandangkan puji-pujian (membaca shalawat) kepada Baginda Nabi Muhammad secara massal. Di banyak tempat, juga dilengkapi dengan terbang hadrah, sehingga berzanjenan menjadi kian semarak.

Namun tradisi berzanjenan setiap Muludan, ini tidak hanya soal membaca shalawat saja. Tetapi juga kemudian memunculkan semangat bersedekah yang dikemas dalam “jaburan”, yakni seseorang memberikan penganan ala kadarnya bagi mereka yang mengikuti berzanjenan di musala-musala atau masjid, untuk dinikmati bersama usai berzanjenan.

Dengan demikian, berzanjenan merupakan tradisi baik yang mestinya diuri-uri. Sebab, melalui tradisi ini, seseorang semakin memperbanyak membaca shalawat di satu sisi, dan juga mengajari bersedekah satu sama lain melalui pemberian penganan atau jaburan. Wallahu a’lam. (red)

Comments